VILLA

VILLA
BAB 7


__ADS_3

Sesampainya di kantin.


“Loe kenapa, Sil?” tanya Bella heran.


“Si Rendi sama si Radit kemana, Bell?” tanya Silvi heran.


“Dia udah cabut, Sil. Katanya males belajar" papar David.


“Emang kenapa, Sil. Kayaknya cemas banget?"


“Gak kenapa-napa kok, Bell" ujar Silvi. Silvi langsung pergi meninggalkan Bella dan David dengan penuh keresahan.


“Si Silvi kenapa sih, Vid. Sekarang jadi aneh gitu?”


“Gue juga gak tahu, Bell, mungkin dia lagi ada masalah kali" papar David.


“Tapi, loe ngerasa ada yang aneh gak sama dia, Vid?”


“Ngerasa sih, tapi biarlah mungkin cuma perasaan gue aja” ujar David tanpa ada rasa curiga.


***


Malam pun tiba.


Malam itu Silvi memutuskan untuk pergi kerumah Radit. Setelah melalui perjalanan yang lumayan melelahkan. Silvi pun sampai di kediaman Radit.


“Gue kira siapa, Masuk, Sil"


“Rumah loe sepi juga, Dit?” tanya Silvi heran.


"Yaudah masuk aja!"


Sesampainya di ruang tamu, Silvi langsung membahas tujuannya dia datang bertamu, karena saat itu dia merasa begitu cemas.


“Oh ya, Dit. Gue cuma mau nanya, waktu di villa, kenapa loe bisa pingsan?"


“Gue juga gak tahu, Sil. Kenapa bisa gitu, waktu itu tubuh gue serasa terbakar, kepala gue juga sakit banget kayak di tusuk-tusuk sama paku” tegas Radit heran.


“Jangan-jangan ini akibat ritual itu, Dit”


“Loe jangan nakut-nakutin gue, Sil"

__ADS_1


“Habis gue bingung aja, gue mau tanya, selama ini loe punya penyakit dalam gak?” tanya Silvi resah.


“Gak punya, Sil. Memang kenapa?”


“Tuh kan, aneh banget. Loe kan, gak punya penyakit dalam, tiba-tiba hidung loe keluar darah, kan mustahil banget kalau secara medis”


“Gue juga ngerti, Sil. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, perkataan loe mungkin bener, Sil" ujar Radit.


“Kayaknya kita memang benar-benar udah melakukan sesuatu yang salah, Dit" tegas Silvi. Di saat mereka sedang berbincang-bincang dengan seriusnya. Tiba-tiba terdengar suara pecahan piring dan gelas yang berjatuhan kelantai.


“Loe tinggal di sini sama siapa, Dit”


“Gue disini cuma sendiri aja, Sil. Yang lainnya lagi ke Bogor"


“Terus, itu suara siapa?”


“Gue juga gak tahu, Sil. Mungkin tikus"


“Waktu di villa, gue juga sama Dit, dengar pecahan piring, jangan-jangan benar, keanehan ini akibat ritual itu”


“Jangan berpendapat yang aneh-aneh dulu, Sil"


“Tapi, Dit. Semenjak kita memulai ritual itu, hari-hari gue benar-benar jadi gelisah banget, gue takut"


"Gimana, Dit. Apa yang pecah?"


“Gak tahu, Sil. Piring sama gelas juga masih utuh semua" ujar Radit heran. Tiba-tiba Radit pun langsung merasa pusing.


“Loe kenapa, Dit?” tanya Silvi heran. Silvi langsung menghampirinya. Namun, saat itu juga Radit mencekiknya.


“Gue susah nafas, Dit" ujar Silvi kesakitan. Radit pun sadar dari keanehan yang baru saja yang dia alami.


“Sorry ya, Sil” tegas Radit cemas.


“Loe kenapa sih, Dit?”


“Gue juga gak tahu, sebenernya gue sadar, Sil. Tapi gue gak bisa ngontrol tubuh gue”


“Yaudah, Dit. Sekarang loe istirahat aja, loe tenangin diri loe dulu"


“Gue minta maaf ya, Sil. Atas kejadian yang tadi, sumpah gue bener-bener gak bisa ngontrol tubuh gue, loe gak kenapa-napa kan?”

__ADS_1


“Gue gak kenapa-napa kok, Dit"


”Bener, Sil?”


“Iya, Dit. Gak apa-apa kok, yaudah gue pulang sekarang ya, Dit. Besok kita bicarakan lagi masalah ini.” tegas Silvi meskipun hati kecilnya masih di landa kegelisahan yang mendalam.


***


Malam itu Radit sedang duduk santai di ruang tamu sambil menonton Televisi. Dan tiba-tiba televisi yang sedang di tontonnya mati dengan sendirinya. Radit merasa heran, karena remote televisi masih dia genggam. Dan seketika itu juga terdengar suara ketukan pintu dari arah luar rumah.


Saat itu Radit sama sekali tidak memilik firasat sedikit pun di benak hatinya. Dengan hati yang penuh tanda tanya, Radit langsung menghampiri pintu rumahnya. Namun, setelah dia membuka pintu, tak ada seorang pun yang dia jumpai.


Radit begitu heran, di saat dia mau pergi, lagi-lagi ketukan pintu terdengar dan setelah dia membuka pintu.


“Silvi, kok balik lagi?” tanya Radit heran.


“Iya, Dit. Handphone gue ketinggalan di sofa loe..”


“Handphone?”


“Iya, Dit. Handphone gue”


“Yaudah masuk aja, Sil” ujar Radit.


“Gak deh, Dit. Udah malam, gue nunggu di luar aja..” Radit pun langsung pergi keruang tamu untuk mencari Handphone miliknya Silvi yang tertinggal.


Karena penasaran, Radit pun mencoba untuk menelepon handphone miliknya Silvi.


“Kenapa, Dit?”


“Katanya, Handphone loe ketinggalan, Sil"


“Maksud loe apa, Dit. Handphone gue dari tadi ada di tas gue!”


“Sekarang loe lagi dimana?”


“Gue masih di jalan, Dit. Memang kenapa?” tanya Silvi heran. Radit langsung menutup teleponnya.


"Kalau yang gue telepon si Silvi. Lalu yang di luar itu siapa?" tanya hati Radit.


Radit pun langsung pergi keluar untuk memastikannya, namun sesampainya di luar, Radit mulai merasakan kegelisahan.

__ADS_1


“Sil, Silvi. Loe dimana?” tanya Radit heran. Karena takut, Radit langsung bergegas pergi menuju kamarnya.


__ADS_2