VILLA

VILLA
BAB 19


__ADS_3

Malam pun tiba, David memutuskan untuk meminta bantuan kepada orang pintar. Dengan mahar yang lumayan besar, orang pintar itu menyetujui untuk membantunya.


“Mbah bisa bantu kamu, asalkan kamu sanggup untuk membayar maharnya”


“Berapa Mbah untuk maharnya”


“20 juta, kamu sanggup?” Mendengar jumlah mahar yang di berikan, David sangat kaget.


“Gak bisa kurang, Mbah?”


“Setelah Mbah terawang, yang kamu hadapi ini bukan kuntilanak biasa. Kuntilanak ini peliharaan”


“Iya Mbah, saya ngerti. Berapapun akan saya bayar maharnya, kapan Mbah bisa membasmi kuntilanak itu?”


“Malam ini” tegas Orang Pintar.


Setelah melakukan pembayaran uang muka untuk maharnya. David dan orang pintar itu pun memutuskan untuk pergi menuju villa itu. Sebenarnya David ragu dengan orang pintar itu. Tapi, karena belum menemukan jalan keluar, David terpaksa harus mempercayakannya.


Sesampainya di villa, orang pintar itu mulai melakukan ritual, mulai dari membakar kemenyan sampai membaca mantra ke keris yang sedang di genggamnya.


“Kamu tunggu disini?”


“Mbah yakin, mau masuk ke dalam villa itu?”


“Mbah yakin dan kuntilanak itu harus segera di musnahkan” setelah ritual selesai. Orang pintar itu masuk kedalam villa seorang diri.


David hanya bisa menunggu dengan penuh kecemasan dan berharap agar kuntilanak itu dapat di binasakan.


Sudah satu jam lebih David menunggu dan masih belum ada tanda-tanda dari orang pintar itu. David begitu merasa cemas, tiba-tiba pintu villa itu terbuka sendirinya dengan keras dan sosok kuntilanak itu pun menampakan wujudnya.

__ADS_1


Sosok kuntilanak itu benar-benar menyeramkan, David hanya bisa berdiam diri dan tak mampu bergerak. Seakan-akan tubuhnya menjadi kaku. Sosok kuntilanak itu terbang melayang menghampiri David dengan membawa potongan kepala orang pintar itu.


Kepala orang pintar itu pun di lemparkan ke arah David. David hanya bisa ketakutan. Kuntilanak itu terus mendekat. Tepat di hadapan David, kuntilanak itu menjulurkan lidah nya dan menjilati wajah David, David tak mampu berbuat apa-apa. Yang Dia lakukan hanya menutup mata. Bau busuk air liur kuntilanak membuat David merasa mual.


Setelah menjilati wajahnya David, kuntilanak itu perlahan mundur menjauhinya dan kembali masuk kedalam villa itu. David pun bisa menggerakkan tubuhnya kembali. Tiba-tiba, sesosok badan tanpa kepala jatuh tepat di hadapan nya. David pun panik dan langsung tancap gas meninggalkan villa itu.


***


Malam itu Bella memutuskan untuk menginap di kediamannya Silvi.


“Makasih ya, Bell. Udah mau nemenin gue lagi"


“Iya, Sil. Gak apa-apa kok"


“Gue takut mati di tangan Kuntilanak itu, Bell”


“Kita harus secepatnya menyegel kuntilanak itu, Sil”


“Loe kenapa, Sil?” tanya Bella


“Ini tanda dari Kuntilanak itu, Bell. Mungkin waktunya giliran gue yang mati!" ujar Silvi sambil menahan rasa sakit.


"Kita harus yakin, kita pasti bisa menyegel kuntilanak itu dan semua pun akan baik-baik aja” Ujar Bella menenangkan Silvi.


“Loe gak sadar, tadi gue ngalamin apa yang pernah di alami si Radit sama si Rendi, Bell"


"Sekarang loe istirahat aja, Sil. Biar pikiran loe lebih tenang lagi” ujar Bella cemas.


***

__ADS_1


Malam semakin larut.


Di saat Bella sedang tertidur pulas. Mimpi buruk pun datang lagi. Dia bermimpi berada di sebuah hutan yang dulu pernah dia mimpikan. Berbeda dari yang sebelumnya, dalam mimpinya yang sekarang, dia bertemu dengan David yang sudah dalam keadaan terluka di sekujur tubuhnya.


“David?” panggil Bella.


“Bella, kenapa loe ada di mimpi buruk gue?” tanya David heran.


“Gak mungkin, Vid. Ini mimpi gue" ucap Bella resah.


Dan hal yang mengerikan pun terjadi. Sosok kuntilanak itu datang menghampiri mereka dan langsung mencekik mereka berdua.


Bella pun tersadar dari mimpi buruknya.


“Kenapa, Bell?” tanya Silvi yang masih belum tidur.


“Gue mimpi buruk Sil” Tiba-tiba Silvi mendengar suara alunan gamelan.


“Bell, loe denger gak, ada suara gamelan jawa”


“Engga, Sil”


“Serius, Bell. Suaranya dari luar rumah”


“Halusinasi loe aja, Sil. Yaudah gue haus mau minum dulu” Bella pun pergi menuju dapur. Sesampainya di dapur, Bella merasa ada sesuatu yang ganjil. Dalam gelapnya dapur dia melihat seperti ada seseorang yang sedang berdiam diri di depan meja makan.


“Mbok Ijah” tanya Bella heran. Namun, saat lampu dapur di nyalakan, sosok itu menghilang. Dan seketika seseorang menyapanya dari arah belakang.


“Kenapa loe, Bell?”

__ADS_1


“Bikin gue jantungan aja loe, Sil”


“Habis loe lama benar, gue kan takut sendirian di dalam kamar” ujar Silvi.


__ADS_2