VILLA

VILLA
BAB 14


__ADS_3

Siang itu di kampus.


Dengan penuh kecemasan Rendi menghampiri Silvi yang sedang berjalan menuju perpustakaan.


“Loe kenapa, Ren. Pucat banget?”


“Gak kenapa-napa kok, Sil. Oh ya, loe lihat si Bella sama si David gak?”


“Dia lagi di kantin, Ren” ujar Silvi. Rendi pun bergegas menuju kantin. Melihat tingkah laku Rendi yang aneh Silvi pun mengikutinya.


Sesampainya di kantin.


Rendi langsung menghampiri Bella dan David yang sedang santai berbincang-bincang.


“Loe kenapa, Ren?”


“Semalam gue mimpi buruk, Bell"


“Mimpi buruk?”


“Iya, mimpi buruk!"


“Emang loe mimpi apa, Ren?”


“Gue mimpi berada di dalam hutan dan tewas di tangan kuntilanak itu"


“Mimpi loe sama kayak gue, Ren” ujar Silvi.

__ADS_1


"Itu cuma bunga tidur. Jangan terlalu di pikirin, Ren" ujar David.


"Tapi, gue takut, Vid. Oh ya, nanti malam loe temenin gue ya di rumah. Orang tua gue lagi Dinas ke luar kota."


“Yaudah, nanti gue usahain, Ren" Ujar David.


***


Malam pun tiba.


Malam itu Rendi sedang duduk santai di ruang tamu sambil menonton televisi. Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar rumah.


“Tumben, si David cepat benar kesininya” ujar Rendi. Rendi bergegas pergi menuju pintu rumah. Namun saat itu dia tidak melihat seorang pun yang berada di luar rumah.


Cuaca malam saat itu sangat dingin. Rendi kembali kedalam rumah. Selang beberapa menit setelah Rendi duduk, dari sudut ekor mata dia melihat ada sosok tangan yang menggenggam pundak kirinya. Rendi hanya terdiam ketakutan. Disusul dengan beberapa helai demi helai rambut putih mulai menutupi wajahnya. Karena panik, Rendi langsung berdiri dan melihat di sekitarnya.


Malam semakin larut. Dalam hening nya malam, Rendi tidak dapat tidur, rasa bosan dan jenuh mulai menghampiri. Rendi mengambil handphone miliknya dan membuka satu aplikasi kencan. Malam itu dia pun memesan perempuan penghibur untuk menemaninya tidur. Setelah menunggu lama. Wanita yang dia pesan lewat aplikasi kencan itu pun datang ke rumahnya.


“Sindi ya?”


“Iya, gue Sindi!”


“Loe cantik banget, beda sama yang di foto profil”


“Dasar lelaki!”


“Yaudah masuk aja, rumah gue sepi. Langsung ke kamar gue ya” Rendi mempersilahkan wanita penghibur itu masuk kedalam rumahnya. Mereka berdua langsung menuju kamar.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar, Rendi langsung mendorong wanita penghibur itu ke atas ranjang tidurnya. Rendi segera membuka baju. Namun, setelah baju yang dia pakai sudah di lepas, wanita penghibur itu sudah tidak ada di ranjang tidur. Rendi kebingungan. Di saat dia menoleh kebelakang muncul sosok kuntilanak yang dulu dia bebaskan tepat di hadapannya yang langsung mencekiknya. Rendi pun terbangun dari tidurnya. Rendi lega karena itu semua hanya mimpi.


“Untung hanya mimpi” ujar Rendi. Namun, keanehan pun terjadi. Jendela kamar yang sudah tertutup rapat terbuka dengan sendirinya. Dan lagi- lagi dia merasakan sakit kepala yang sangat amat luar biasa. Tubuhnya panas seperti terbakar dan lagi, darah segar pun keluar dari kedua lubang hidungnya.


“Darah..?”


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar. Baru saja mau membuka pintu. Pintu itu pun langsung terbuka dengan sendirinya yang langsung menghempaskan tubuhnya membentur dinding kamar.


Sambil menahan rasa Sakit, Rendi mencoba bangkit. Namun, di saat mau meninggalkan kamarnya. Muncul sosok kuntilanak yang dulu pernah dia bebaskan berada tepat di pintu kamarnya. Rendi benar-benar panik. Tubuhnya menjadi kaku, kaki terasa berat untuk berjalan.


Waktu serasa melambat, kuntilanak itu mulai mendekatinya. Menghempaskan tangannya ke arah dinding kamar dan seketika Rendi pun ikut terhempas.


Malam itu Rendi tak mampu berbuat apa-apa, seluruh tubuhnya pun sudah di penuhi dengan luka memar.


Kuntilanak itu semakin mendekat dan mulai mencekiknya. Rendi hanya bisa merintih kesakitan. Tiba-tiba, dari arah luar rumah pun terdengar suara klakson mobil dan seketika kuntilanak itu menghilang.


Melihat kesempatan yang ada, Rendi langsung bergegas pergi meninggalkan kamarnya dengan tergesa-gesa.


Malam itu rasa khawatirnya pun mulai hilang dengan kedatangan David.


“Sorry gue lama, Ren!"


“Gak apa-apa kok, Vid" ujar Rendi cemas.


“Loe kenapa, Ren?” tanya David heran.


“Lebih baik kita jangan disini, Vid. Kita kerumah loe aja . Nanti gue ceritain apa yang terjadi” tegas Rendi.

__ADS_1


“Yaudah, tapi mampir ke rumah si Bella dulu ya, gue mau balikin notebook nya”


__ADS_2