
Malam Pun tiba.
Bella, Silvi dan David pun bergegas pergi menuju kediaman Rendi untuk melihat keadaanya.
Melihat kedatangan Bella, Silvi dan David. Kecemasan di hatinya pun mulai berkurang.
“Gimana, Ren. Keadaan loe?”
“Gue baik-baik aja kok, Sil. Sebelum nya gue minta maaf, Vid. Gara-gara ulah iseng gue, kuntilanak itu bisa terbebas dari cermin tua itu” tegas Rendi menyesal.
“Yang terpenting bukan masalah minta maaf, kita harus menyegel kuntilanak itu kembali kedalam cermin”
“Loe benar banget, Vid. Kita harus menyegel kuntilanak itu kembali”
“Caranya gimana, Vid?”
“Gue juga gak tahu caranya gimana, Sil”
“Waktu loe berdua ke villa itu. Loe benar-benar gak dapat buku untuk menyegel kuntilanak itu, Vid?”
“Gue gak dapat, Ren. Kayaknya bukunya gak ada di villa itu”
“Kalau bukan di villa itu, terus dimana?”
“Kemungkinan buku itu ada di Paman gue yang ahli supranatral. Karena, yang menyegel kuntilanak itu kedalam cermin, Paman gue”
"Yaudah, kalau gitu kita harus ke rumah paman loe, Vid"
"Justru itu, Ren. Gue gak tahu rumahnya dimana!"
__ADS_1
Karena sudah larut malam, mereka bertiga memutuskan untuk pulang.
“Gak apa-apa, Ren. Gue tinggal?''
“Ga apa-apa, kok”
“Oh ya, Ren. Kalau ada sesuatu yang penting, loe hubungin gue aja” papar David.
Setelah Bella, Silvi dan David pergi meninggalkan kediamannya, Rendi langsung pergi menuju kamarnya dengan penuh kegelisahan.
Sesampainya di dalam kamar, lagi-lagi Rendi merasakan sakit kepala yang luar biasa dan darah segar pun langsung keluar dari kedua lubang hidungnya.
Malam itu Rendi tak mampu lagi untuk berdiri, tubuhnya terasa lemah. Dan saat itu juga sosok kuntilanak itu muncul di hadapannya. Rendi benar-benar tak kuasa untuk bergerak, tubuhnya menjadi kaku.
Kuntilanak itu mendekat dan terus mendekat lalu mencekiknya dan mencabik-cabik seluruh isi perutnya. Malam itu Rendi pun tewas di tangan kuntilanak itu.
Tiga hari telah berlalu.
Siang itu Bella, Silvi dan David begitu cemas. Karena, sudah hampir tiga hari Rendi tak ada kabar.
“Sil, loe dapat kabar gak dari si Rendi?”
“Gak ada kabar, Bell. Udah tiga hari dia gak masuk kuliah"
“Kemana ya tuh anak?” papar David.
“Mungkin, dia masih kurang sehat, Vid"
“Tapi, ini gak seperti biasanya, firasat gue ga enak"
__ADS_1
“Iya, sih. Biasanya dia selalu ngasih kabar ke gue. Tapi, tumben gak ada kabar sama sekali..” ujar Silvi heran.
“Yaudah, nanti pulang dari kampus kita kerumahnya aja”
Sesampainya di kediamannya Rendi, mereka bertiga mulai merasa ada yang aneh.
“Kok sepi banget, Bell”
“Iya, Sil. Sepi banget”
“Ren, Rendi” teriak David. Karena keadaan pintu rumah tidak terkunci. Mereka bertiga memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah.
Suasana di dalam rumah benar-benar dalam keadaan gelap dan mereka mulai mencium aroma bau tidak sedap.
Bella, Silvi dan David terus mencari keberadaan Rendi. Dan hal yang mengerikan pun mereka lihat. Rendi sudah tewas membusuk di dalam kamarnya.
“Bell, gue takut..” ujar Silvi. Siang itu David pun memanggil pihak yang berwajib.
Tak lama menunggu, pihak yang berwajib pun datang dan langsung mengevakuasi mayat sahabatnya itu yang sudah tak dapat di kenali lagi ke kantong jenazah. Saat itu keluarga Rendi yang baru tiba dari luar kota sangat histeris melihat kondisi Rendi yang sudah membusuk.
“Gue yakin, Bell. Semua ini pasti ulah kuntilanak itu”
“Kita harus mencari buku yang bisa menyegel kuntilanak itu”
“Tapi, Bell. Kita harus cari kemana?”
“Gue juga gak tahu, kalau kita gak bisa menyegel kuntilanak itu, kita akan tewas seperti mereka, Sil"
“Oh ya, loe berdua mau ikut gak kerumah gue, gue mau nanya Mbok Darsem, mungkin dia tahu kediamannya paman gue”
__ADS_1