
Setibanya David di kediaman Bella.
“Kenapa, Bell?”
“Gue tahu cara menyegel Kuntilanak itu” tegas Bella.
“Loe serius, Bell?”
Malam itu Bella dan David pun memutuskan untuk pergi menuju villa dengan tujuan menyegel kuntilanak itu.
Sesampainya di villa.
“Ini waktunya kita menyegel Kuntilanak itu Vid. Oh ya, Vid. Gue mau loe pakai kalung ini"
“Tapi, Bell. Kalau terjadi apa-apa sama loe, gimana?”
“Loe tenang aja, Vid"
David pun menerima kalung pemberian Bella.
Sebelum masuk kedalam villa, angin berhembus kencang dan seluruh kaca jendela villa pecah menjadi puing-puing yang tak beraturan. Terlihat jelas raut wajah mereka berdua sangat ketakutan.
“Sepertinya, Kuntilanak itu takut sekali dengan kaca” ujar David.
Dengan perasaan bercampur aduk, mereka mencoba memberanikan diri untuk masuk ke dalam villa.
Dan benar saja, sosok kuntilanak itu sedang melayang-layang menunggu kedatangan mereka berdua.
Kuntilanak itu terbang menghampiri David dan langsung mencekiknya. Namun, lagi-lagi kuntilanak itu menghilang setelah melihat kalung yang di pakai oleh David
“Loe gak kenapa-napa Vid?”
__ADS_1
“Iya , Bell. Berkat kalung ini gue selamat”
Bella dan David melanjutkan perjalanannya menuju kamar terlarang itu untuk segera melakukan ritual penyegelan. Sesampainya di dalam kamar itu. Mereka berdua di kejutkan dengan banyak tulang belulang. Bella melihat satu tulang yang dimana tulang itu terdapat sebuah gelang yang menurutnya tidak asing.
“Sil, gue janji. Akan menyegel kuntilanak itu” ujar Bella. Ternyata tulang itu milik Silvi.
Setelah menutup pintu kamar rapat-rapat, mereka segera memulai ritual seperti yang dulu pernah di lakukan oleh Silvi, Rendi dan Radit.
Lingkaran bintang telah di buat. Lilin segera dinyalakan. Cermin peninggalan ayahnya Bella pun di pegang David seerat mungkin. Ketika Bella hendak membaca mantra penyegelan, mereka mulai merasakan kehadiran Kuntilanak itu.
Pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Tiba-tiba, terbuka dengan sendirinya. Sosok kuntilanak itu pun menampakan dirinya. Berjalan perlahan demi perlahan menghampiri mereka berdua.
“Bell, cepat baca mantra nya!” ujar David.
“Ku memanggilmu, dalam malam satu suro" Namun, sebelum menyelesaikan mantra nya, Kuntilanak itu langsung menggenggam erat rambut David dan menariknya meninggalkan kamar terlarang itu.
“Lanjutkan, Bell! Apapun yang terjadi jangan berhenti baca mantra nya, Bell!” teriak David.
“Bell, tolong gue!” ujar David. Di saat Bella mau menolongnya. Tiba-tiba dari balik pintu muncul seseorang yang juga mirip dengan David. Tubuhnya pun sudah berlumuran darah.
"Bell, itu bukan gue! Cepat baca mantra nya!” Ujar David merintih kesakitan.
Bella terlihat bingung, mana yang harus di percaya. Bella mencoba membaca ulang mantra penyegelan. Dan seketika sosok David yang merangkak langsung berdiri dan berubah menjadi sosok asli yaitu sosok kuntilanak. Sosok kuntilanak itu langsung mencekiknya.
Sambil menahan rasa sakit, Bella terus melafalkan mantra yang tertulis dalam buku itu.
“Ku memanggilmu di malam satu suro. Rintihan mu. Tertidur lah! ku memanggilmu dalam malam satu suro. Rintihan mu. Tertidur lah!”
Lama-kelamaan cekikan itu terasa begitu menyakitkan. Bella sudah tak mampu berucap lagi. Seakan akan tenggorokan nya sudah tertutup. Buku aksara Jawa kuno yang sedang dia genggam pun terlepas begitu saja dari tangannya.
“Bell?” ucap seseorang. Dengan sekuat tenaga David mencoba melempar kalung milik Bella. Dengan sigap Bella menangkap kalung tersebut dan langsung menusukkannya kelengan Kuntilanak yang sedang mencekik lehernya.
__ADS_1
Kuntilanak itu pun kesakitan dan melepaskan cekikannya. Bella langsung mengambil buku aksara Jawa kuno itu dan melanjutkan membaca mantranya agar Kuntilanak itu tersegel kedalam cermin untuk selama-lamanya.
“Ku memanggilmu dalam malam satu suro. Rintihan mu. Tertidur lah! Tertidur lah! Tertidur lah!” ucap Bella. Mantra penyegelan selesai di ucapkan. Kuntilanak itu merasa kesakitan.
Bella langsung mengambil cermin peninggalan orang tuanya dan menghadapkan cermin itu kearah Kuntilanak yang sedang kesakitan.
Seketika angin berhembus kencang dan Kuntilanak itu pun terhisap ke dalam cermin itu.
Dan akhirnya, kuntilanak itu berhasil di segel kedalam cermin. Namun, ketika Bella hendak menghampiri David. Tiba-tiba, muncul sesosok tangan kuntilanak itu dari dalam cermin yang langsung memegang erat kaki Bella dan saat itu pula terdengar suara rintihan.
“Ikutlah dengan ku..!”
Bella tampak ketakutan. Seketika cermin itu pecah berkeping-keping karena ada yang memukulnya. Tangan kuntilanak yang menarik kaki Bella pun menghilang.
Raut wajah Bella tampak kebingungan. Dia melihat sosok wanita paruh baya tersenyum kepadanya.
“Ibu? Ucap Bella.
"Kamu sudah besar, Nak. Ibu senang bisa melihat kamu, lagi"
"Bella juga senang, Bu. Bella rindu Ibu"
Dengan penuh rona kebahagiaan, Bella lekas menghampiri wanita paruh baya itu dan langsung memeluknya.
Bella benar-benar bahagia. Karena, bisa berjumpa dengan ibunya lagi.
Malam itu mereka bertiga memutuskan untuk segera pergi meninggalkan villa itu. Kini tak ada lagi perasaan khawatir di benak hati mereka. Karena, kuntilanak itu sudah tersegel kembali untuk selama-kepadanya.
Seminggu telah berlalu, David pun memutuskan untuk membakar Villa peninggalan orang tuanya itu.
Tamat
__ADS_1