
Malam itu Silvi baru saja pulang dari kediamannya Radit dengan penuh kecemasan di benak hatinya.
Sesampainya di depan rumah. Silvi merasakan sesuatu yang aneh, dia melihat seluruh jendela rumahnya sudah terbuka lebar.
"Kok Ibu lupa nutup jendela, kalau ada maling bisa repot ?"
Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, Silvi langsung menutup jendela rumahnya yang sudah terbuka lebar dan langsung pergi menuju kamarnya dengan tergesa-gesa.
Sesampainya di dalam kamar, Silvi pun rebah-rebahan sejenak di atas ranjang tidurnya untuk menghilangkan rasa lelah yang membebani seluruh tubuhnya.
Menit demi menit pun berlalu, di saat Silvi mau memejamkan mata untuk tidur, Handphone miliknya yang berada di tasnya bergetar.
“Hallo..!" ucap Silvi heran. Namun, anehnya setelah teleponnya itu dia angkat, tak ada satu suara pun yang dia dengar.
"Mungkin orang iseng!"
Malam semakin larut. Di saat Silvi sedang tertidur pulas, mimpi burukpun hadir di dalam tidurnya.
“Gue dimana...?” tanya Silvi heran. Silvi bermimpi sedang berada di tengah-tengah sebuah hutan. Yang dia lihat saat itu di sekitarnya hanya ada pepohonan yang begitu rimbun.
Silvi terus mencoba untuk mencari jalan keluar dari dalam hutan yang menyeramkan itu. Tapi, entah kenapa disaat dia sedang berlari. Kakinya tersandung sebuah akar hingga terjatuh. Setelah terbangun, Silvi begitu cemas.
Silvi melihat sesosok kuntilanak yang begitu menyeramkan sudah berada tepat di hadapannya.
Sosok kuntilanak itu berambut putih, terlihat jelas di bawah bibir kuntilanak itu taringnya sangat menyeramkan. Silvi tak mampu berbuat apa-apa, seluruh tubuhnya pun menjadi kaku. Seketika sosok kuntilanak itu langsung mencekiknya.
Saat itu Silvi hanya bisa merintih kesakitan. Semakin lama cekikan itu pun semakin terasa kencang dan sosok kuntilanak itu langsung mencabik-cabik seluruh isi tubuhnya. Seketika Silvi pun terbangun dari tidurnya, namun lagi-lagi keanehan terjadi. Setelah Silvi terbangun dari tidurnya, dia merasakan perih yang sangat luar biasa dan seluruh tubuhnya sudah di penuhi dengan luka cakar.
Keesokan harinya, Silvi langsung menghampiri Bella dan David yang sedang duduk santai di kantin.
“Kenapa loe, Sil. Pucat banget?” tanya Bella heran.
“Semalam gue mimpi buruk, Bell"
“Memang loe mimpi apa, Sil?”
“Semalam, gue mimpi ada di sebuah hutan, Vid. Gue juga ketemu sama sosok kuntilanak, tapi yang gue takut kan sampai saat ini, gue mati di tangan kuntilanak itu...”
“Loe ngelindur kali, Sil”
“Gue serius, Vid. Oh ya, gue mau nanya. Sebenarnya, di balik villa loe ada rahasia apa sih, semenjak gue balik dari villa loe, gue selalu ngalamin hal yang aneh terus”
__ADS_1
“Maksud loe apaan sih, Sil?” tanya Bella heran.
“Loe serius mau tahu, Sil"
“Gue serius, Vid. Gue benar-benar kepikiran sama mimpi gue. Baru kali ini, gue mimpi seseram itu”
“Loe tahu gak, sebenernya apa yang ada di kamar terlarang itu apa?”
“Memang apa, Vid?” tanya Bella heran.
“Tapi, serius nih. Loe berdua mau tahu..?” ujar David dengan santainya.
“Serius, Vid. Gue mau tahu.” ujar Silvi cemas.
“Isi dari kamar terlarang itu, kuntilanak yang waktu itu gue ceritain”
“Loe serius, Vid"
“Gue serius!”
“Kenapa loe bilangnya sekarang!”
“Kalau gue bilang terlebih dahulu, kalian pasti gak akan mau nginap di villa milik gue”
“Loe berdua tenang aja, kuntilanak itu udah di segel sama almarhum paman gue. Oh ya, bukannya loe pernah ke kamar terlarang itu Bell?”
“Iya, gue pernah ke kamar itu. Dalam kamar itu hanya ada cermin tua, Vid "
“Kuntilanak itu di segel di cermin tua itu, Bell"
“Serius, Vid?”
“Serius, Bell. Cermin tua itu peninggalan turun temurun dari keluarga gue"
“Loe bohong kan, Vid?”
“Gue serius, Sil. Loe kenapa jadi takut gitu?” tanya David heran, mendengar penjelasan David Silvi pun semakin resah.
“Loe, lihat si Rendi sama si Radit gak?”
“Dia udah ke kelas duluan, Sil" ujar Bella. Silvi pun langsung pergi menuju kelasnya dengan tergesa-gesa untuk mencari kedua rekannya.
__ADS_1
“Kenapa tuh, anak” ujar David.
Siang itu Silvi begitu cemas. Di saat Silvi mau pergi ke kelas untuk menemui Rendi dan Radit, dia pun berpapasan dengan Radit yang baru saja keluar dari dalam toilet.
“Kebetulan, Dit. Gue lagi nyari loe"
“Kenapa, Sil?”
“Semalam gue mimpi buruk, Dit”
“Terus, hubungannya sama gue apa?”
“Dengerin dulu, semalam gue mimpi di datangin sama kuntilanak dan gue yakin buku yang udah kita gunakan itu memang benar-benar terjadi?”
“Maksud loe, kita berhasil mangil Kuntilanak itu?”
“Gue rasa sih gitu. Kita harus hati-hati, karena kita udah manggil kuntilanak itu, mungkin keanehan yang loe alami waktu lalu, akibat ritual itu Dit"
“Masa sih, gue gak percaya, Sil”
“Gue yakin banget, Dit. Oh ya, loe tahu gak isi dari cermin tua yang loe ambil dari kamar terlarang itu?” tanya Silvi cemas.
“Gak tahu, itu kan cuma cermin tua biasa, Sil"
“Itu menurut loe. Tadi si David cerita ke gue, kalau Kuntilanak yang dulu dia ceritain, di segelnya di dalam cermin tua itu, Dit”
“Loe serius, Sil?” tanya Radit resah.
“Ya gue serius, pertama sih gue agak ragu. Tapi, semenjak loe ngalamin keanehan di villa itu, gue semakin yakin kalau kita udah ngebebasin kuntilanak itu”
“Berarti, kita benar-benar membebaskan kuntilanak itu, Sil. Oh ya, si Bella sama si David udah tahu belum masalah ritual kita?” tanya Radit resah.
“Belum, Dit. Sebenarnya gue mau kasih tahu, tapi gue takut mereka marah, terutama si David”
“Loe benar, Sil. Lebih baik mereka berdua gak perlu tahu masalah ini”
“Yaudahlah, mending loe kasih tahu si Rendi aja, Dit"
“Percuma, Sil. Dia anaknya keras kepala, dia pasti gak akan percaya, lagi pula dia udah cabut dari tadi”
“Loe telepon aja, Dit” Radit pun langsung meneleponnya.
__ADS_1
“Nomornya ga aktif, Sil" tegas Radit resah.
“Yaudah, nanti malam kita kerumahnya aja, Dit” papar Silvi dengan penuh kecemasan.