
“Maksudnya, keramat gimana, Pak?”
“Berdiri lah!” Bella pun berdiri, Pak Salim langsung memeluk Bella. Ternyata kamu sudah besar Bella. Bella bingung, karena Pak Salim mengetahui namanya.
“Kok, Bapak tahu nama saya?”
“Ibu kamu itu adik Bapak!” mendengar penjelasan Pak Salim Bella semakin bingung.
“Bapak serius?”
“Oh ya. Sebenarnya kalung yang kamu pakai itu kalung pemberian Bapak, kalung itu bapak berikan untuk ibu kamu agar dia terhindar dari malapetaka, termasuk gangguan dari makhluk halus dan sejenisnya”
“Pantas saja, kalung itu mirip sekali dengan kalung yang ada di buku aksara Jawa kuno itu” ujar David.
“Kamu Benar, dulu Bapak disuruh menjaga sisir tua milik nenek kamu yang di dalamnya tersegel kuntilanak itu. Dan Bapak melakukan sedikit ritual dengan kalung itu agar kalung itu bisa menangkal segala gangguan mistis dan Bapak menggambar kalung itu di buku aksara Jawa kuno itu. Tapi, Bapak melakukan kesalahan dan akhirnya kuntilanak itu bebas. Kejadian selanjutnya den David pasti tahu apa yang terjadi”
“Lalu Ibu kemana, Pak?”
“Nanti juga kamu, tahu!” jelas Pak Darso.
Hari sudah semakin sore. Mereka bertiga memutuskan untuk pulang.
“Kalian harus hati-hati! Kuntilanak itu harus secepatnya di segel kedalam cermin!” ujar Pak Salim sebelum mereka pergi.
***
Malam itu Pak Salim sedang berada di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi hangat. Baru saja dia meminum satu tegukan, seluruh kaca jendela rumahnya langsung pecah dengan sendirinya.
“Mungkin memang sudah waktunya” ujar Pak Salim. Dan benar saja, sosok kuntilanak itu muncul di hadapannya. Pak Salim pun malam itu tewas.
Siang itu di kampus.
“Vid, loe gak lihat si Silvi?” Tanya Bella.
“Engga, Bell”!
“Sudah tiga hari gue belum lihat dia?”ujar Bella cemas.
__ADS_1
“Jangan-jangan?”
“Jangan-jangan apa, Vid?”
“Mending loe kerumahnya aja, Bell. Pastiin kalau dia memang dalam kondisi baik”
Setelah pulang dari kampus, Bella memutuskan untuk berkunjung kekediaman Silvi. Sesampainya di sana. Kondisi rumahnya begitu sepi. Bella mengetuk pintu rumah.
“Permisi!” Ujar Bella. Selang beberapa menit pintu pun di bukakan oleh seseorang dari dalam rumah.
“Permisi Bu, Silvi nya ada?”
“Kamu temannya Silvi, ya?”
“Iya, Bu. Saya teman sekampusnya. Silvi nya ada Bu?”
“Ada di dalam kamarnya. Masuk aja, Neng!”
“Makasih, Bu” Bella di persilakan masuk.
“Tunggu dulu ya, Neng. Ibu mau ambil air minum.”
“Makasih Bu, gak usah repot-repot!”
Setelah memberikan segelas air minum, Ibu nya Silvi mulai membuka obrolan.
“Ibu mau nanya, di kampus Silvi ada masalah apa ya?”
“Setahu saya, dia gak punya masalah, Bu”
“Ibu heran aja, sudah tiga hari ini Silvi mengurung diri di dalam kamarnya, untuk makan saja Ibu harus susah payah membujuknya. Bahkan tiap malam dia selalu teriak ketakutan. Ibu sangat khawatir” ujar Ibunya Silvi.
“Saya boleh ke kamarnya Silvi, Bu?”
“Silahkan, Semoga dengan kehadiran kamu, Silvi kondisinya bisa membaik” Bella segera menuju kamarnya Silvi. Sesampainya di dalam kamar. Kondisi kamarnya sangat berantakan. Lampu dalam keadaan mati. Saat itu Silvi hanya melamun di pinggir jendela memandangi suasana luar rumah.
“Loe kenapa, Sil?” Tanya Bella cemas. Mengetahui kedatangan Bella. Silvi langsung menghampiri dan memeluknya.
__ADS_1
“Bell, gue takut. Gue gak mau mati kayak si Radit dan si Rendi”
“Loe tenang aja, Sil. Gak usah takut. Gue ada di samping loe” seketika Silvi menangis di pelukan Bella.
“Gue takut!” Ujar Silvi. Bella pun merapikan kamar Silvi yang sudah berantakan. Dia melihat banyak sekali obat-obatan yang sudah di konsumsi Silvi, salah satunya terdapat obat penenang. Bella pun semakin khawatir. Setelah meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Bella pun pamit untuk pulang.
Dua hari berlalu setelah Bella berkunjung kekediaman Silvi.
Siang itu di kampus.
Melihat kondisi Silvi yang sudah membaik, Bella pun merasa senang. Rasa khawatir pun hilang.
“Gimana kondisi loe, Sil?” Tanya Bella.
“Gue udah enakan, Bell!”
“Loe kenapa, Sil?” Tanya David.
“Gak kenapa-napa ko, Vid. Cuma lagi gak enak badan aja”
“Gue khawatir aja sama, loe. Udah tiga hari gak ada kabar. Di telepon juga gak aktif”
“Hp gue lowbat, Vid. Oh ya, Bell. Hari ini loe nginap ya di rumah gue”
“Iya, Sil. Lagi pula gue gak kemana-mana!”
“Bell, semalam gue mimpi buruk!” Ujar David.
“Sama, Vid. Gue juga mimpi buruk. Gue mimpi ketemu sosok kuntilanak itu”
“Jangan-jangan mimpi loe berdua saling terhubung, Bell” papar Silvi.
“Gue nanti malam mau ke orang pintar, Bell!”
“Mau ngapain, Vid.”
“Kuntilanak itu harus di lawan.!”
__ADS_1