VILLA

VILLA
BONUS BAB 5


__ADS_3

Mendengar suara bising Denis dan kedua sahabatnya terbangun dari tidur nyenyak nya.


"Loe dengar suara minta tolong, Den?" Tanya Silvi.


"Gue juga dengar, Sil,"


"Itu kayak suara si David. Loe tinggal di kamar dulu ya, Sil. Gue mau mastikan suara itu."


"Jangan lama-lama ya, Den"


Denis dan Mocil bergegas pergi untuk memastikan suara bising itu, sedangkan Silvi hanya menunggu di kamar seorang diri.


Malam semakin larut. Saat itu Silvi sangat resah. Di saat Silvi hendak duduk di ranjang tidur. Tiba-tiba rambut panjangnya yang terurai di genggam oleh seseorang. Silvi sangat panik. Setelah dia lihat. Ternyata, pria bertopeng badut yang telah membunuh sahabatnya itu. Silvi tak mampu berbuat apa-apa karena tenaga pria bertopeng itu sangat kuat. Tanpa di sadari. Pria bertopeng itu langsung menghempaskan goloknya yang sudah berlumuran darah. Silvi pun tewas mengenaskan. Dalam selang beberapa menit sudah dua orang yang tewas di rumah tua itu.

__ADS_1


Di sisi lain. Denis dan Mocil sampai di ruangan di mana muasal suara itu terdengar. Namun, sesampainya di ruangan itu, mereka sangat terkejut. Karena, banyak ceceran darah di ruangan itu. Mereka melihat sebuah tetesan darah berserakan di lantai, mereka terus mengikuti jejak tetesan darah itu. Mereka sampai di sebuah kamar.


Dengan percaya diri mereka masuk. Sesampainya di kamar ruangan itu, ternyata sangat gelap. Denis segera mencari tombol saklar lampu. Setelah lampu di nyalakan, Denis dan Mocil terkejut bukan main, karena melihat tubuh sahabatnya sudah berserakan di lantai. Semuanya terpisah. Saat itu, mereka melihat nenek tua pemilik rumah itu sedang duduk menghadap televisi. Dengan hati-hati Denis menyentuh nenek itu. Apa yang terjadi, tiba-tiba kepala nenek tua itu langsung terjatuh kelantai terpisah dari tubuhnya. Denis dan Mocil semakin panik. Mereka bergegas pergi meninggalkan kamar itu.


Sesampainya di kamar untuk menemui Silvi. Keanehan terjadi, dia melihat seseorang sedang tertidur berselimutkan yang hangat. Dengan hati-hati Denis menarik selimut itu dan lagi-lagi mereka di buat kaget. Karena, di balik selimut itu ada sesosok mayat sahabatnya sendiri yang sudah terbujur kaku tanpa kepala.


Denis dan Mocil sangat panik. Mereka segera pergi untuk meninggalkan rumah tua itu. Namun sayang, setiap celah pintu rumah tua itu sudah terkunci. Mereka sudah terperangkap di rumah tua itu dengan pembunuh berdarah dingin.


"Kau mau, apa?" Tanya Denis. Tiba-tiba pria bertopeng itu melemparkan kepala yang sedang di genggamnya ke arah mereka. Dengan sigap Mocil menangkap kepala sahabatnya itu. Karena panik, dia langsung membuang kepala sahabatnya itu yang sudah berlumuran darah.


Denis dan Mocil sangat takut. Merkea bergegas lari meninggalkan pria bertopeng itu. Mocil yang berpisah dengan Denis bersembunyi di bawah meja tua. Dia sangat ketakutan. Namun, saat itu juga terdengar suara langkah kaki.


Suara langkah kaki itu makin lama semakin mendekat. Mocil hanya bisa ketakutan dan berdoa.

__ADS_1


"Cil?" Tanya Denis. Ternyata itu sahabatnya. Mocil segera beranjak dari bawah meja.


"Kita harus segera pergi dari rumah psikopat ini, Cil"


"Loe benar, Den. Gue gak mau mati" ucap Mocil. Namun tiba-tiba sesuatu menyentuh leher Mocil. Dan seketika Mocil terhempas kelantai dan kepalanya pun terpental jauh. Denis sangat kaget dan darah dari sahabatnya itu pun membasahi wajah dan seluruh bajunya.


Mocil tewas. Denis sangat takut.


"Apa yang kau mau?" Tanya Denis. Denis sangat ketakutan, karena pria bertopeng itu sudah membunuh ketiga sahabatnya dan pemilik rumah tua itu dengan kejam dan sadis. Pria bertopeng menginginkan Denis mati.


Dengan tergesa-gesa, Denis bergegas pergi meninggalkan pria bertopeng itu. Sesampainya di ruang tamu. Denis segera menghampiri pintu. Namun, sayang pintu itu masih terkunci. Denis sudah sadar kalau pria bertopeng itu sudah berada tepat di belakangnya. Denis menoleh, dia pasrah dan langsung Psikopat itu membuka topengnya. Terlihat jelas wajah pria bertopeng itu terdapat penuh luka di sekujur wajahnya, telinganya pun hanya satu. Psikopat itu hanya tersenyum setelah membantai Denis.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2