
Esok harinya.
Malam itu Bella, Silvi, David dan Rendi memutuskan pergi menuju villa untuk mencari buku yang mereka maksud.
Di saat dalam perjalanan, lagi-lagi mereka mengalami keanehan.
“Loe kenapa berhenti, Vid?”
“Loe gak lihat, Bell. Itu ada Nenek-nenek lagi nyebrang. Mangkan nya gue berhenti.
“Loe kenapa, Vid?” tanya Silvi cemas.
“Itu Nenek-Nenek lagi nyebrang...” ujar David. Namun ketiga rekannya sama sekali tidak melihat sosok nenek-nenek itu.
Setelah sosok Nenek-Nenek misterius itu menyebrang, David pun langsung tancap gas.
Sesampainya di villa itu, mereka merasa begitu takut. Namun, demi menyegel kuntilanak yang sudah terbebas itu, mereka pun memberanikan diri.
“Vid, loe yakin buku untuk menyegel Kuntilanak itu ada di dalam villa?” tanya Bella resah.
“Gue juga gak terlalu yakin, Bell"
“Jangan masuk aja, deh" papar Silvi cemas.
“Iya, Vid. Mending jangan masuk”
“Tapi, Ren. Kita harus menyegel kuntilanak itu. Gue takut di antara kita nanti akan jadi korban berikutnya kalau kuntilanak itu belum di segel" tegas David cemas.
“Kalau buku itu memang gak ada gimana, percuma aja kita kesini juga"
“Lebih baik kita kedalam untuk memastikan buku itu, ada atau engga?” tegas David.
“Loe mau masuk gak, Ren?”
“Gue tunggu di mobil aja deh, Bell”
“Gue juga sama, Bell. Gue nunggu di mobil aja sama si Rendi”
“Benar, loe berdua gak mau masuk ke villa?”
“Gak ah, Bell. Gue takut” ujar Silvi.
David dan Bella pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam Villa itu.
__ADS_1
Dengan perlahan lahan dan nafas yang masih belum teratur mereka berdua mulai mendekati pintu villa itu.
"Permisi, Pak Darso!" Teriak David. Ternyata pintu villa itu tidak di kunci.
Sesampainya David dan Bella di dalam villa. Mereka mencium bau tak sedap seperti aroma bangkai busuk.
“Kok, bau banget, Vid?”
“Gue juga gak tahu, Bell. Perasaan belum lama deh kita ninggalin villa ini. Tapi, kenapa jadi bau kayak gini" ujar David heran.
“Pak Darso, Pak Darso?” teriak David cemas.
Lagi-lagi keanehan pun mereka rasakan. Pintu villa yang baru saja mereka masuki langsung tertutup dengan sendirinya. Saat itu mereka benar-benar begitu cemas. Rendi dan Silvi yang berada di luarpun mulai kebingungan.
"Vid?"
"Tenang, Bell. Jangan takut!"
Dengan hati yang penuh tanda tanya Bella dan David langsung pergi menuju kamar terlarang. Dan Mereka pun di buat kaget oleh pemandangan yang ada di dalam kamar terlarang itu. Terlihat dua jasad mayat yang sudah membusuk.
"Ini mayat siapa, Vid?"
“Gue yakin, itu pasti mayatnya Pak Darso dan Mbok Imah, Bell"
“Ternyata benar, Kuntilanak itu sudah bebas. Cermin tua itu sudah pecah. Oh ya, waktu loe nemuin buku itu ada dimana, Bell?”
“Bukunya tepat banget berada di hadapan cermin tua itu, Vid"
"Yaudah, sekarang kita cari buku yang mungkin bisa menyegel Kuntilanak itu!"
Dalam aroma yang tidak sedap. Bella dan David terus mencari keberadaan buku untuk menyegel Kuntilanak itu. Bella dan David rasanya sangat ingin muntah, karena aroma bau dari jasad Pak Darso dan Mbok Imah yang sudah membusuk.
"Vid. Gue gak kuat bau nya!"
"Sama, Bell. Rasanya gue ingin muntah!"
Setiap sudut sudah mereka jelajahi. Mulai dari lemari sampai bawah ranjang tidur, buku untuk menyegel Kuntilanak itu tidak mereka temukan.
Bella dan David mulai merasakan kehadiran orang ketiga. Waktu pun seperti benar-benar terhenti.
Sekilas sesosok bayangan hitam yang begitu cepat sedang merayap di dinding kamar. Bayangan itu terus bergerak dengan cepat. Dan yang membuat Bella dan David semakin panik, secara tiba-tiba jendela kamar yang tepat berada di sekeliling mereka langsung pecah dengan sendirinya.
Bella dan David memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar terlarang itu dan hal yang tidak mereka inginkan pun terjadi. Sosok kuntilanak yang sudah bebas itu muncul di hadapan mereka berdua.
__ADS_1
Kuntilanak itu berambut putih sampai menyentuh lantai. Taring dan kukunya begitu mengerikan. Wajahnya hancur, matanya merah menyala.
“Jangan-jangan itu..”
“Loe bener, Bell. Dia kuntilanak yang di segel di cermin tua itu" ujar Bagas resah.
Sosok kuntilanak itu langsung menghempaskan tangan kanannya ke arah dinding kamar dan seketika David pun langsung terpental dengan kerasnya.
Melihat kejadian itu Bella pun semakin cemas dan langsung menghampiri David yang sedang menahan kesakitan.
“Loe gak kenapa-napa, Vid" tanya Bella cemas,
Sosok kuntilanak itu mulai menghampiri mereka berdua. Bella dan David benar-benar begitu takut. Sesampainya di dekat Bella, kuntilanak itu langsung mencekiknya. Bella tak mampu berbuat apa-apa, yang bisa dia lakukan hanya merintih kesakitan.
Dan keanehan pun terjadi, sosok kuntilanak yang sedang mencekiknya tiba-tiba menghilang entah kemana.
“Kuntilanak itu kemana, Bell?”
"Gue gak tahu, Vid. Setelah kuntilanak itu melihat kalung yang gue pakai, kuntilanak itu langsung pergi menghilang gitu aja..” tegas Bella. Bella benar-benar merasa heran.
“Kita harus keluar dari villa ini" ujar David.
“Tapi bukunya gimana?"
“Buku itu gak ada disini, Bell. Sekarang yang terpenting bukan buku itu tapi keselamatan kita berdua” ujar David cemas
Sesampainya Bella dan David di luar.
“Loe kenapa, Vid?” tanya Silvi cemas.
“Gak kenapa-napa kok, Sil"
“Terus, bukunya ketemu?”
“Gak Ketemu, Ren. Gue sama David keburu di datangin kuntilanak itu”
“Loe serius, Bell?”
“Gue serius, yang anehnya. Setelah kuntilanak itu melihat kalung yang gue pakai, kuntilanak itu pergi!"
“Kok bisa, Bell?” tanya Rendi heran. Namun, tiba-tiba sepotong tangan yang sudah membusuk jatuh tepat di hadapan mereka berempat.
Malam itu mereka pun memutuskan untuk pergi meninggalkan villa yang sudah di huni kuntilanak itu.
__ADS_1