VILLA

VILLA
BAB 11


__ADS_3

Malam semakin larut.


"Yaudah, Dit. Gue berempat mau pamit. Besok pagi gue usahakan buat jenguk loe lagi" ujar David. Seketika Radit menggenggam erat tangannya Bella.


"Loe kenapa, Dit?" tanya Bella cemas. Radit pun melepaskan genggaman tangannya itu.


Selang beberapa menit, datang suster yang akan mengecek kondisi Radit. Mereka berempat pun di suruh keluar dari ruangan itu.


"Semoga besok si Radit kondisinya udah membaik”


Bella, David, Silvi dan Rendi memutuskan meninggalkan rumah sakit itu. Namun, tak lama setelah mereka pergi. Mereka sempat berpapasan dengan suster yang baru saja memeriksa Radit.


“Bukannya itu suster yang lagi meriksa si Radit”


“Iya, Bell. Loe benar”


David menghampiri suster itu.


“Maaf, Sus. Gimana kondisi teman saya?”


“Maksudnya, apa ya?”


“Bukannya, Suster baru aja memeriksa teman saya yang di ujung kamar sana..”


"Ujung kamar?"


"Iya sus. Ujung sana. Dari sini mentok, terus belok kanan!" Ujar David.


“Oh, maaf mas. Yang di ujung sana bukan ruang perawatan. Tapi, kamar mayat”


Mendengar penjelasan suster itu, David dan yang lainnya pun semakin cemas. Karena takut terjadi sesuatu, mereka pun langsung pergi menuju dimana Radit sedang dirawat. Dan ternyata benar itu kamar mayat.


“Suster itu benar, Bell. Ini kamar mayat!"


“Perasaan, tadi di pintu gak ada tulisannya deh..” ujar Rendi heran.


“Yaudah, sekarang kita masuk aja, gue khawatir banget…” papar Silvi resah. Namun lagi-lagi keanehan pun terjadi. Pitu kamar itu terkunci.


“Kenapa, Vid..?”


“Gak bisa di buka, Sil. Terkunci..”


“Serius loe, Vid?” tanya Bella resah. Dengan perasaan penuh kecemasan, mereka mengintip melalui jendela kamar untuk melihat kondisi Radit.


Mereka melihat Radit seperti seseorang yang sedang kesakitan. Tubuhnya bergetar hebat. Namun dalam penglihatan Silvi, dia melihat ada satu sosok kuntilanak sedang duduk di atas tubuhnya Radit sambil mencekiknya. Kuntilanak itu menoleh ke arahnya.


“Loe, kenapa Sil?” tanya Bella heran. Silvi hanya terdiam ketakutan. Jiwanya terguncang. Dengan perlahan dia mundur dan mundur sampai area dinding rumah sakit.


David mencoba mendobrak pintu. Tapi, hasilnya nihil.


“Coba, Ren. Loe minta pertolongan sama Dokter atau Suster rumah sakit ini..” Rendi bergegas pergi untuk mencari pertolongan.


Kondisi Radit benar-benar kritis. Seketika itu tubuhnya pun melayang dengan sendirinya dan lama-kelamaan perutnya semakin membesar.

__ADS_1


Bella, Silvi dan David tak mampu berbuat apa-apa dan akhirnya hal yang mengerikan pun terjadi. Perut Radit yang sudah mulai membesar pun meledak dan seluruh organ isi tubuhnya berceceran di mana-mana.


Malam itu Radit pun tewas secara mengenaskan.


Tiga hari setelah kematian Radit.


Silvi, Bella dan Rendi sedang berada di kediamannya David.


“Gue masih benar-benar curiga sama kematiannya si Radit, Bell"


“Gue juga sama, Vid. Kematiannya gak wajar...”


“Jangan-jangan benar" papar Silvi resah.


“Jangan-jangan apa sih, Sil. Belakangan ini loe jadi aneh banget”


“Sudahlah, Sil. jangan di sangkut pautkan sama hal itu..” papar Rendi.


“Maksud loe berdua apa sih, gue benar-benar gak ngerti...”


“Iya nih..” jelas David. Dengan perasaan bersalah Silvi menjelaskan kesalahan terbesar dalam hidupnya.


“Gue mau cerita sama loe berdua. Tapi, loe berdua jangan marah ya”


“Yaudah cerita aja, jangan bikin gue penasaran, Sil”


“Sewaktu kita masih nginap di villa, gue bertiga mencoba buku itu” tegas Silvi cemas.


“Maksudnya, loe bertiga mempraktekan apa yang tertulis di buku itu, Sil”


“Cermin tua yang ada di kamar terlarang itu..?”


“Iya, Vid!"


“Gila loe, Ren. Loe benar-benar ngundang malapetaka buat kita-kita. Loe gak tahu, itu cermin keramat!"


"Gue juga gak tahu kalau bakal seperti ini!"


"Niatnya, cuma iseng-iseng aja, Vid" ujar Silvi.


"Tapi, apa yang udah loe lakuin itu salah, Sil!" Tegas David.


“Gue tau salah. Lagi pula itu kan cuma buku biasa, Vid"


“Itu memang buku biasa, Ren. Tapi, cermin yang loe gunakan itu bukan cermin tua biasa. Di dalam cermin tua itu terdapat kuntilanak yang waktu itu gue ceritain, kuntilanak itu disegel paman gue di dalam cermin tua itu. Kalau kuntilanak itu sudah bebas, dia akan mencari tumbal hidup. Seperti yang di alami sama Kakek-Nenek gue” tegas David.


“Loe serius, Vid..?”


“Gue serius, Ren. Sekarang kuntilanak itu bebas, gue benar-benar bingung harus gimana” keluh David.


“Sekarang loe percayakan, Ren?”


“Gue jadi takut, Sil” ujar Rendi cemas.

__ADS_1


Mendengar penjelasan David, Rendi dan Silvi pun semakin cemas dan menghawatirkan akan keselamatannya.


“Besok malam, kita harus kembali lagi ke villa itu”


“Buat apa kita balik ke villa itu lagi, Vid?"


“Secara logika, buku yang loe ambil itu bisa untuk membebaskan kuntilanak itu. Seharusnya ada buku untuk menyegel Kuntilanak itu kembali, Bell”


"Iya juga ya. Kalau di pikir-pikir seharusnya memang ada. Buktinya paman loe bisa menyegel kuntilanak itu ke dalam cermin".


“Tapi, Kalau buku untuk menyegel Kuntilanak itu gak ada, gimana?”


“Ya kita harus mencarinya dulu, kalian memangnya mau mati seperti si Radit?”


“Gue gak mau mati kayak si Radit" keluh Silvi.


“Oh ya, Bell. Buku itu masih ada di loe kan?”


“Masih kok, Vid. Kebetulan bukunya gue bawa"


“Buku ini biar gue yang simpan. Gue benar-benar gak habis pikir, kenapa sih loe bisa mempraktekan buku ini"


“Waktu itu gue cuma iseng-iseng aja, Vid” ujar Rendi menyesal.


“Sorry ya, Vid. Gue bertiga gak dengerin nasihat dari loe sama Pak Darso"


“Yaudah, sekarang semua tergantung kita, kita yang memulai kita juga yang harus mengakhirinya"


“Kenapa sih, Vid. Kayaknya loe khawatir banget"


“Jujur, Bell. Sebenarnya seluruh keluarga gue tewas di tangan kuntilanak itu sewaktu gue masih kecil. Yang tersisa cuma gue sama paman gue aja. Gue gak mau kuntilanak itu memakan korban yang banyak lagi” tegas David cemas.


“Jadi, keluarga loe tewas di tangan kuntilanak itu?” tanya Bella cemas.


“Loe serius, Vid” tanya Silvi resah.


“Gue serius, sebenarnya gue marah banget sama loe berdua. Tapi, semua udah terlanjur, sekarang kuntilanak itu sudah bebas"


“Terus, apa yang harus kita lakukan, Vid?”


“Kita harus menyegel kuntilanak itu kembali kedalam cermin, seperti yang di lakukan paman gue sewaktu gue masih kecil"


“Sekarang paman loe dimana, Vid?


“Gue gak tahu sekarang dia tinggal dimana, Ren. Gue yakin, saat menyegel kuntilanak itu kedalam cermin, paman gue pasti menggunakan sebuah buku juga untuk ritualnya"


Di saat mereka sedang serius berbincang-bincang, Mbok Darsem datang menghampiri mereka sambil membawa beberapa gelas air putih.


“Oh ya, Mbok tahu gak, paman David sekarang tinggalnya dimana..?”


“Mbok kurang tahu Den. Memangnya ada perlu apa sama paman Den david”


“Gak apa-apa kok, Mbok. David cuma ingin silaturahmi aja” ujar David.

__ADS_1


“Oh ya, Vid. Selain Mbok Darsem, gak ada lagi yang tahu keberadaan paman loe?”


“Gak ada, Bell. Yaudah pokoknya besok malam kita harus kembali ke villa itu!”


__ADS_2