
Sesampainya di kamar, Silvi segera rebah-rebahan di atas ranjang tidur yang lumayan nyaman. Seketika itu juga Mocil segera menghampiri dan merebahkan tubuhnya juga di samping Silvi. Merasa terganggu Silvi mendorong tubuh Mocil hingga terjatuh.
"Tega banget loe, Sil,"
"Biarin. Gue kan perempuan, kita bukan muhrim. Loe sekarang tidur di lantai,"
Dengan pasrah Mocil menerima kenyataan. Dia langsung memejamkan mata di lantai yang terasa sangat dingin. Namun, ketika Mocil hendak memejamkan matanya. Dia merasakan keanehan, tiba-tiba dia mencium bau amis yang sangat menusuk hidungnya. Karena sangat terganggu, Mocil segera mencari muasal bau itu.
Sesampainya di depan kamar mandi rumah tua itu. Mocil merasa yakin bau amis itu berasal dari dalam kamar mandi. Dengan hati-hati Mocil membuka pintu, namun setelah dia membuka pintu kamar mandi. Dia sangat terkejut, karena dia melihat darah segar berada dimana-mana. Mocil panik, dia segera pergi menuju kamar rekannya.
Dengan sekuat tenaga dia menggedor-gedor pintu dimana rekannya sedang tertidur. Tak lama menunggu.
"Loe kenapa, Cil,"
"Ada pembunuhan!"
"Pembunuhan? Loe serius, Cil?"
"Gue serius. Di dalam kamar mandi banyak banget darah. Gue yakin di rumah ini telah terjadi pembunuhan"
Penasaran dengan penjelasan Mocil. Denis dan David segera pergi ke kamar mandi untuk mengecek kebenarannya. Sesampainya di sana. Mereka tak menemukan darah sedikit pun. Denis dan David merasa itu hanya halusinasi Mocil saja.
__ADS_1
"Loe mimpi kali, Cil?"
"Gue serius. Tadi di kamar mandi banyak banget darah pada berceceran,"
"Sudahlah, itu cuma halusinasi loe saja kali."
Namun, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kehadiran nenek tua pemilik rumah itu yang sedang membawa bangkai burung gagak hitam.
"Kalian sedang apa disini?"
"Kami, kami sedang kebelet Nek," Jawab David. Saat itu juga mereka bertiga meninggalkan nenek tua itu dengan tergesa-gesa.
"Mungkin yang loe lihat itu darah burung gagak yang di bawa sama nenek itu kali, Cil"
"Mungkin buat besok kita sarapan" Jawab Denis bercanda.
"Ah loe nakut-nakutin gue aja, masa gue makan burung gagak!"
Keesokan harinya. Nasib apes lagi-lagi menimpa mereka. Ketika Denis hendak menghampiri mobilnya, entah kenapa keempat roda mobilnya itu kempes semua, seperti ada bekas sayatan pisau belati di setiap roda mobil. Denis sangat bingung, dia merasa ada yang ganjil.
"Gimana, Den. Mobilnya sudah bisa belum?"
__ADS_1
"Belum, Sil! Ban mobil semuanya kempes." Jawab Denis..
"Kempes, Den? Kok bisa, sih?" Tanya David heran.
"Gue juga gak tahu, kayaknya ada yang ngejahilin. Soalnya ada bekas sayatan pisau di ban mobil gue itu,"
"Terus kita pulang gimana dong?" Tanya Mocil.
"Gue juga gak tahu, Cil,"
"Yaudah, gue telepon jasa paman gue dulu deh. Biar mobil kita di derek," Ucap David. Namun sayang. Sinyal di pedesaan itu tak cukup mampu menjangkau jakarta.
"Gak ada sinyal, Den!"
Di saat mereka sedang kebingungan. Nenek pemilik rumah tua itu menghampiri mereka dengan senyum misteriusnya.
"Ada apa, Nak?"
"Maaf, Nek. Entah kenapa mobil kami ini semua bannya jadi kempes."
"Terus bagaimana kalian bisa pulang Nak?"
__ADS_1
"Kami juga belum tahu, Nek. Kayaknya kita semua harus jalan kaki menuju desa yang kami tuju itu," Jawab Denis resah.