
Sesampai di kediaman Bella.
“Loe kenapa, Ren?”
“Gue habis di datangin kuntilanak itu, Bell”
“Loe serius, Ren”
“Gue serius, kalau tadi si David gak datang kerumah gue, mungkin gue udah tewas di tangan kuntilanak itu, Bell” tegas Rendi resah.
“Kayaknya, kita harus menyegel kuntilanak itu secepatnya, Vid?”
"Caranya gimana, Bell?"
“Gue juga gak tahu!"
“Gue gak mau mati di tangan kuntilanak itu” tegas Rendi cemas.
“Gak ada cara lain, Ren. Selain menyegel Kuntilanak itu kembali kedalam cermin!"
“Coba aja waktu itu gue dengerin perkataan si Silvi, mungkin semua gak akan kayak gini”
“Sudahlah, Ren. Loe tenangkan diri aja dulu. Oh ya, gue mau ngambil air minum buat loe berdua” ujar Bella. Namun, tiba-tiba Rendi merasa pusing.
“Loe kenapa, Ren?”
“Kepala gue sakit banget, Vid"
Setelah mengembalikan notebook milik Bella, mereka berdua pun pamit pulang.
***
keesokan harinya.
__ADS_1
Siang itu Bella dan David sedang berada di kantin membicarakan kejadian yang semalam.
"Gimana, Vid. Kabar si Rendi?"
"Tadi pagi sih dia udah agak baikan"
"Masih di rumah loe?"
"Udah engga, Bell. Tadi gue antar pulang sekalian berangkat ke kampus"
“Oh ya, Vid. Kenapa di villa milik loe itu ada Kuntilanaknya?”
“Sebenarnya, kuntilanak itu peliharaan Nenek gue, Bell. Yang secara turun temurun di wariskan ke anak cucu-cucunya.”
“Peliharaan? jadi Nenek loe sengaja melihara Kuntilanak itu”
“Iya, Bell. Agar usaha keluarga gue semakin maju. Kata Mbok Darsem, dulu kuntilanak itu jinak. Tapi semenjak gak bisa di kontrol dan selalu minta tumbal hidup, Kuntilanak itu di segel, Bell”
"Jadi, cermin tua yang ada di kamar terlarang itu umurnya sudah puluhan tahun?"
“Kenapa bisa pindah ke dalam cermin, Vid?”
“Kuntilanak itu juga pernah terbebas, Bell"
“Loe, serius?”
“Waktu itu gue masih kecil, gue belum tahu banyak. Semenjak kuntilanak itu bebas, udah banyak yang jadi korban akibat keganasannya. Jadi kedua orang tua gue meminnta bantuan ke paman gue yang ahli supranatural untuk menyegel kuntilanak itu. Dan mereka berhasil menyegel kuntilanak itu kedalam cermin tua, Bell. Tapi, sayang kedua orang tua gue tewas saat kejadian itu”
"Itu villa memangnya bekas rumah siapa, Vid?"
“Itu rumah sewaktu gue masih kecil, Bell. Semenjak kejadian dua puluh tahun silam, rumah gue gak pernah di huni lagi dan sekarang yang mengurus bekas rumah gue itu Pak Darso sama Mbok imah, Bell”
“Pak Darso sama Mbok Imah, tahu gak tentang cermin tua itu”
__ADS_1
“Tahu, Bell. Sebenarnya tugas dari Pak Darso sama Mbok Imah bukan menjaga bekas rumah gue aja. Tapi, menjaga agar cermin tua yang berada di dalam kamar terlarang itu gak hilang” tegas David
"Pantes Pak Darso ngelarang banget untuk masuk ke kamar itu!"
Silvi pun datang menghampiri mereka.
“Serius banget?” ujar Silvi dengan santainya.
“Loe habis dari mana, Sil?”
“Gue habis dari perpustakaan, Bell. Oh ya, Bell. Gimana keadaan si Rendi?”
“Gue belum kerumahnya lagi, Sil"
“Nanti malam kita kerumahnya aja deh” papar David.
"Kenapa gak sekarang aja?"
"Gue gak bisa, Sil. Gue mau nganter Mbok Ijah belanja bulanan"
"Gue juga sama, Sil. Paling bisanya malam"
“Tapi benar, Bell. Si Rendi di datangin kuntilanak itu"
“Kata dia sih gitu, emang kenapa, Sil?”
“Gue takut mimpi gue menjadi kenyataan, Bell. Gue gak mau mati, kayak si Radit” tegas Silvi cemas. Seketika Silvi merasa kepalanya seperti tertusuk benda yang begitu tajam.
“Loe kenapa, Sil?” tanya Bella heran.
“Gak kenapa-napa kok, Bell. Gue cuma pusing aja”
“Benar, loe gak kenapa-napa?” tanya Bella cemas.
__ADS_1
“Benar, Bell. Gue gak kenapa-napa, kok"
“Yaudah nanti malam kita rumah si Rendi aja” ujar Silvi resah.