VILLA

VILLA
BONUS BAB 2


__ADS_3

Sesampainya di mobil.


"Lama banget sih, Den?"


" lumayan jauh, Sil."


"Terus gimana, dapet bensinnya?"


"Gue ga sempet ke warung itu, shil, habis tiba-tiba datang kabut, jadi gue sama David mutusin balik lagi "


"Aduh, gimana sih. Perjalanan 'kan masih jauh Den,"


"Iya, Sil. Gue juga tahu, terus harus gimana lagi,"


"Mending kita nginap di rumah itu aja, Den. Kasihan Si Silvi kayaknya ngantuk berat,"


"Gue juga sama, Vid. Mata gue sudah berat banget," Potong Mocil.


"Tapi, loe gak ngerasa ada yang aneh. Masa di tengah jalan kosong gini, ada rumah gede. Sudah gitu seram banget lagi,"


"Dari pada tidur di mobil? Loe mau, Den?"

__ADS_1


"Iya, juga sih. Yaudah kita coba kerumah itu, siapa tahu ada kamar kosongnya,"


Tanpa pikir panjang Denis, David, Mocil dan Silvi beranjak dari dalam mobil menuju rumah tua itu. Namun, sebelum sampai di rumah tua itu, Silvi sangat terkejut. Karena dia melihat sosok bayangan hitam di jendela rumah tua itu.


"Loe kenapa, Sil?"


"Ga kenapa-kenapa kok' Den. Tadi gue ngelihat kayak ada orang di jendela memperhatikan kita,"


"Mungkin itu yang punya rumahnya, Sil. Loe tenang saja,"


Sesampainya di rumah tua itu, Denis segera mengetuk pintu. Tak lama menunggu, tiba-tiba pintu di bukakan oleh seseorang dari dalam rumah tua itu. Mereka sangat kaget, saat melihat seseorang dari balik pintu itu. Terlihat wanita tua dengan daun sirih di mulutnya.


"Kalian siapa?"


"Disini tidak ada kamar kosong. Kalian boleh pergi!"


"Tapi, Nek. Kami dari jakarta. Jakarta sangat jauh dan kami semua sudah sangat kelelahan, satu malam saja Nek," Ujar David.


"Baiklah, siapa nama kalian?"


"Saya Denis, ini sahabat-sahabat saya. David, Mocil dan yang cantik ini Silvi,"

__ADS_1


"Baiklah, kalian boleh menginap disi,"


Mereka segera masuk kedalam rumah tua itu. Sesampainya di dalam mereka di beri dua ruang kamar. Denis bersama David sedangkan Mocil bersama Silvi.


"Terimakasih ya, Nek. Sudah mengijinkan kami menginap disni,"


"Tapi, ingat. Kalian gak boleh memasuki kamar di ujung sana,"


"Baik, Nek. Oh, ya. Kalau soal pembayaran uang penginapan besok bisa kami lunasi," Ucap Denis.


"Kalian gak perlu membayarnya,"


"Yang benar, Nek."


"Kalian cukup membayar sewa menginap kalian dengan darah," Tegas Nenek misterius itu.


Mendengar ucapan nenek tua itu, serentak mereka merasa heran. Namun, karena kelelahan, mereka tak perduli dan langsung pergi menuju kamar masing-masing.


Sesampainya di kamar, Silvi segera rebah-rebahan di atas ranjang tidur yang lumayan nyaman. Seketika itu juga Mocil segera menghampiri dan merebahkan tubuhnya juga di samping Silvi. Merasa terganggu Silvi mendorong tubuh Mocil hingga terjatuh.


"Tega banget loe, Sil,"

__ADS_1


"Biarin. Gue kan perempuan, kita bukan muhrim. Loe sekarang tidur di lantai,"


Dengan pasrah Mocil menerima kenyataan. Dia langsung memejamkan mata di lantai yang terasa sangat dingin. Namun, ketika Mocil hendak memejamkan matanya. Dia merasakan keanehan, tiba-tiba dia mencium bau amis yang sangat menusuk hidungnya seperti bau darah. Karena sangat terganggu, Mocil pun segera mencari muasal bau itu.


__ADS_2