VILLA

VILLA
BAB 13


__ADS_3

Siang itu David sedang memandangi foto keluarga besarnya sambil menggenggam buku yang dulu pernah di gunakan untuk membebaskan kuntilanak itu. David merasa sudah putus asa.


"Yah, Mah. David harus apa?" David hanya berdiri memandangi foto itu. Namun, David menemukan sesuatu keanehan. Ketika dia membuka halaman terakhir buku itu. David melihat gambar kalung yang di pakai oleh Bella dan kalung itu juga di pakai oleh salah satu wanita yang berada di foto keluarga besarnya itu.


"Mbok, kesini deh sebentar?" Panggil David. Mbok Darsem yang sedang berada di dapur segera menghampirinya.


"Kenapa, Den?"


"Mbok kenal dia siapa?" Tanya David menunjuk salah satu foto.


"Itu istrinya paman Den David. Memang kenapa, Den?"


"Oh gak apa-apa Mbok. Yaudah David hanya mau tau tentang foto ini aja" Mbok Darsem pun pergi meninggalkan David. David terus memperhatikan foto itu. Karena, dia merasa heran, wanita yang berada di dalam foto itu memakai kalung persis seperti yang di pakai oleh Bella, yang dimana Kuntilanak itu ketakutan saat melihatnya.


"Kenapa kalungnya bisa sama?" Tanya hati David. David pun segera menuju kampus.


Sesampainya di kampus. David langsung menghampiri Silvi dan Radit.


“Sil, loe lihat si Bella gak?”


“Dia lagi gak enak badan, mmang kenapa, Vid..?” tanya Silvi heran.


“Ada sesuatu yang mau gue kasih tahu ke dia, Ren"


“Kasih tahu apa, Vid?”


“Yaudah, nanti balik dari kampus kita kerumahnya aja” ujar David.


Waktu pun semakin berlalu. Setelah pulang dari kampus, mereka bertiga langsung pergi menuju kekediamannya Bella.


**


“Tumben, loe bertiga kerumah gue?” tanya Bella.


“Katanya loe lagi gak enak badan. Mangkannya gue mampir” ujar David.


“Gue cuma pusing aja kok. Yaudah masuk aja” ujar Bella.


Sesampainya di dalam rumah, mereka bertiga langsung di persilahkan duduk di sofa yang lumayan empuk.


“Bell, Sebenarnya loe dapat kalung itu dari mana?"


“Maksud loe, kalung ini, Vid?” ujar Bella memegang kalung yang berada di lehernya.


“Iya, Bell. Kalung yang loe pakai”


“Ini kalung pemberian dari Ibu gue, Vid. Sewaktu gue masih kecil”

__ADS_1


“Loe serius, Bell"


“Gue serius. Ini peninggalan satu-satunya dari Ibu gue” tegas Bella.


Setelah mendengar penjelasannya. David pun menunjukkan gambar foto yang ada di buku itu.


“Coba deh, Bell. Loe lihat gambar ini!"


“Kenapa bisa mirip, Vid?"


“Gambar ini, sama persis kan dengan kalung yang loe pakai?”


“Iya, Vid loe benar. Kok, bisa sama sih”


“Jangan-jangan, kalung itu masih ada sangkut pautnya sama kuntilanak itu"


“Maksudnya, Vid?” tanya Bella heran.


“Gue benar-benar gak ngerti sama omongan loe berdua" ujar Rendi.


"Iya, nih" papar Silvi.


“Kalian lihat kalung di gambar ini, sama kan dengan kalung yang di pakai si Bella”


“Iya, Bell. Kok bisa sama?” tanya Silvi heran.


“Tapi, Vid. Gue kan kenal loe semenjak kuliah aja”


“Terus, kenapa kalung pemberian Ibu loe bisa sama persis”


“Gue juga ga tahu, Vid"


“Kapan-kapan loe mampir aja ke rumah gue. Gue mau nujukin seuatu” ujar David.


“Yaudah, jangan terlalu di pikirin, mungkin itu cuma kebetulan aja, Vid” papar Rendi.


Namun saat itu juga keanehan pun terjadi. Tiba-tiba, Rendi merasakan mual dan kepalanya serasa begitu sakit.


“Loe kenapa, Ren?”


“Gue gak tahu, Bell. Kepala gue sakit banget" ujar Rendi sambil menahan rasa sakit. Dan seketika darah segar keluar dari lubang hidungnya. Melihat keanehan itu Bella, Silvi dan David begitu heran dan mulai merasa cemas.


“Badan gue juga panas, Bell!” ujar Rendi yang langsung pingsan tak sadarkan diri


Setelah siuman dari pingsannya.


“Loe gak kenapa-napa, Ren”

__ADS_1


“Gue gak kenapa-napa kok, Bell” tegas Rendi, meskipun hatinya masih di landa kecemasan.


Saat itu juga David, Rendi dan Silvi pun memutuskan untuk pulang.


***


Malam itu Silvi memutuskan untuk menginap di kediamannya Bella.


“Rumah loe sepi banget, Bell?” tanya Silvi.


“Gue kan tinggal berdua aja sama Mbok Ijah”


“Mbok Ijah siapa, Bell?”


“Mbok Ijah yang ngerawat gue dari masih kecil, Sil!"


"Memangnya Orang tua loe kemana, Bell?”


"Jelasnya gue juga lupa, semenjak kecil gue udah di rawat sama Mbok Ijah, Sil"


“Loe, pasti sayang banget sama Mbok Ijah?”


“Mbok Ijah kan udah gue anggap orang tua gue sendiri, Sil!"


“Oh ya, Bell. Gue numpang ke kamar mandi dong, kebelet nih" ujar Silvi.


Setelah berada di dalam kamar mandi, keanehan pun terjadi. Dia merasa seperti sedang di awasi oleh seseorang. Ketika hendak membasuh wajahnya, dia sempat melihat sekilas sosok bayangan hitam berambut putih yang begitu menyeramkan dari pantulan cermin.


"Ada yang gak beres, nih!" Keluh Silvi. Silvi benar-benar begitu cemas. Dan Cermin yang berada tepat di hadapannya tiba-tiba retak. Karena takut, Silvi langsung bergegas pergi.


Sesampainya di ruang tamu.


“Loe kenapa, Sil?” tanya Bella heran.


"Gak kenapa-napa kok, Bell!"


"Loe kayaknya lagi kurang sehat, Sil"


***


Disisi lain.


Malam itu Rendi begitu cemas. Dia masih memikirkan tentang sosok kuntilanak itu. Namun lagi-lagi dia mengalami apa yang dia alami di kediamannya Bella.


Lama-kelamaan sakit yang di rasakan pun semakin menjadi yang langsung membuatnya terjatuh pingsan tak sadarkan diri. Dalam ketidaksadarannya Rendi pun bermimpi. Dia bermimpi berada di tengah hutan. Kedua tangannya terbelenggu rantai.


Saat itu Rendi benar-benar tak berdaya. Mimpi yang di rasakannya seperti nyata. Seketika angin kencang datang bersamaan dengan satu sosok kuntilanak yang langsung mencabik-cabik seluruh isi perutnya.

__ADS_1


__ADS_2