
Sesampainya di dalam rumah.
"Nih, nasi gorengnya, Ren!"
"Kok, cuma satu, Dit?"
"Gue udah makan di sana tadi!"
"Pantes lama" ujar Rendi. Karena sudah lapar, Rendi pun bersiap-siap untuk memakannya. Namun, setelah bungkusan nasi goreng itu dia buka. Rendi benar-benar kaget, karena yang dia lihat nasi goreng itu di penuhi dengan belatung.
"Dit, yang loe beli apaan?" Tanya Rendi. Radit melihat bungkusan nasi goreng itu. Radit seketika mual dan merasa ingin muntah saat melihatnya.
***
Keesokan harinya di kampus.
Radit, Rendi dan Silvi sedang berada di kantin.
"Sil, semenjak melakukan ritual itu, loe ngalamin hal atau sesuatu yang aneh gak?"
"Engga, Dit. Memang kenapa?"
"Semalam gue sama si Rendi dapat gangguan yang menurut gue di luar nalar"
"Ah, itu paling cuma halusinasi loe berdua aja"
"Gue serius, Sil" ujar Radit.
__ADS_1
"Yaudah jangan di ambil pusing, gue duluan ya ke kelas" Silvi meninggalkan mereka berdua menuju kelasnya. Sesampainya di dalam kelas, satu mata pelajaran pun di mulai. Karena bosan dengan mata pelajaran itu Silvi pun sangat merasa mengantuk. Baru beberapa detik Silvi memejamkan mata, dia melihat seisi ruang kelasnya sudah sangat sepi.
"Pada kemana yang lain?" Tanya hati Silvi. Seketika itu juga dia mendengar lengkingan seperti cakar yang sedang menggores pintu.
Silvi panik dan segera pergi meninggalkan kelasnya. Dia benar-benar kebingungan. Keadaan kampus benar-benar begitu sepi. Saat di ujung lorong kampus. Dia melihat seorang wanita sedang berdiri di pinggir pagar yang seketika langsung melompat. Silvi bergegas menghampirinya, setelah dia melihat kebawah, tidak ada seorang pun yang terjatuh. Namun, saat Silvi membalikan badan, muncul sosok wajah kuntilanak yang dulu pernah dia bebaskan. Silvi pun terjatuh dari lantai tiga dan terbangun dari tidurnya.
Dengan keringat dingin yang membasahi seluruh wajahnya, Silvi meninggalkan kelasnya dengan tergesa-gesa tanpa berpamitan dengan dosennya.
Saat mau keluar kelas, Silvi berpapasan dengan Radit dan Rendi. Dia juga sempat melihat goresan cakar di pintu kelasnya. Silvi benar-benar cemas.
"Kenapa tuh si Silvi?" Tanya Radit heran.
***
Malam itu Silvi sedang meminum segelas air putih dari dalam kulkas. Tiba-tiba, gorden jendela dapur tertiup angin. Melihat hal itu, Silvi pun menutup jendela dapurnya. Namun, seketika gelas yang dia taruh di atas kulkas terjatuh dengan sendirinya. Silvi kaget mendengar suara gelas yang terjatuh itu.
"Kok bisa jatuh?" tanya hati Silvi. Silvi bergegas membersihkan pecahan gelas itu. Namun, saat itu dia melihat sosok bayangan hitam melintas di hadapannya yang lewat begitu saja di depan pintu dapur. Karena takut, Silvi pun mengurungkan niatnya untuk membersihkan sisa pecahan gelas itu dan langsung pergi menuju kamarnya untuk tidur.
***
“Gue benar-benar cemas, Dit. Semenjak kita memulai ritual di villa itu”
“Gue juga sama, Sil. Perasaan gue gelisah banget”
“Itu cuma perasaan loe aja berdua” papar Rendi.
Di saat mereka sedang-berbincang-bincang dengan seriusnya. Bella dan David datang menghampiri mereka.
__ADS_1
“Kayaknya serius banget, lagi ngomongin apaan sih?” tanya Bella heran.
“Bukan apa-apa kok, Bell” ucap Silvi meskipun di benak hatinya masih ada sebuah pertanyaan yang mengganjal.
“Oh ya, Dit. Waktu di villa loe kenapa, sih?” tanya Bella heran.
“Gue juga gak tau, Bell. Tiba-tiba gue langsung pusing aja, terus gue udah lupa semuanya” ujar Radit.
"Emang loe punya riwayat penyakit apa, Dit?"
"Gue gak punya riwayat penyakit yang terbilang parah, sih"
"Terus, kenapa hidung loe keluar darah"
"Mungkin mimisan aja, Bell" ujar Silvi. Silvi langsung pergi meninggalkan mereka menuju perpustakaan.
“Loe mau kemana, Sil?”
“Gue mau ke perpustakaan, Bell. Loe mau ikut gak?"
“Gak deh, Sil. Lain waktu aja" ucap Bella.
Sesampainya di dalam perpustakaan, keanehan pun mulai di rasakan nya. Silvi merasa keadaan perpustakaan begitu sepi dan sunyi.
"Tumben sepi, gak kayak biasanya?" Ucap hati Silvi. Silvi tak memperdulikannya dan langsung mencari buku yang dia butuhkan.
Menit demi menit pun berlalu. Saat itu Silvi sedang duduk santai sambil membaca salah satu buku perpustakaan dan seketika dia merasa kakinya seperti di tarik-tarik oleh seseorang. Karena merasa terganggu, Silvi langsung melongok kebawah meja, namun tak ada seorang pun yang dia lihat.
__ADS_1
Silvi begitu cemas dan lagi-lagi keanehan pun terjadi. Secara tiba-tiba buku yang berada di dalam lemari perpustakaan tepat di hadapannya langsung terjatuh kelantai hingga membuat satu tumpukan buku yang berantakan.
Melihat hal itu, Silvi semakin gelisah. Silvi mencoba menghampiri tumpukan buku itu. Namun di saat dia sedang memperhatikan tumpukan buku itu. Tiba-tiba, dari dalam tumpukan buku itu muncul sosok tangan yang menyeramkan. Silvi benar-benar terkejut. Karena takut, Silvi langsung pergi tergesa-gesa meninggalkan perpustakaan menuju kantin.