
"Ara, ini laporan dari tim pemasaran mengenai produk baru."
Ara menerimanya, ia hanya menganggukan kepalanya pada Dena sembari memberikan seulas senyuman.
Dena meninggalkan ruangan sedangkan Ara merampungkan pencatatannya terhadap surat keluar dan masuk. Lalu Ara menyusun surat itu satu persatu untuk dimasukkan ke dalam stopmap.
Setelahnya Ara membuka dokumen yang diberikan Dena dan membacanya satu persatu. Penjualan memang meningkat, tim pemasaran memberikan kinerja yang baik, tetapi itu masih kurang sedikit dari target penjualan yang Shaka berikan. Sebenarnya memang target yang Shaka berikan terlalu tinggi.
Ara membawa stopmap berisi surat dan dokumen laporan tim pemasaran ke ruangan Shaka. Ara masuk tanpa mengetuk pintu, Shaka rupanya tengah mengerjakan sesuatu di komputer.
"Ini laporan dari tim pemasaran dan juga data surat masuk keluar hari ini. Tim pemasaran masih kurang menjangkau lima persen dari target yang diberikan, tapi aku pikir mereka akan bisa menjual banyak justru di bulan depan, itu karena toko-toko baru mulai buka."
Shaka mengangguk, "mereka harus memiliki target untuk juga memasuki mall-mall yang di luar kota bukan hanya di dalam kota saja. Maka dari itu aku memberikan target yang tinggi untuk mereka."
"Benar."
Ara mengalihkan perhatiannya pada Shaka, bibir lelaki itu tampak kering dan pucat begitu juga dengan wajahnya.
"Kamu sakit?"
Ara menyentuh kening lelaki itu, benar saja sensari panas ia rasakan. Rupanya suhu tubuh Shaka sangat tinggi.
"Kamu panas banget loh!"
"Cuma pusing dikit."
__ADS_1
Tentu saja Ara tidak percaya, ia sudah menyentuh sendiri bagaimana kening lelaki itu panas.
"Istirahat dulu,"
Ara meraih tangan Shaka guna mengajaknya untuk beranjak, membuka sebuah pintu yang menghubungkan pada sebuah kamar. Kamar di ruangan Shaka itu tidak terlalu luas, hanya sebuah ranjang berukuran queen size, dan juga lemari satu pintu disana, cukup nyaman tetapi Shaka lebih suka tidur di sofa daripada di kamar ini saat menginap di kantor.
Ara turun untuk mengambilkan air hangat dan juga minuman, Ara memberikan obat penurun panas dan juga mengompres kening dan leher Shaka. Membiarkan lelaki itu terlelap.
"Kenapa sih kamu sekarang sering banget sakit?"
Shaka memiliki penyakit bawaan yaitu asthma yang sudah parah, saat demam seperti ini tidak jarang Shaka akan mendapatkan serangan. Maka dari itu Shaka harus benar-benar menjaga dirinya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, itu artinya suaminya sebentar lagi akan pulang. &Viere memang belum sempat memasak jadinya tadi ia sudah menelpon suaminya untuk pulang membawa makanan.
"Mami!"
Queen berlari lalu memeluk Viere yang langsung digendong oleh ibunya itu, Queen kembali ke rumah dengan keadaan yang sudah mandi dan tidak lagi memakai baju yang tadi pagi Queen pakai.
Darren meletakan makanan di dalam plastik di meja, itu akan mereka gunakan untuk makan malam nanti.
"Gimana kalau kita pindah?"
Viere dan Darren menyewa sebuah rumah yang memiliki dua lantai, meski tidak terlalu mewah tetapi biaya sewanya lumayan mahal. Mereka membayar untuk sewa satu tahun, karena saat itu dibiayai oleh ayah Viere. Tetapi sekarang sewanya sudah mau habis, dan harus mengandalkan uang sendiri untuk membayarnya.
__ADS_1
Darren memang sudah menambung dan menyisihkan uangnya, tetapi itu tidak seberapa, paling hanya bisa menyewa rumah ini selama 2 bulan.
"Udah punya pandangan mau pindah kemana, Mas?"
"Katanya bibi Anna punya apartemen, dia mau nyewain ke kita buat setahun dengan harga yang miring, nanti aku bakal cari pinjaman buat bayarnya."
Viere memutar bola matanya, sudah bukan hal baru lagi jika keluarga suaminya ini semuanya pelit, bahkan mertuanya sekalipun.
Mertuanya ini juga tahu jika Darren masih kekurangan uang dan butuh bantuan mereka untuk masalah finansial tetapi mertuanya itu sama sekali tidak ingin mengulurkan tangan. Membiarkan saja Darren dan Viere kekurangan uang dan kebingungan.
Sedangkan kepada kedua orang tuanya, Viere sudah cukup berterima kasih. Viere memiliki dua adik yang masih sekolah, selama ini orang tuanya masih bisa menyisihkan uang untuk diberikan pada Viere, ayahnya juga dahulu setiap tahun membayarkan sewa rumahnya. Tetapi sekarang kedua adiknya ini sama-sama akan memasuki tahun ajaran baru yang membuthkan cukup banyak uang.
"Bibi Anna itu kan deket banget sama kamu, kenapa nggak biarin kita tinggal dulu aja? Sampai kita punya uang baru bayar, tega banget sampai kita harus cari pinjaman kesana-kemari."
Darren hanya bisa menunduk mendengar hal itu, ia memang merasa gagal karena masih kekurangan dalam mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi apalah daya, gajinya itu juga sudah tidak terlalu rendah tapi nyatanya masih kurang karena kebutuhan mereka yang terlalu banyak.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^...
And, see you.
__ADS_1