Wanita Simpanan Tuan Shaka

Wanita Simpanan Tuan Shaka
23. Pulang Tanpa Shaka.


__ADS_3

"Akhirnya kamu pulang juga ya, Nak." ucapan itu berasal dari ibu Shaka yang tengah menggandeng Kalina.


Mereka tengah berjalan keluar dari rumah sakit untuk kembali ke rumah, Kalina pada siang ini sudah bisa pulang. Keadaannya sudah sangat baik sekarang.


Ibu dan ayah Kalina tengah pergi tugas ke luar negeri baru berangkat tadi pagi sehingga tidak bisa ikut mengantarkan Kalina pulang dari rumah sakit sehingga sekarang hanya ada ibu dari Shaka yang mengantar Kalina.


"Maaf ya Ma, jadi ngrepotin Mami harus nganterin Kalina pulang gini."


Kalina memang sudah sangat sehat tetapi tetap saja ibu mertuanya ini memiliki rasa khawatir.


"Harusnya Mama yang minta maaf, Shaka malah udah pergi ke kantor aja. Tapi mungkin urusan kerjanya banyak jadi ya nggak bisa ambil libur lagi, tolong di maklumi ya Sayang."


"Iya Ma, Kalina paham. Lagian kan kemarin Lusa Mas Shaka udah nemenin aku semalan."


Ibu Shaka sebenarnya sudah tahu jika Shaka tidak terlalu menerima pernikahan ini, ia sebenarnya tidak terlalu memaksa juga jika Shaka tidak menginginkannya. Pernikahan ini atas kehendak ayah Shaka dan tidak ada yang bisa membantahnya.


Ibu Shaka hanya sesekali mengingatkan jika Shaka seharusnya tidak bersikap seburuk itu pada Kalina, tetapi ia tetap menutupi keenggan Shaka akan pernikahan ini pada Kalina. Ia tetap memperlakukan Kalina sebaik mungkin sebagai seorang menantu untuknya.


***


Ara menenteng dua buah kresek transparan yang berisi kotakmakanan, ia baru saja memesan di aplikasi makanan delivery. Ia membawa makanan itu masuk ke dalam ruanga  Shaka. Di dapatinya Shaka tengah sibuk dengan komputernya, lelaki itu tengah mengurus beberapa hal.


Ara meletakan kotak makanan itu di meja, lalu ia beranjak lagi menuju ke meja kerja Shaka.

__ADS_1


"Makan dulu,"


Shaka mengalihakn perhatiannya pada Ara, "Bentar Sayang ini dikit lagi selesai."


Ara memperhatikan layar komputer yang menampilkan proposal pelaporan keuangan, Shaka mengatakan sudah mau selesai padah itu baru saja tiba di tengah halaman.


"Nggak, Harus makan sekarang!"


Shaka menurut, ia melangkahkan kakinya mengikuti Ara menuju ke sofa yang berada di ujung ruangan.


Ara membuka satu persatu dari empat kotak makanan yang ia pesan. Meski memesan makanan tetapi Ara tetap memesan menu sehat. Disana ada nasi, tumis ayam jamur, sayur sop, sei daging, tidak lupa salad sebagai makanan penutup juga ada.


Shaka dan Ara lekas menyantap makanan itu.


"Besok kamu pulang, Sayang?"


"Iya, Ibu nelfon katanya uangnya habis, padahal kemarin aku kasih lebih. Aku curiga deh kalau digunain sama Gani."


Gani adalah ayah tiri Ara, sejujurnya Ara sangat tidak menyukai orang itu. Jika bukan mengingat dia adalah suami ibunya dan ayah dari adiknya Ara tidak sudi memberikan uang kepada pengangguran itu.


Kemarin Ara memang memberikan uang lebih pada ibunya, Ara yakin sejumlah itu tidak akan habis secepat ini. Ibunya bukanlah tipe orang yang boros karena ia tahu bagaimana susahnya cari uang.


Tetapi ibunya ini terkadang tidak bisa melawan saat ayah tirinya meminta uang dengan kasar, mau tidak mau harus dikasih.

__ADS_1


"Apa cinta ibu kamu begitu besar, sampai tetap mau bertahan hingga sekarang?"


Ara juga sangat heran kepada ibunya, bagaimana bisa ia tetap bertahan dengan apa yang selama ini ayah tirinya lakukan. Tidak bekerja sama sekali dan taunya hanya meminta uang, lelaki tanpa tanggung jawab seperti ini seharusnya dibuang jauh-jauh.


"Karena cinta itu buta, ibu udah jatuh cinta terlalu dalam sehingga selalu bisa sabar."


Ara sekali dulu pernah bertanya ke ibunya, mengenai bagaimana ibunya itu tetap tahan menghadapi ayahnya. Ibunya itu rela bekerja sampai ke luar negeri menjadi TKW untuk menghidupi lelaki itu dan mereka semua.


Dengan begitu gamblangnya ibu mengatakan jika melalukan itu karena ia mencintai suaminya, ibu juga mengatakan jika sebelum menikahi ayah kandung Ara ibunya itu sudah berpacaran dengan Gani. Setelah ibu menjanda, barulah Gani ini menikahi ibu.


Awalnya semuanya baik-baik saja, Gani berasal dari keluarga yang berkecukupan dengan kedua orang tuanya memiliki lahan pertanian, biaya hidup mereka semua berasal dari lahan yang digarap orang tua Gani.


Tetapi itu tidak bertahan lama, karena setelah kedua orang tua Gani meninggal. Ladang tidak ada yang mengurus, Gani tidak memiliki keahlian di bidang itupun terpaksa menjual tanahnya. Hasil dari menjual tanah itu digunakan untuk makan sehari-hari, sedangkan Gani tetap memilih untuk menganggur.


Uang hasil penjualan tanah meski cukup banyak, tetapi lama kelamaan tetap tetap habis tak bersisa. Gani juga memilih menjual rumah peninggalan orang tuanya untuk bertahan hidup. Ia mulai mencari kerja tetapi baru beberapa hari bekerja saja sudah dipecat, karena itulah ia menjadi semakin malas dan ibu lah yang akhirnya memutuskan pergi ke liar negeri karena kebutuhan sudah terlalu banyak.


"Ya, itulah kekuatan cinta." Sahut Shaka dengan sebuah senyuman.


...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...


...Dont forget to click the vote button!...


...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

__ADS_1


Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^


And, see you.


__ADS_2