Wanita Simpanan Tuan Shaka

Wanita Simpanan Tuan Shaka
29. Baik-Baik Saja Atau Tidak?


__ADS_3

Ara tengah menyantap makan siangnya di ruang istrirahat kantor, ia membeli makanan di kantin karena tadi pagi tidak sempat untuk memasak. Biasanya Ara selalu makan siang bersama Shaka di ruangan Shaka, tetapi lelaki itu mengatakan jika kerabatnya ada yang sakit sehingga harus datang menjenguk ke rumah sakit.


Sehingga Ara lebih memilih pergi ke kantin untuk memesan makanan, juga merindukan makan di kantin seperti ini. Kantin tidak terlalu ramai jam makan siang memang bisa diambil dari jam dua belas hingga tiga, selama satu jam saja dan sekarang adalah jam dua, jarang orang yang masih makan jam segini.


"Hai,"


Seorang lelaki tiba-tiba saja berdiri di meja depan Ara. Gadis itu menghentikkan makannya dan mengalihkan perhatian pada lelaki di depannya.


"Arga?"


Lelaki di depannya ini pernah mengenalkan diri sebagai sepupu dari Shaka sekaligus rekan kerjanya.


Arga mendudukan dirinya di kursi sebelah Ara.


"Boleh ikut duduk kan?"


"Iya duduk aja, kok tumben kesini, bukannya ada yang lagi sakit ya?"


Keperluan Arga kesini tentu untuk meeting atau hal lainnya jika itu sebagai rekan kerja, tetapi hari ini tidak ada jadwal meeting atau hal lainnya, sehingga Shaka pun bisa pulang lebih awal.


"Iya aku udah dari pagi jengukin om Arman, kasian dia udah nggak bisa apa-apa. Eh, kamu tau dari mana kalau ada yang sakit?"


Om Arman ini adalah putra sulung nenek, ia memang sudah lama menderita stroke tetapi keadaanya menurun beberapa hari lalu. Ia tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa terbaring di ranjang saja.


"Iya, kan Tuan Shaka pulang lebih awal, katanya mau jengukin kerabatanya."


Ara tidak terbiasa menyebut Shaka dengan sebutan Tuan, rasanya itu sangat aneh untuk dirinya. Tetapi ia haruslah begitu, jika tidak tentu saja keprofesionalannya akan di pertanyaan.


"Oh gitu."


Makanan milik Arga di antarkan, lelaki itu lekas menyantapnya.

__ADS_1


"Ara boleh minta nomornya nggak?"


Tawaran itu disertai juga dengan Arga yang menyodorkan ponselnya yang sudah membuka tombol telepon.


"Boleh."


Ara memberikan nomor teleponnya kepada orang di depannya ini, ia rasa Arga adalah orang baik-baik. Dia bukan seperti orang yang sembrono dan akan macam-macam, lagi pula Arga ini adalah rekan kerja, jadi tidak ada alasan juga untuk menolaknya.


***


"Aku nggak nyangka Vie, Mas Shaka setega ini sama aku."


Kalina tengah pergi ke apartemen Viere untuk menceritakan isi hatinya yang tengah sedih karena Shaka, perkataan Shaka tadi pagi juga cukup menyentil hatinya.


Meski sebenarnya Shaka hanya memberitahu jika Kalina jangan terus berharap karena harapan itu akan sia-sia tetapi tetap saja rasanya sangat sakit mendengarkan hal itu.


"Yang kurang ajar sih Arabella, dia manfaatin Shaka buat kehidupan glamournya. Aku inget banget dulu Ara itu orang miskin banget, buat makan aja susah tetapi sekarang dia bisa punya unit kelas suite yang bahkan nggak mampu aku beli. Emang bener-bener pelakor nggak tau diri."


Mendengar Shaka memberikan banyak uang pada selingkuhannya tentu Kalina merasa sedih, di awal pernikahan memang Shaka memberikannya kartu atm berisi uang banyak dan juga kartu kredit yang memiliki limit besar. Tetapi Kalina sama sekali belum menggunakannya, ternyata selain memberinya uang Shaka juga memberikan uang pada selingkuhannya.


"Ya karena ada pelakor, coba aja nggak ada."


"Dia pulangnya jam berapa?"


Kalina datang kesini memang juga ingin melabrak Ara juga.


"Nggak lama lagi sih, kenapa nggak labrak aja di kantor biar semua orang tahu jika dia itu tenyata adalah seorang pelakor." ucap Viere dengan nada kesal, sekarang ini Viere sangatlah membenci Ara.


Kalina menggeleng, "Enggak Vie, nggak boleh ada yang tahu dulu sebelum kita bertiga."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Hal ini terlalu memalukan."


Kalina juga tentu akan ikut malu, karena sebuah perselingkuhan pasti ada penyebabnya, ia takut di gosipkan tidak bisa memuaskan suaminya sehingga suaminya mencari diluar sana.


Kalina tidak ingin semua orang tahu terlebih dahulu, ia masih ingin mempertahankan rumah tangganya dan ia pun tidak akan mengatakan pada Shaka jika ia tahu perselingkuhannya. Tetapi entah nanti Shaka akan tahu atau tidak setelah Kalina datang melabrak Ara.


"Sabar ya Kal, emang perempuan menjijikan itu harus segera dibasmi. Aku paling benci sama yang namanya pelakor itu."


Sebagai seorang wanita, melihat sahabatnya sendiri di selingkuhi tentu saja membuat Viere geram. Sedangkan yang menjadi selingkuhannya sendiri juga merupakan sahabatnya sendiri.


"Iya Vie, aku bisa kok kalo cuma hadapin pelakor aja."


"Padahal dulu tuh waktu sekolah, Ara murid yang pintar dan baik. Nggak nyangka banget dia justru milih jalan untuk menjadi pelakor biar bisa dapetin uang banyak."


"Kan dia sekretarisnya Mas Shaka, mungkin karena setiap hari bertenu sehingga Ara bisa terus godain Mas Shaka sampai berhasil buat cari perhatiannya."


"Iyasih, padahal kamu itu udah sempurna sebagai seorang istri, Shaka itu memang nggak bisa bersyukur ya punya istri macam kamu."


"Iya Vie, aku juga heran kenapa Mas Shaka nggak bisa hangat sama aku sampai sekarang."


Bukan membaik tetapi hubungan mereka masih saja tidak ada perubahan dari awal menikah, Shaka tetap tidak ingin sama sekali mendekat dan Kalina juga tidak pernah berhasil untuk membuat rumah tangga mereka hangat.


"Semoga aja setelah masalah dengan Ara ini selesai, Shaka bisa kembali lagi ke kamu."


"Iya, Vie. Makasih ya udah banyak bantuin aku."


...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...


...Dont forget to click the vote button!...


...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

__ADS_1


Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^


And, see you.


__ADS_2