Wanita Simpanan Tuan Shaka

Wanita Simpanan Tuan Shaka
30. Perbandingan Harga Diri.


__ADS_3

Kalina membawa paper bag berisi kotak bekal yang akan ia antarkan pada Shaka, ia pergi ke meja resepsionis yang dimana ia langsung diijinkan untuk naik ke lantai atas.


Sebenarnya perasaan Kalina ini sedang tidak karuan, ia akan bertemu dengan Arabella yang tadinya ia kenal sebagai sekretaris dari Shaka tetapi sekarang wanita itu hanyalah wanita yang merebut suaminya. Kalina sangat membenci perlakuan itu.


Kalina dengan mantap melangkahkan kakinya, dilihatnya Ara yang tengah duduk di mejanya dengan sebuah laptop di depannya. Wanita itu nampak sibuk.


Brakk,


Kalina menggebrak meja dengan paperbag yang ia bawa, Ara yang nampak sedikit terkejut pun menatap Kalina dengan tetapan bertanya-tanya.


"Ada apa ya—"


Kalimat pelannya itu terhenti karena Kalina memotongnya.


"Dasar pelakor nggak tahu malu, wanita busuk kaya kamu nggak pantas ya berada disini!"


Mendapatkan kalimat pedas itu Ara nampak masih tenang-tenang saja. Ara beranjak dari kursinya, kini ia berdiri untuk menyamai posisi Kalina.


"Apa maksud Ibu ya?" tanya Ara dengan nadanya yang masih saja berusaha profesional, padahal Ara tahu arah tujuan Kalina ini kemana.

__ADS_1


"Kamu pikir saya nggak tahu kelakuan busuk kamu? Kamu menggoda Mas Shaka terus terus-terusan minta uang kan ke dia? Kamu itu nggak tahu malu banget sih jadi perempuan, seharusnya kamu itu malu dengan perbuatan rendah itu."


Ara tentu tidak ingin kalah, ia bukanlah pelakor. Sedari dahulu ia memang sudah bersama Shaka, ia masih bersedia bertahan juga karena alasan cinta mereka berdua.


"Anda nggak pantas berbicara seperti itu jika tidak mengetahui kebenarananya!"


Yang tidak Kalina tahu adalah hubungan Shaka dan Ara yang sudah terjalin dari dahulu, Kalina tidak tahu jika saat sudah menikah pun yang ada di hati Shaka hanyalah Ara.


"Kebenaran jika kamu memang wanita menjijikkan?"


Ara tidak terpancing emosi, berbeda dengan Kalina yang nampak sudah sangat marah itu. Kalina begitu kesal sehingga amarah dengan cepat menguasai hatinya.


Ara sebenarnya malas untuk berdebat dengan Kalina, selain tidak ada gunanya juga Kalina ini memiliki status sebagai istri dari Shaka. Status itu yang sangat Ara tidak sukai, karena jika boleh egois ia ingin status itu diberikan untuknya saja.


"Merebut kata Anda? Seharusnya Anda bisa berpikir, alasan Shaka tidak menerima Anda sebagai istrinya?"


Mendengar kalimat itu Kalina semakin emosi, itu artinya Ara mengakui secara terang-terangan jika ia dan Shaka memang memiliki sebuah hubungan. Bukan cuma mengakui saja tetapi Ara juga membalikkan pertanyaan Kalina.


"Oh jadi sekarang kamu mengakui jika kamu memang seorang selingkuhan? Dasar wanita tidak tahu malu, seharusnya kamu sekarang malu sudah tertangkap basah seperti ini."

__ADS_1


Ara mengangguk, "Bukankah lebih memalukan seseorang yang mengemis cinta seseorang hingga meminta untuk dijodohkan dengannya adalah hal yang lebih memalukkan."


Kalina terdiam, ia kira tidak akan ada yang mengetahui jika yang pertama kali meminta untuk perjodohan itu dilakukan adalah Kalina. Bahkan Aslan sekalipun tidak mengetahui hal itu tetapi Ara yang merupakan orang luar justru mengetahuinya.


"Kamu!"


"Bukankah kalimat saya benar?"


Kalina tidak menjawabnya, ia sudah kepalang kesal. Ia memasuki ruangan Shaka, sedangkan Ara membiarkan saja padahal Shaka tengah tidak ada di ruangannya.


════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════


Dont forget to click the vote button!


════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════


Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^


And, see you.

__ADS_1


__ADS_2