
Ara menaut wajahnya di cermin, memoleskan sedikit blush-on di kedua sisi pipinya lalu sebuah lipstik yang berwarna merah ia jadikan campuran pada lipstik yang berwarna lebih pucat. Kini make-up nya sudah selesai, Ara melepaskan rol pada rambutnya yang ia cat berwarna blonde ash itu, sebenarnya ia belum terlalu lama mengganti warna itu. Ara tidak takut digunjing karena sering mengganti warna rambutnya, ia tidak terlalu peduli dengan kata orang lain di kantor.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Ara pun bangkit mengambil tas dengan merk dior yang berukuran tidak terlalu besar. Itu adalah hadiah dari Shaka saat ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga kemarin, Ara sangat menyukainya dan paling sering menggunakan tas itu saat bekerja.
Taksi online yang ia pesan sudah berada di depan apartemen sehingga ia tidak perlu lagi menunggu terlalu lama. Sebenarnya jarak kator dengan apartemennya ini juga tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja agar bisa sampai. Tetapi karena ini sudah sedikit terlambat sehingga Ara lebih memilih menaiki taksi online.
Ara telah sampai di kantor, ia langsung saja turun setelah membayar ongkos taksi. Sepatu heelsnya yang tinggi membuat kaki jenjangnya nampak semakin sempurna.
"Selamat pagi Bu Ara," dua orang wanita di lobby menyapanya, Ara pun balas tersenyum.
"Pagi."
Ara melanjutkan perjalanannya untuk melakukan absensi di mesin scaner dengan kartu pengenalnya. Selanjutnya barulah Ara datang ke arah lift, menekan tombol lantai 8 yang menjadi tujuannya. Di dalam lift itu Ara hanya seorang diri hingga ia sampai ke lantai 8.
Ara telah sampai di meja kerjanya yang berada di depan ruangan Shaka, ruangan Shaka tertutup sedangkan ruangan miliknya ini berdinding kaca. Hal ini adalah untuk mempermudah ia dalam memonitor ruangan pertemuan kecil di depannya.
"Pagi Sayang,"
__ADS_1
Ternyata Shaka telah lebih dahulu tiba, begitu mendengar langkah kaki Ara lelaki itu langsung keluar dari ruangannya dan menghampiri Ara.
"Ini di kantor, nanti ada yang dengar."
Shaka mengangguk, mengiyakan peringatan dari Ara.
Selama ini hubungan mereka selalu tertutup rapat, bahkan sebelum Shaka menikah pun mereka jarang mengumbar kemesraan bersama di depan umum, tentu untuk mencegah banyak kemungkinan buruk.
"Nanti jam sembilan ada pertemua sama orang dari perusahaan Madja, mereka ini memiliki bahan baku yang cukup baik, tetapi harganya memang sedikit mahal. Semoga saja kita bisa mendapatkan harga terendah dari mereka." jelas Ara.
Shaka mengangguk, Shaka tahu seberapa profesionalnya Ara. Kekasihnya ini selain berpenampilan menarik dan cantik, ia juga sangat totalitas dalam bekerja. Perusahaan manapun akan sangat membutuhkan seseorang dengan kinerja seperti Ara ini.
Ara memperhatikan wajah lelaki itu yang nampak pucat, Ara memegang dahi lelaki itu dan benar saja hawa panas langsung bisa ia terima.
"Enggak,"
"Ngapain masuk kalo sakit!"
__ADS_1
Ara membuka salah satu pintu bufet di belakang kursinya, ia mengambil sebuah kotak obat dan mengambail beberapa butir obat yang bisa meredakan deman Shaka. Menuangkan air dari dispenser lalu memberikannya pada Shaka.
Ara menyeret kursinya membiarkan Shaka duduk disana, "Minum dulu,"
Shaka menurut, meminum obat itu dalam sekali tegukan lalu setelahnya barulah ia meminun air di gelas.
"Aku cariin sarapan dulu ya,"
Tanpa harus Ara bertanya, ia sudah yakin jika Shaka pasti tidak sempat sarapan. Jam ini masihlah terlalu pagi.
"Makasih Sayang."
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
__ADS_1
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.