
Ara kembali memperhatikan ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya. Ara tengah menunggu kabar dari Shaka yang memang sedari tadi belum ia dapatkan. Tadi siang Shaka nampak terburu-buru pergi keluar kantor dan sampai saat ini belum lagi kembali kantor padahal jam sudah mununjukkan pukul tujuh malam.
Ara mengambil kembali ponselnya dan mendial nomor Shaka, tetapi rupanya itu tidaklah membuahkan hasil apapun, karena nomor Shaka tetap saja tidak aktif.
"Sayang, "
Belum juga Ara meletakan ponselnya tetapi Shaka sudah muncul di hadapannya. Dengan raut wajah lelah dan juga jas yang sudah tersampir di tangannya.
"Kok kamu belum pulang?"
Pertanyaan itu tentu membuat Ara tidak habis pikir, sedari tadi ia menunggui Shaka dengan terus-menerus menghubunginya dengan harapan Shaka akan mengangkatnya dan barangkali memberikan kabar untuk dirinya, tetapi rupanya Shaka sama sekali tidak ada kamar.
"Kamu dari mana aja sih Mas? Kenapa nggak ada kabar sama sekali?"
"Maaf Sayang tadi aku ada urusan mendadak."
Sikap Shaka ini sedikit aneh, ia seperti menyembunyikan sesuatu dari Ara, tidak biasanya Shaka akan seperti ini. Apapun masalahnya akan selalu Shaka katakan pada Ara, biarpun masalah itu bukanlah masalah baik. Tetapi kali ini Shaka sama sekali tidak mengatakan urusannya.
"Urusan apa?"
__ADS_1
Shaka tidak menjawabnya, sepertinya kali ini memang sebuah hal yang tidak ingin sampai diketahui oleh Ara.
Setelah beberapa saat Ara masih saja menunggu jawaban dari Shaka, tetapi tetap saja sama seperti awal jika Shaka masih saja belum memberikan jawabannya.
"Nggak papa kalau kamu nggak mau cerita."
Meski nampak biasa saja karena tetapi Ara sangat kecewa, Shaka ini cukup aneh.
"Tadi Kalina kesini."
Ucapan itu tidak terlalu diperhatikan oleh Shaka, kedatangan Kalina bagaikan angin lalu saja, padahal Kalina ini adalah istri sahnya.
Shaka sedikit terkejut, pasalnya sedari kemarin Kalina juga tidak mengatakan apapun padanya mengenai hubungannya dengan Ara. Kalina sama sekali tidak menyinggung hal itu, bahkan tetap bersikap sebaik mungkin terhadap Shaka.
Yang Shaka khawatirkan adalah Kalina menyebarkan masalah ini hingga ke orang tuanya. Shaka tidak akan terima jika sampai Ara mendapatkan celaan. Karena pada dasarnya mereka sudah memiliki hubungan cukup lama.
"Nanti aku bilangin biar dia nggak nyebarin ke siapa-siapa."
Ara mengangguk, ia sudah tidak masalah sebenarnya masalah ini akan tersebar ke siapapun. Baginya yang terpenting Shaka masih berdiri di sampingnya maka semuanya aman. Ara tidak akan masalah jika sltu dunia mencacinya dan memusuhinya yang penting adalah Shaka berdiri di depan untuk melindunginya.
__ADS_1
Sejak saat itu Ara sudah mentap dengan keputusannya dan tidak perduli lagi dengan apapun kata orang-orang. Yang terpenting adalah kebahagiaannya sendiri.
"Kenapa ya Kalina masih mau bertahan? Kalau aku jadi Kalina, mengetahui suaminya punya wanita lain tentu akan langsung bercerai. Tetapi Kalina ini berbeda, tetap ingin mempertahankan rumah tangganya."
Biasanya seorang perempuan masih bisa bertahan adalah karena anak tetapi baik Kalina maupun Ara sendiri tetap bertahan karena Cinta. Mereka sama-sama mencintai Shaka dan saling tidak ingin melepaskannya.
Kalina memiliki Shaka dalam ikatan pernikahan tetapi tidak dengan hati lelaki itu, sedangkan Ara yang memiliki hati lelaki itu sepenuhnya tidak bisa bersama terikat dalam pernikahan. Hanya bisa puas menyandang status sebagai simpanannnya saja.
"Aku bakal perjuangin kamu, apapun jalan kedepannya." ucap Shaka pelan.
Ara mengulas sebuah senyuman, semoga kalimat Shaka itu benar adanya.
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
__ADS_1
And, see you.