
Ara menautkan wajahnya di depan cermin, ia sudah siap dengan penampilannya yang terlihat mencolok. Make-upnya itu meski terkesan natural tetapi membuat wajahnya lebih cantik, Ara mengepang rambut bagian kepalanya kanan dan kiri, sedangkan rambut belakangnya ia biarkan terurai.
Setelah merasa penampilannya sempurna, kini Ara mengambil sebuah sepatu heels di rak kaca. Memakainya lalu segera meninggalkan apartmennya.
Ara memutuskan untuk berjalan kaki saka untuk pergi ke kantor, karena ini masih terlalu pagi. Sesekali berolahraga sekalian melihat suasana pagi untuk menghilangkan pikirannya yang tengah suntuk.
Tin... Tin...
Bunyi klakson itu sedikit mengejutkannya, sebuah mobil berwarna silver berhenti di sampingnya. Kaca mobil itu dibuka, menampakkan seorang lelaki dengan jas rapinya.
Sepertinya wajah lelaki itu tidak asing bagi Ara, memutar ingatannya kembali tetapi Ara tak kunjung menemui jawaban.
"Masuk, saya mau ke kantor kamu juga."
Wajahnya memang tidak asing tetapi Ara masihlah gagal dalam mengenali lelaki ini.
"Maaf Anda siapa ya?"
Daripada salah orang lebih baik bertanya, meski sedikit malu juga.
"Saya Arga, mungkin kamu lupa kita pernah bertemu di penikahan Shaka."
Sekarang Ara baru mengingatnya, tetapi ia masih malu dengan kejadian itu. Ara menangis keras dan salah masuk kamar mandi, lelaki inilah yang berada disana dan memberikannya sapu tangan.
"Ayo masuk!"
Tanpa menunggu lagi Ara masuk ke dalam mobil itu, meski merasa belum mengenal dan malu tetapi lebih tidak enak lagi jika ia menolaknya.
"Siapa nama kamu?"
"Arabella, Tuan ini rekan bisnis atau siapa?"
__ADS_1
"Panggil aja Arga, bisa dibilang rekan bisnis tapi saya juga sepupu dari Shaka."
Ara mengangguk paham, selama ini ia belum mengenal terlalu dekat keluarga besar Shaka. Terlebih mereka kebanyakan berada di luar negeri. Yang Ara tahu hanya memiliki hubungan dengan Shaka tetapi takut jika ada keluarganya yang tahu.
Mereka sudah sampai di depan gedung, Ara turun disana.
"Terima kasih tumpanganya, lain kali aku traktir makan siang." ucap Ara sesaat sebelum turun.
Ara merasa perlu berterima kasih kepada lelaki ini, selain tumpangan pagi ini tetapi kalimatnya saat di pernikahan Shaka waktu itu juga membuatnya sedikit membaik.
Setelah mendapatkan anggukan dari Arga, kini Ara lekas turun dari mobil. Tak lupa ia menunggu mobil itu menjauh barulah melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobby.
"Cie... dianterin siapa tuh."
Ara sudah disambut oleh Dena dan juga Rio, ternyata sepasang kekasih itu sedari tadi sudah memperhatikan Ara.
"Apasih kalian,"
"Akhirnya kamu punya cowok juga Ara, setelah bertahun-tahun menjomblo."
"Iya padahal Bu Ara itu cantik banget, tapi betah aja menjomblo." sahut Rio.
"Diem deh kalian!"
Ara langsung kabur dari deraian pertanyaan mereka yang memiliki bibir tukang gosip itu.
Setelah Ara pergi ada Syaila dan juga Ratna yang kebetulan tidak jauh dari situ, mereka mendekati Dena untuk mendapatkan gosip terbaru, secara Dena ini paling dekat dengan Ara dan orang yang paling berani mengobrol santai dengan Ara.
"Mbak Dena, itu pacarnya Bu Ara?" tanya Ratna.
Dena menggeleng, "Nggak tahu, tapi kayaknya lagi deket deh."
__ADS_1
"Siapa kira-kira cowok itu ya Sayang?" kini Rio ikut menyahut.
"Nggak tau Sayang, aku aja baru pertama kali lihat Ara sama dia."
"Pasti itu duda kaya raya yang diceritain anak-anak." celetuk Syaila tiba-tiba yang membuat mereka semua menatap Syaila.
Memang tersebar gosip jika kekasih Ara itu selama ini disembunyikan karena merupakan duda kaya raya. Gosip itu tentu berdasar sehingga bisa menyebar.
Gaya hidup Ara yang bagaikan istri pejabat, bisa memiliki barang-barang mewah dan selalu melakukan perawatan mahal untuk dirinya tentu saja membuat semua orang curiga.
Darimana uangnya? Sedangkan latar belakang Ara sendiri berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja sedangkan gajinya itu mungkinkah cukup untuk gaya hidup Ara yang cukup mewah.
"Emang muncul cerita kaya gitu, La?"
"Iya Mbak Den, pikirin aja deh, Bu Ara itu barang-barangnya mahal-mahal. Ditambah wajahnya sangat cantik, bukan nggak mungkin pacar Bu Ara itu duda kaya raya. Pasti duda yang udah mau meninggal terus Bu Ara tinggal mewarisi kekayaannya saja."
"Jangan sembarangan bicara, Ara nggak kaya gitu!" Dena tentu tidak terima, sang sahabat di gosipkan seperti itu karena setahunya Ara ini adalah sosok pribadi yang lurus dan baik.
"Itu kemungkinan tersbesar sih Mbak, aku aja pengen kaya gitu, dapetin duda kaya raya biar bisa dikasih banyak uang."
"Tapi—"
Kalimat Dena menggantung, hal yang dikatakan Syaila itu fakta. Ara memang selama ini memiliki kehidupan mewah, sedangkan yang Dena tahu jika keluarga Ara itu hanya menggantungkan hidup dari uang Ara. Lalu darimana Ara bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
"Hidup itu kan harus realistis, kita memang butuh banyak uang. Mungkin memang itu yang sebenarnya terjadi pada Bu Ara." tambah Rio.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
__ADS_1
...Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^...
...And, see you....