
"... dengan begitu untuk masing-masing perusahaan memiliki profit yang setara, apabila kemungkinan terburuk terjadi yaitu kerugian maka itu tidak akan terlalu besar. Dengan semua pertimbangan ini saya harap anda bisa mempercayakan semuanya pada kami."
Lelaki paruh baya yang berkcamata itu menepuk tangannya, diikuti oleh beberapa orang lainnya yang ikut menepuk tanganya sebagai pertanda jika mereka puas dengan apa yang telah Shaka jelaskan.
Ara mematikan laptob yang tersambung pada layar lcd di depan, lalu ia bangkit dari duduknya untuk mengucapkan terimakasih dan menutup meeting pada siang ini. Pertemuan ini sudah dilakukan selama berjam-jam, mulai membahas tentang kesepakatan harga hingga keunggulan dari proyek ini.
Sesi diskusi yang sedikit alot tetapi Shaka berhasil mendapatkan harga yang cukup rendah untuk kualitas barang yang bagus. Setelah pertemuan berakhir, pihak pt Madja langsung pamit pergi, tidak lupa mereka saling berjabat tangan terlebih dahulu sebelum benar-benar pergi.
Sekarang di ruang pertemuan utama itu hanya ada Shaka, Ara, ketua marketing, direktur umum dan juga beberapa orang lainnya.
"Sasa kamu dan tim kamu besok pergi ke Bandung untuk melakukan survei di pabrik pt Madja, pastikan semua bahan bakunya berkualitas dan pastikan semua produknya sudah melewati QC dengan baik. Surat tugasnya nanti bisa diambil di ruangan saya..." ucap Ara.
Sasa mengangguk dengan mantap, "Baik, Bu."
kini ia melirik ke arah yang lain. "Dari yang lain ada yang mau ditanyakan?" mereka semua kompak menggeleng pelan.
Selanjutnya Ara melirik ke arah Shaka, lelaki itu tidak nampak akan memberikan masukan pada team kali ini.
"Kalau tidak ada semuanya bisa kembali ke ruangan masing-masing, jangan lupa untuk memberikan terbaik untuk kerjasama kali ini dan tetap bekerja dengan semangat."
"Baik, Bu. Terimaksih."
__ADS_1
Kini semua orang sudah pergi, hanya menyisakan Ara dan Shaka saja. Ara membereskan layar lcd dan juga menghubungi OB lewat telepon kabel untuk membersihkan bekas air minum dan beberapa hidangan kecil di meja pertemuan.
Shaka menarik Ara ke dalam pengkuannya, Ara yang terkejut langsung beranjak untuk bangkit tetapi Shaka menahannya, ia justru mengeratkan tangannya.
"Nanti ada yang lihat,"
Shaka menggeleng, di tempat ini hanya tersisa mereka berdua, tidak ada orang lain lagi, cctv pun tidaklah terpasang disini.
Ceklek,
Pintu terbuka membuat sepasang kekasih itu terkejut, dengan jantung yang hampir melompat Ara langsung bangkit. Ternyata yang masuk ada office boy yang hendak membersihkan meja rapat, OB itu mungkin sudah melihat tetapi ia langsung menundukkan kepalanya.
"Tidak, Bu."
Ara mengangguk, "Bagus."
Shaka terlihat tenang karena ia tidak ingin ambil pusing, OB ini tidak akan berani menyebarluaskan gosip yang tidak-tidak, tentu ia masih sayang dengan pekerjaannya.
Shaka ikut bangkit dari duduknya, ia berjalan mengikuti Ara yang sudah berada di luar ruangan meeting. Shaka berhasil mengejar langkah Ara hingga mereka sudah bersampingan sekarang.
"Kita ikut pergi ke Bandung,"
__ADS_1
Ara menghentikkan langkahnya, "Maaf Bapak, besok ada pertemuan dengan Lipen group dan akan ada launcing terbaru produk dari—"
"Jadwalin ulang pertemuan dan proposal launching produk barunya sudah aku kasih tanda tangan. Besok aku mau liburan titik!"
"Tapi gimana kalo Pak Wirya curiga?"
Pak Wirya adalah ayah Shaka, ia sekarang mengurusi kantor cabang karena kantor utama ini sudah diserahkan oleh kakek Shaka kepada Shaka. Tetapi meski mengurusi kantor cabang, tentu ia masih memantau Shaka dan cukup sering datang kesini.
"Enggak, tenang aja."
Beberapa kali bila ingin liburan bersama Ara, Shaka selalu mencuri waktu seperti ini. Apabila ada pertemuan di luar kota atau tugas keluar kota maka ia akan pergi berdua dengan Ara. Karena saat weekday Ara sering pulang kerumah dan mereka jarang bisa pergi bersama.
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
__ADS_1