
Ara memperhatikan kalung berliontin berlian indah di lehernya, itu adalah pemberian Shaka beberapa bulan lalu. Memiliki harga fantastis sehingga Ara jarang memakainya, Ara memang sangat menyukainya, selain itu sangat cantik dan indah tetapi adalah pemberian dari Shaka.
Shaka memang selalu menunjukkan cintanya pada Ara, memberikan banyak barang dengan harga tinggi dan selalu mencukupi semua kebutuhan Ara.
"Apakah nanti perasaan kamu masih akan tetap sama?"
Melalui pantulan cermin itu Ara memperhatikan wajahnya sendiri, dirinya memang cantik tetapi Ara tidak memiliki segalanya. Kalina yang menjadi istri dari Shaka, kekasih yang sudah ia temani selama ini.
Lagi dan lagi air mata Ara turun membasahi pipinya, ia paling benci menangis, ia benci terlihat lemah tetapi jika mengenai masalah hatinya, rasanya tangis itu keluar sendiri tanpa bisa ia tahan.
Drttt... Drttt...
Ponsel Ara berbunyi, ia langsung menghapus air matanya baru setelah itu siap mengangkat telepon. Ternyata itu adalah telepon dari Shaka.
"Halo Sayang?" ucapan itu berasal dari seberang telepon.
"Iya, aku udah siap."
Mereka memiliki janji untuk dinner bersama, Ara sudah siap dengan dress berwana emerald yang memiliki tali kecil di bahu, sehingga leher jenjang dan bahu Ara terekspos.
"Maaf ya aku nggak bisa, Kalina masuk ke rumah sakit."
Ara tidak menjawabnya, ia langsung mematikan panggilan itu dan melemparkan ponselnya ke ranjang.
Bukannya ia tidak memiliki rasa manusiawi saat tahu Kalina sakit justru tetap ingin Shaka bersamanya. Tetapi mengetahui Shaka memberikan perhatian seperti ini pada Kalina membuat hatinya benar-benar sakit.
"Sekarang kalian bertiga lagi sama-sama bingung, ke depannya gimana kalau mereka saling mencintai karena terbiasa bersama dan tinggal satu rumah. Di saat itu kamu adalah orang yang paling tersakiti, mereka saling mencintai dan memadu kasih bersama. Sedangkan kamu akan menyembuhkan luka kamu sendiri."
Kalimat ibunya beberapa hari lalu itu kini kembali berputar di kepala Ara, bukan menutup kemungkinan ke depannya akan seperti itu.
__ADS_1
"Aku harus gimana?"
Ara menginginkan mereka berpisah, tetapi sepertinya keinginannya itu terlalu egois. Berbekal kesalahan paham antara keluarga mereka di masa lalu dan status Ara yang bukan siapa-siapa. Rasanya terlalu berharap lebih jika menginginkan perceraian mereka berdua.
"Aku harus siap sakit hati, ayo jangan lemah Ara!" ucapnya itu menyemangati dirinya sendiri.
Ara langsung mengusap seluruh air matanya, dan mengulas sebuah senyuman. Ia benci menjadi lemah seperti ini.
***
Shaka menunggu di ruang tunggu dengan terus menerus melihat ponselnya, ia mencoba menghubungi kembali Ara tetapi nihil, panggilannya itu tidak diangkat sama sekali. Shaka juga meninggalkan beberapa pesan dan berharap Ara segera membalasnya.
Shaka tahu jika Ara marah karena ia membatalkan janji, tetapi keadaannya tidak memungkinkan untuk Shaka pergi.
Tadi saat Shaka baru saja akan keluar, ia menemukan Kalina sudah pingsan di depan pintu. Kalina tidak bangun meski Shaka sudah memberikan minyak angin untuk menyadarkannya. Akhirnya Shaka membawa Kalina ke rumah sakit.
"Bapak suaminya? Bisa ikut saya ke ruangan?"
Shaka awalnya tidak bergeming, tetapi menyadari jika saat ini orang tuanya maupun orang tua Kalina belum sampai membuatnya menjadi satu-satunya keluarga dari Kalina yang masih berada disini.
Kini Shaka pergi ke ruangan dokter.
"Begini Pak, Ibu Kalina ini asam lambungnya naik. Seharusnya penderita maag tidak boleh telat makan dan memiliki banyak beban pikiran, atau akan terjadi seperti ini lagi. Mohon ya Pak, dijaga agar tidak terlalu banyak pikiran, karena itu akan berakibat kepada dirinya sendiri."
Kalina memang memiliki maag, dan beberapa hari ini sengaja tidak makan agar Shaka memperhatikannya tetapi justru keadaannya menjadi parah seperti ini.
Shaka hanya mengangguki ucapan dokter, ia menerima resep obat yang diberikan dokter dan segera keluar dari ruangan itu.
Baru saja keluar ruangan, ternyata sudah ada ibu, ayah dan juga ibu mertuanya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sama Kalina?"
"Shaka gimana keadaan Kalina?"
"Udah di pindahin ke ruang rawat, Kalina telat makan jadi asam lambungnya naik." penjelasan singkat itu diterima oleh mereka, ibu dan ibu mertuanya itu langsung masuk ke ruang rawat Kalina, sedangkan Shaka justru duduk kembali di depan ruang rawat.
"Kamu nggak urus Kalina dengan baik?" perntayaan itu berasal dari ayah Shaka.
"Pernikahan ini atas kehendak Papa, kenapa nggak Papa aja yang urus Kalina?"
Ayahnya memberikan tatapan tajam, tetapi Shaka juga tidak mau kalah dengan balik menatap tajam ayahnya.
"Kenapa kamu semakin kurang ajar, Shaka!"
"Shaka udah bilang dari awal, semua yang dipaksakan itu nggak akan berakhir baik. Seperti pernikahan ini, kini Kalina juga ikut tersakiti bukan?"
"Kamu jangan kurang ajar ya Shaka!"
"Yang Shaka ucapin itu nyata, kalau Papa nggak percaya lihat aja nanti. Akan seperti apa rumah tangga ini."
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^...
...And, see you....
__ADS_1