
Pada pukul delapan malam Shaka baru saja kembali dari kantor, memang pekerjaannya memaksanya untuk kembali beberapa jam lebih lambat, perusahaannya ini tengah memiliki proyek baru itulah alasannya.
Begitu memasuki rumah, Shaka melihat Kalina yang masih terjaga di ruang tamu. Mungkin ia menungguinya pulang.
Ibu Shaka sudah pulang sejak sore, ia mantap meninggalkan Kalina karena Kalina sudah benar-benar pulih.
"Mas ada hal penting yang mau aku bicarain."
Kalina langsung mendekat ke arah Shaka, lelaki itu hanya mengangguk dan menatap Kalina seolah bertanya masalah apa yang perlu untuk dibicarakan lagi?
"Apa?"
"Kamu punya unit apartemen ya di HN?"
Shaka menggeleng, apartemen itu meski ia yang membelinya tetapi ia memberikannya pada Ara. Lagi pula Kalina ini tidak boleh sampai tahu akan keberadaan Ara atau Ara akan dicemooh banyak orang.
Shaka akan melindungi Ara dan tidak akan membiarkan hal itu terjadi begitu saja.
"Mas jujur sama aku! Aku ini istri kamu!"
Lagi dan lagi Kalina hanya bisa berlindung di balik kata jika ia adalah istri dari Shaka yang harus mengetahui semuanya, ia lupa bertanya pada Shaka apakah Shaka menerimanya menjadi seorang istri atau tidak.
"Aku capek, nggak usah ngajakin ribut!"
Shaka hendak beranjak tetapi Kalina tidak mau kalah, ia memeluk Shaka dari belakang untuk menahan lelaki itu. Tetapi Shaka melepaskan pelukan Kalina.
"Aku cuma mau kamu jujur loh, Mas. Selama ini kamu beberapa kali nggak pulang dan selalu pergi-pergi nggak jelas. Jangan-jangan ada sesuatu ya di luar sana! Kamu selingkuh ya Mas?"
Kalina sampai tahu jika Shaka mengunjungu apartrmen tentu ada sesuatu yang Kalina selidiki.
"Jangan selidiki apapun tentang aku! Atau kita bercerai besok juga!"
Setelah mengucapkan kalimat penuh penekanan itu barulah Shaka melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kalina.
Kalina menangis sejadi-jadinya, ia tidak ingin bercerai dengan Shaka tetapi ia juga ingin mendapatkan cinta sepenuhnya dari Shaka. Keinginan Kalina sederhana, hanya ingin rumah tangganya dengan Shaka bisa hangat.
__ADS_1
Tetapi rasanya keinginan sederhana itu menjadi tidak sederhana karena dari awal pernikahan mereka ada karena dipaksakan. Sesuatu yang dipaksakan itu tidak pernah baik.
***
Ara menenteng dua kantung besar berisi belanjaan memasuki rumah keluarganya. Ara lebih memilih memberikan belanjaan kepada ibunya karena kemarin ibunya menelpon jika uangnya sudah habis. Ara curiga uangnya diberikan kepada ayah tiri sehingga lebih memilih membelikan belanjaan kepada ibunya.
Setelah memasuki rumah, Ara meletakan belanjaan itu dimeja. Ara langsung disambut oleh ayah mertuanya yang tengah menghisap nikotin.
"Ibu mana?"
"Kerja,"
Jawaban singkat itu berhasil membuat Ara kesal, sangat tidak bersahabat dan menyebalkan.
"Kerja apa? Ibu kerja dari kapan?"
Ara memang selama ini melarang ibunya bekerja karena ibunya ini akan capek berkali lipat. Ibunya yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, mencuci hingga memasak. Jika harus juga bekerja ibunya ini hanya akan memiliki waktu beristirahat sangat sedikit dan kelelahan.
Ara mengatakan agar dirumah saja, sedangkan seluruh kebutuhan keluarga akan dipenuhi oleh Ara.
Ara mengalihkan padangannya ke arah meja tv, disana tidak terdapat tv yang selama ini menjadi hiburan mereka. Ara ingat membeli tv berukuran agak besar itu dengan mencicil selama tiga bulan.
"TV nya mana?"
Awalnya Gani seperti tidak ingin menjawab, ia takut untuk memberikan jawaban.
"Dimana?!"
Barulah setelah nada tinggi dari Ara, Gani menjawab pertanyaan itu.
"Diambil rentenir." jawabnya dengan begitu pelan.
"Kok bisa? Bukannya selama ini Ara kasih uang terus, uang segitu seharusnya lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Baru akan kurang jika untuk memenuhi kebutuhan Anda!"
Gani ini suka sekali merokok, satu hari bisa sampai habis satu bungkus rokok. Tahu sendiri kan jika harga rokok tergolong cukup mahal. Gani juga sesekali pergi berjudi.
__ADS_1
"Oh jadi kamu tidak rela membiayai hidup kami? Ingat siapa yang membesarkan kamu!"
Ara terkekeh, ia sudah kepalang kesal dengan orang di depannya ini.
Mungkin dahulu memang Ara selalu menyimpan kekesalannya kepada orang di hadapannya, itu karena ia ingin menghormati ibunya. Tetapi kekesalan itu sedikit demi sedikit semakin menumpuk hingga membuatnya meledak.
"Yang membesarkan saya adalah ibu saya, selama ini saya memberi uang juga hanya untuk ibu saya. Tetapi Anda dengan tahu malunya justru menghamburkan semua uang yang sudah saya cari dengan susah payah itu untuk kesenangan sendiri."
Prangg,
Gani membanting gelas ke lantai hingga ia pecah berkeping-keping, Ara tidak gentar. Ia sama sekali tidak takut dengan orang di depannya ini.
"Kamu sok tinggi banget ya, uang yang kamu cari dengan susah payah katamu? Tentu saja susah payah karena kamu harus menyerahkan tubuhmu dulu untuk mendapatkan uang, kamu kan simpanan orang kaya."
Ara semakin dibuat kesal saja oleh orang di depannya ini, rasanya ingin menghajarnya habis-habisan sehingga ia bisa bertemu kembali pada yang kuasa.
"Saya bukan simpanan dan saya memiliki usaha untuk mencari uang, sedangkan Anda hanya hidup luntang luntung tidak jelas dan menjadi beban untuk ibu saya. Seharusnya Anda bisa memilik rasa malu, jika urat malu anda belum terputus!"
"Kurang ajar! Berani sekali kamu!"
"Saya berkata yang sejujurnya, saya sangsat muak dengan Anda!"
"Wanita simpanan seperti kamu seharusnya jangan sok suci!"
Ara yang sudah tidak tahan lagi langsung melangkahkan kakinya keluar, jika dilanjutkan lagi mungkin pertengkaran ini bisa berubah menjadi baku hantam. Karena Ara tidak ingin itu terjadi, ia pergi darisana.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
__ADS_1