
Sepasang suami istri itu tengah duduk berdua di kursi taman, sedangkan seorang wanita lain tengah memperhatikan pasangan itu dengan lelehan air mata. Bagaimana tidak menangis jika pemandangan di depannya itu adalah sang istri yang tengah hamil besar dan suaminya dengan sangat lembut mengelus perut buncit sang istri sembari beberapa kali menciuminya.
Wanita yang sedari tadi menonton itu kini memberanikan diri untuk maju dengan perlahan hingga kini sudah berdiri tepat di depan mereka.
"Mas dia Ara kan, selingkuhan kamu itu."
Wanita yang dipanggil Ara itu tidak menjawab, rasa kecewa di hatinya sudah terlalu besar hingga ia tidak mampu berkata-kata lagi.
"Aku akan perjelas semuanya disini." kini sang lelaki angkat bicara.
"Ara, kan kemarin aku udah bilang buat kita nggak saling kenal lagi, aku udah nggak mau melihat kamu lagi. Tolong jangan ganggu keluarga kecil kami lagi, sebentar lagi Kalina melahirkan dan kebahagiaan kami semakin lengkap, tolong jangan rusak itu."
Rasanya ingin mengacak-acak wajah lelaki yang mengatakan itu dengan begitu entengnya itu.
"Kamu udah ingkarin janji kamu."
"Memangnya apa artinya janji dengan seorang wanita simpanan, janji itu nggak berarti apa-apa. Udah ya, setelah ini kita nggak saling kenal dan jangan pernah sampai bertemu lagi."
Lelaki itu membantu istrinya untuk bangkit, menuntun pelan-pelan istrinya agar tidak terjatuh. Mereka berjalan semakin menjauh, membiarkan Ara tenggelam semakin dalam pada lukanya.
"Jangan tinggalin aku,"
Kedua kelopak mata Ara terbuka dengan lebar secara mendadak, di amati sekitarnya yang ternyata adalah kamar tidurnya bukan lagi taman yang barusan ia lihat.
"Ternyata cuma mimpi,"
Meski itu hanya mimpi tetapi Ara tetap merasa was-was dan tidak bisa tenang. Karena semua hal yang baru saja ia mimpikan ini adalah ketakutan terbesar Ara.
Ara tidak ingin itu semua menjadi nyata, Ara takut jika harus kehilangan Shaka.
__ADS_1
Ara memilih untuk bangkit, keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar. Di dapatinya Shaka yang tengah berdiri di depan balkon.
Meski Shaka sering menginap di apartemen, tetapi mereka belum pernah sekalipun tidur dalam satu kamar. Shaka menagatakan akan menjaga Ara sampai mereka menikah, ia tidak akan merusak Ara sedikitpun jadi jangankan berhubungan berciuman bibir saja belum pernah, paling hanya mencium pipi saja.
Shaka akan tidur di sofa depan tv jika sedang menginap disini.
"Belum tidur?"
Pertanyaan itu membuat Shaka menyadari kehadiran Ara, ternyata di tangan lelaki itu terdapst sebatang nikotin. Shaka lantas mematikan rokoknya dan langsung membuangnya meski itu baru saja ia nikmati.
"Ngapain ngerokok?"
Bagi penderita asma, merokok dapat sangat berbahaya. Selain mengandung zat tidak sehat, asap rokok juga bisa memicu asma untuk kambuh.
Setahu Ara, Shaka tidak pernah merokok, saat masih sekolah Shaka mengikuti basket untuk melatih pernafasannya. Shaka tidak ikut latihan keras memang karena keadaannya, meski begitu ia juga sering kambuh karena terlalu kelelahan saat turnamen tiba.
"Mungkin pikiran kamu lagi kacau, tapi ngelampiasinnya bukan ke hal yang bisa bahayain diri kamu."
Tanpa diberi tahu pun Ara sudah bisa melihat jika akhir-akhir ini Shaka tidak baik-baik saja, bukti yang paling nampak adalah sekarang Shaka sering sekali sakit. Lelaki ini sedang memiliki beban pikiran yang tidak ingin ia bagikan pada Ara.
Ara mengenggam tangan Shaka, "Belum mau cerita?"
"Maafin aku,"
"Kenapa minta maaf?"
"Aku nggak bisa perjuangin kamu."
"Bukannya sekarang kita masih sama-sama?"
__ADS_1
"Iya, tapi aku tahu kamu benci sama status kita sekarang, akupun juga gitu tapi aku bodoh dan nggak bisa berbuat banyak."
Shaka bukannya tidak tegas, tinggal menceraikan Kalina saja beres.
Tidak semudah itu, meski menceraikan Kalina adalah satu-satunya jalan agar mereka bisa bersama tetapi Shaka memikirkan resiko lainnya.
Jika kedua orang tuanya marah dan mengusir Shaka, maka Shaka akan kehilangan perusahaan. Sayang saja jika perusahaan yang sudah ia bangun harus hancur begitu saja karena Shaka pergi.
Masalah lainnya adalah cap buruk dari keluarganya kepada Ara, meski Ara bukanlah orang ketiga tetapi semuanya akan menganggap seperti itu karena mereka hanya melihat dari luar, tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
Mau sebanyak apapun dijelaskan tentu tidak akan bisa menutupi berita yang sudah disebarkan dari mulut ke mulut.
Jadi sekarang posisi mereka benar-benar terjepit, maju salah mundur lebih salah lagi.
"Selama kamu nggak minta aku pergi, aku akan tetap berdiri di samping kamu. Aku nggak akan peduli aku disebut sebagai wanita simpanan, jadi kita jalanin aja dulu. Yang terjadi di depan kita pikirin nanti."
Shaka membawa Ara ke dalam pelukannya, ia benci mendengar kalimat Ara barusan, ia benci jika sampai Ara disebut sebagai wanita simpanan. Ara yang sedari dahulu menemaninya, setia berdiri bersama Shaka bahkan saat Shaka berada di titik terendahnya.
Ara bukanlah orang ketiga.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
__ADS_1