WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
DIUSIR


__ADS_3

"May bangun May!"


"Ak.. ak.. ak.."


Mayang memekik seolah ada yang sedang mencekiknya.


"Kamu kenapa May?" tanya mas Galang yang kian panik.


"Aaaaa!!! sakit mas Galang."


Kali ini, suara Mayang sendiri yang merintih.


"Yang mana yang sakit May?"


"Aaaaaa!!!!"


Mayang kembali berteriak sebelum kemudian, dia pingsan. Bersamaan dengan itu, sebuah suara kembali terdengar. Suara dari sosok tak kasat mata yang tadinya merasuki tubuh Mayang.


"Bawa pergi gadis ini!" ucap sosok tersebut.


Dari nada bicaranya, terdengar jelas kemarahannya.


"Baik, saya akan membawanya pergi. Mohon maafkan adik saya kalau dia melakukan sesuatu yang tidak berkenan bagi para penghuni di sini!"


"Adikmu itu membawa sesuatu. Ada penunggunya dan dia sangatlah sombong. Kesombongannya membuat kami murka."


"Maafkan kami!"


Tanpa banyak bertanya, mas Galang terus meminta maaf.


"Pergilah!" usir sosok itu kemudian.


"Baik, kami akan segera pergi setelah adik saya, sadarkan diri."


Setelah mas Galang menjawab demikian, sosok itu tak lagi bersuara. Tergantikan dengan embusan angin yang kian menusuk tulang. Tak lama setelahnya, Mayang pun sadar.


"Kamu sudah sadar May?"


"Sa-kit Mas, aku kenapa? kenapa sakit semua badanku?"


"Kamu habis jatuh May."


"Jatuh? Mayang kan tidur di atas tikar. Di lantai ini, kenapa bisa jatuh?"


"Itu.. nanti saja kita bahas. Kamu bisa duduk gak?"

__ADS_1


Mayang berusaha duduk sembari menahan nyeri pada tubuhnya.


"Masih sakit ya?"


"Iya mas."


"Ya sudah, sandaran begini saja dulu! mau minum?"


Mayang menganggukkan kepala. Orang-orang masih berkerumun seraya menantikan cerita apa yang nantinya akan keluar dari mulut Mayang. Sayangnya, ia sama sekali tidak dapat mengingat dan tidak tahu tentang alasan dari kesurupan yang baru saja menimpa dirinya.


...🌟🌟🌟...


Selepas adzan subuh berkumandang, mas Galang beserta keempat anak yang lain beranjak untuk pulang. Di perjalanan, Dodit yang terlanjur penasaran pun, mendesak Mayang untuk bercerita.


"Sebenarnya, kamu bawa apa May?" tanya Dodit.


"Gak bawa apa-apa aku."


"Kalau kamu gak bawa apa-apa, kenapa penunggu gunung bisa marah?"


"Aku juga gak tahu mas."


"Jujur saja May, gak apa-apa kita."


"Aku benar-benar gak tahu mas Dodit."


...🌟🌟🌟...


Kepulangan Mayang disambut cercaan pertanyaan dari ibunya. Ini karena kepulangan mereka yang tidak sesuai jadwal. Ditambah raut wajah Mayang yang terlihat pucat.


"Ada Lang? kenapa wajah Mayang, sangat pucat? apa yang terjadi di pendakian kalian?"


"Kami belum mendaki tante."


"Loh.. lah terus, ini kenapa?"


"Mayang kesurupan."


...Deg.....


Mas Galang menarik napas panjang sebelum kemudian mulai bercerita. Mas Galang juga menanyakan perihal apa yang sebenarnya, ada di dalam tubuh Mayang. Sayangnya, alih-alih mendapat penjelasan, ibu Mayang malah mengelak seraya meminta mas Galang untuk beristirahat. Sementara itu, Mayang dipapah ibunya, masuk ke dalam kamar.


"Buk, ibuk sudah lihat bukan?" tanya Mayang ketika ia dan ibunya telah masuk ke dalam kamar.


"Apa maksud kamu May?"

__ADS_1


"Ibuk sudah lihat keadaan Mayang sekarang. Sungguh tidak ada baiknya berteman dengan jin."


"Jangan sembarangan bicara kamu! apa yang menimpa kalian, sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka (para jin)."


"Ibuk bisa berbohong pada mas Galang tapi tidak pada Mayang."


"Mayang, kamu harus sadar. Jika tak ada sosok Kantil yang menjagamu, malah jadi apa kamu sekarang? dia melindungimu, bukan menyakitimu."


"Buk..."


"Ibuk akan memanggilkan dokter ke rumah untuk memeriksamu! setelah itu, kamu harus beristirahat!"


Mayang diam sebab ia sadar, perdebatan itu tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik jika dilanjutkan. Usai ibunya pergi, Mayang meraih ponselnya seraya menuliskan pesan singkat kepada mas Galang.


[ Mas Galang, maafin Mayang ya! gara-gara Mayang, agenda pendakian jadi berantakan. Bahkan, bubar sebelum dimulai ]


Tak butuh waktu lama, pesan singkat itu pun mendapatkan balasan.


[ Tidak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja. Mas Galang akan pusing kalau kamu, kenapa-kenapa. Ohya.. sebenarnya, mas masih penasaran dengan apa yang ada di dalam dirimu. Apa mungkin kamu memiliki khodam ( jin pendamping atau perewangan ) yang kamu sendiri tidak menyadari keberadaannya? ]


Mayang terdiam untuk beberapa saat setelah membaca pesan balasan dari mas Galang. Beberapa kali mengetik di papan ketik lalu menghapusnya. Mayang bimbang hendak berbohong atau mengatakan yang sebenarnya hingga akhirnya, ia memilih untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


[ Aku juga tidak tahu mas. Apa pun itu, Mayang pengennya normal-normal saja. Sama sekali tidak ingin punya perewangan atau khodam semacam itu. ]


[ Emm iya. Kalau tidak salah ingat, mas pernah dengar kalau eyang dan akung punya perewangan. Mereka berdua kan juga bisa lihat (peka pada hal-hal berbau ghaib) begitu. Mungkinkah ini menurun pada keturunannya? jika benar maka, semua jadi masuk akal kalau pada akhirnya, kamu pun peka seperti eyang dan akung dulu. ]


[ Wah, Mayang kurang tahu mas. ]


[ Iya, mana mungkin kamu tahu. Itu urusan para tetua. Kita anak muda, cukup belajar dan kemudian kerja. Tidak perlu memusingkan hal-hal di luar nalar. Ya sudah, kamu istirahat ya! ]


[ Iya mas. ]


"Maaf ya mas Galang! Mayang berbohong," benak Mayang sembari meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Hei Kantil! pergi kamu dari tubuhku! kamu sama sekali tidak melindungiku, kamu itu mencelakaiku. Kalau saja tidak ada kamu, agenda pendakian akan berjalan dengan lancar."


Hening, ucapan Mayang tidak mendapatkan jawaban.


"Hei! di mana kamu? jangan bersarang di tubuhku. Aku benar-benar muak denganmu."


Kali ini pun sama, tidak ada yang menyahutinya.


"Dasar sialan! aku tahu kamu dengar. Aku tidak peduli kalau kamu diam tapi aku minta, pergi dari tubuhku. Aku tidak membutuhkanmu!" umpat Mayang saking kesalnya.


Merasa tidak mendapat tanggapan, Mayang pun memilih diam. Merebahkan diri di ranjang sembari memainkan ponselnya. Lambat laun, kantuk datang dan kemudian, Mayang pun terlelap.

__ADS_1


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2