![WARIS [ END ]](https://asset.asean.biz.id/waris---end--.webp)
..."Brus.. bruss.. bruss.. bruss.. duar..."...
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Disusul petir yang bersahut-sahutan. Mayang yang kala itu tengah mengendarai motor, lekas bergegas mencari tempat untuk berteduh. Tak seberapa jauh, ada sebuah warung. Mayang lekas menghampirinya lalu masuk ke dalam warung tersebut.
"Hujan deras mbak, masuk saja ke dalam!" sambut si empunya warung.
"Iya buk, terima kasih!" ucap Mayang.
Mayang menepuk pelan beberapa bagian baju dan celananya yang basah seraya mengedarkan pandang, melihat apa saja yang dijajakan. Beraneka ragam makanan tersaji dalam etalase si penjual. Mayang mengamatinya satu per satu lalu memesan makanan untuknya.
"Sama jahe hangat ada bu?" tanya Mayang.
"Ada mbak."
"Jahe hangatnya satu gelas ya!"
"Iya."
Pesanan telah dibuat dan kini, Mayang tinggal menunggu pesanannya disajikan. Rasanya baru sebentar, pesanannya telah siap. Usai menyajikan makanan dan wedhang jahe hangat di meja, ibu pemilik warung masuk ke dalam. Entah dapur atau kamar, yang jelas ada ruangan lagi di bagian belakang. Mayang fokus melahap makanannya serta menyruput wedhang jahenya.
"Kalau gak gini, bisa masuk angin aku," benak Mayang.
Selesai makan, hujan masih belum reda. Akhirnya, ia raih beberapa potong gorengan dan lekas melahapnya. Tanpa terasa, Mayang telah menghabiskan enam potong gorengan. Mayang berjalan ke teras guna memeriksa keadaan.
"Alhamdulillah sudah reda," gumam Mayang sembari berjalan kembali ke dalam.
Mayang mengeluarkan selembar uang seratus ribuan, hendak membayar.
"Buk.. buk.. saya sudah selesai makan buk..!"
Tidak ada sahutan.
"Buk.. ibuk..!"
Masih tetap tidak ada jawaban.
"Ke mana si ibu ya? apa lagi sibuk masak di dalam?"
Mayang memutuskan untuk duduk sebentar sembari menunggu si ibu keluar. Lima menit, sepuluh menit hingga lima belas menit, tidak ada tanda-tanda si ibu keluar. Alhasil, Mayang kembali memanggil.
"Buk.. saya mau bayar buk.."
Sayangnya, kali ini pun sama, tidak ada jawaban.
"Apa aku masuk saja ya ke dalam? hemm.. gak sopan kan ya? duh, kok gak keluar-keluar si ibuk?"
"Buk... buk... ibuk repot kah di dalam? apa saya boleh masuk?"
Lagi-lagi hening.
"Saya masuk ya buk? permisi! ibuk.. buk..!" panggil Mayang seraya berjalan masuk ke dalam.
"Permisi buk! saya sudah selesai makan, mau bayar," ucap Mayang ketika melihat si ibu berdiri membelakanginya.
"Oh, iya-iya sebentar, saya mau kencing dulu!" jawab si ibuk tanpa menoleh ke arah Mayang.
"Iya," jawab Mayang.
__ADS_1
Si pemilik warung masuk ke kamar mandi seiring terdengarnya suara khas, orang yang sedang buang air kecil. Mayang pun berbalik kembali duduk di kursi warung. Anehnya, hingga lima belas menit telah berlalu, di ibu pemilik warung masih belum keluar juga. Alhasil, Mayang kembali masuk untuk memeriksa. Mayang sedikit heran karena suara buang air kecil masih terdengar. Merasa tidak enak, Mayang melangkah kembali ke depan. Dua puluh menit, dua puluh lima menit pun lewat. Mayang celingukan, menelisik apakah si ibu sudah selesai buang air kecil?
"Apa belum kelar ya?" tanya Mayang di dalam hati.
Mayang melangkah perlahan seraya melihat sekitar.
...Krieet......
Terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka dan terlihatlah si ibu pemilik warung.
"Lama ya mbak nungguin saya?" tanya si ibu.
"Tidak kok buk, tidak apa-apa. Saya tadi nambah enam gorengan buk. Total berapa semua?"
Si ibu hanya mengulas senyum seraya mengambil sebuah kotak lalu menyerahkannya kepada Mayang.
"Ini apa buk?" tanya Mayang sembari menerima kotak pemberian si pemilik warung.
"Ini hadiah untuk kamu."
"Loh, kok malah diberi hadiah? saya kan.."
"Bukan apa-apa, ini cuma makanan. Lumayan kan bisa kamu makan di rumah nanti."
"Oh, ibuk baik sekali. Jadi tidak enak saya. Untuk pesanan saya tadi, totalnya berapa buk?"
"Gratis."
"Jangan buk! nanti ibuk rugi."
"Tidak apa-apa, tenang saja! terima ya!"
"Kalau begitu saya terima ya bu. Terima kasih banyak loh buk!"
"Iya sama-sama, hujan sudah reda ya?"
"Alhamdulillah sudah buk, saya pamit dulu!"
"Iya hati-hati!"
"Iya buk, permisi!"
Si ibu menganggukkan kepalanya seraya mengantarkan Mayang hingga ke teras warung. Mayang menganggukkan kepala sebelum kemudian menyalakan mesin lalu menggeber motornya. Baru dua meter berjalan, muncul rasa penasaran. Alhasil, Mayang berhenti untuk membuka kotak yang tadi, si ibu berikan.
"Apa ya isinya?" gumam Mayang sembari berusaha membuka kotak.
"Astaghfirulloh haladzim!" pekik Mayang yang sontak melempar kotak dari genggamannya.
"Apa itu? itu seperti.."
Mayang memberanikan diri untuk memeriksa lebih seksama.
"Astaga itu bentulan janin?"
Seketika Mayang menoleh ke belakang. Warung yang tadi ia singgahi, kini telah lenyap. Hanya mengisakan ilalang setinggi pinggang. Suasana di sekitarnya pun berubah. Yang mana awalnya berada di jalan raya, kini berubah menjadi tanah lapang yang dipenuhi ilalang dan tanaman semak.
"Kok bisa sih..?"
__ADS_1
Tangan Mayang mulai gemetar ketika terdengar suara yang ia kenal.
"Ada apa mbak? tidak suka ya dengan makanan yang saya berikan?"
...Deg......
Kedua mata Mayang terbuka lebar seiring dengan deru napas yang tidak beraturan.
"Mimpi ya? itu tadi mimpi?"
Jantung Mayang berdegup dengan kencang, napasnya tersengal.
"Syukurlah hanya mimpi tapi rasanya, seperti nyata," gumam Mayang sembari memegang dadanya.
"Bukan sekedar mimpi Mayang."
Mayang membulat, mengenali pemilik suara tersebut. Itu adalah suara dari sosok jin yang bernama Kantil.
"Apa maksudmu?" tanya Mayang.
"Coba kamu pikir!"
Mayang terdiam seraya mengerutkan dahi.
"Jangan bertele-tele, katakan maksudmu!"
"Hemm... apa kamu benar-benar belum mengerti?"
Mayang kembali memikirkannya tapi tetap saja tak dapat ia pahami.
"Mimpi itu memberimu penjelasan akan pertanyaan yang sempat kamu lontarkan padaku."
"Memangnya apa yang aku tanyakan?"
"Manusia memang pelupa, kamu tanya kan tentang apa yang terjadi pada calon adikmu?"
...Deg......
Mayang mulai mengerti maksud dari ucapan Kantil. Kantil lantas tertawa melihat ekspresi wajah Mayang.
"Pak Ageng membunuh kelima calon adikku?"
"Tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Ayah dan ibumu sendiri yang menyepakatinya."
"Hah? gila! jangan membodohiku kamu!"
"Tidak ada keserakahan yang melebihi keserakahan manusia. Nenek dan kakekmu membuat perjanjian dengan bangsa kami untuk membuat mereka kaya raya. Diteruskan oleh orang tuamu. Keserakahan membuat mereka rela untuk mengorbankan anak-anak mereka sendiri dengan catatan, tumbal diambil ketika masih berupa janin. Mereka sendiri yang mengajukan syarat seperti itu."
...Deg.....
Seluruh tubuh Mayang terasa lemas. Mayang benar-benar tidak menyangka kalau keluarganya sekejam itu.
"Tidak mungkin, aku.. aku.."
"Tenangkan dirimu dan jika batinmu mampu, coba tanya pada orang tuamu!"
Mayang menggelengkan kepalanya seolah menolak untuk percaya pada fakta yang ia dengar.
__ADS_1
...🌟BERSAMBUNG🌟...