WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
SEBENTAR!


__ADS_3

Keesokan harinya, mak Rum sudah tidak ada di samping Mayang. Mayang mengabaikannya sebab, ia pikir mak Rum pasti sedang menyiapkan makanan. Mayang mengeliat beberapa kali lalu meraih ponselnya untuk kembali menanyakan keadaan ibunya melalui pesan singkat.


[ Ibuk baik-baik saja. Jauh lebih baik dan kata dokter, hari ini atau besok, sudah boleh pulang. ] - jawab ayah Mayang melalui pesan singkat.


"Alhamdulillah!" seru Mayang.


...🌟🌟🌟...


"Sarapan sudah siap non," ucap Mak Rum ketika melihat Mayang keluar dari kamar mandi.


"Iya mak. Ohya, hari ini atau besok, ibuk sudah boleh pulang."


"Alhamdulillah! nyonya sudah sehat ya?"


"Sudah membaik mak, untuk pemulihannya bisa dilakukan di rumah!"


"Alhamdulillah!"


Mayang melenggang masuk ke dalam kamar sebelum kemudian, kembali keluar untuk sarapan.


"Non Mayang kuliah?"


"Iya mak, habis sarapan, Mayang berangkat!"


"Oh yasudah."


"Ada apa mak?"


"Mak kira kalau non Mayang mau ke rumah sakit."


"Kenapa memangnya?"


"Ini sayur kesukaan nyonya. Barangkali nyonya mau makan kalau dibawakan sayur ini."


"Oh, bentar lagi ibuk pulang kok. Mak Rum bisa masakin lagi buat ibuk. Kalau aku bawain ke sana, kuatirnya jadi pulang hari ini dan sayurnya gak sempat dimakan."


"Iya non, tunggu nyonya pulang dulu saja, nanti saya masakin lagi!"


Mayang menganggukkan kepala.


...🌟🌟🌟...


Di kampus, Bayu lekas menghampiri Mayang dan menanyakan kondisinya sekaligus kondisi ibunya. Dengan antusias, Mayang mengatakan kalau ibunya akan segera pulang.


"Alhamdulillah! ikut senang dengarnya."


"Makasih ya Bay! kamu selalu ada di saat aku butuh."


"Halah apaan sih? namanya juga teman."


"Iya."


"Nih, aku sudah salin semua catatan mata kuliah yang kamu tinggalkan!" ucap Bayu sembari melepas beberapa lembar kertas dari binder miliknya lalu menyerahkannya kepada Mayang.


"Ya ampun Bay, kamu baik banget."

__ADS_1


"Emang baik."


"Makasih ya Bay!"


"Iya, belajar yang bener! besok ada quis (Quis sama dengan ujian)."


"Oke deh, beres."


...🌟🌟🌟...


Ketika Mayang pulang ke rumah, ibunya telah pulang. Ia merasa sangat senang seraya lekas menghampiri ibunya di dalam kamar.


"Buk, assalamualaikum!"


Ibunya menoleh ke arah Mayang lalu menjawab salamnya.


"Waalaikumsalam! pulang kuliah Maya?"


"Iya buk."


"Ibuk senang, kamu rajin kuliah."


"Ibuk gimana keadaannya sekarang? masih terasa sakit? atau sudah mendingan?"


"Sudah mendingan, cuma masih lemas saja."


"Permisi nyonya, non Mayang!" sela mak Rum.


"Iya mak, masuk!" ucap ibu Mayang.


"Nyonya, ini saya buatkan sayur kesukaan nyonya. Nyonya coba ya! siapa tahu bisa memulihkan nafsu makan nyonya."


"Sebentar!"


"Ada apa buk? sebentar apa?"


"Tidak apa-apa, ibuk bicara pada mak Rum. Sebentar, ibuk mau buang air kecil dulu sebelum mencicipi masakannya."


"Oh, Mayang bantu ya!"


"Iya."


Mak Rum meletakkan mangkok sayur di nakas seraya turut ikut memapah majikannya.


...🌟🌟🌟...


"Emm.. enak mak, meski pun indra perasa saya masih belum normal tapi enak, saya suka," puji bu Endah.


"Alhamdulillah! semoga nyonya lekas sehat!"


"Iya mak, terima kasih banyak ya! terima kasih sudah mengabdi di keluarga ini. Sejak awal ikut ibu saya (eyang Ratmi) hingga kemudian, ikut saya."


"Iya nyonya, keluarga ini sudah sangat baik pada keluarga saya. sudah sewajarnya, saya mengabdikan diri."


"Mak Rum rindu kampung halaman?"

__ADS_1


..."Deg..."...


Pertanyaan bu Endah membuat Mayang dan mak Rum terhenyak. Mayang merasakan sebuah keganjilan lagi dari pertanyaan ibunya.


"Usia mak Rum sudah tidak muda. Sudah waktu hidup tenang bersama keluarga. Bersama anak dan juga cucu-cucu. Mak Rum sudah boleh pensiun! dana pensiun akan segera, saya kirimkan!"


"Nyonya, saya tidak ada pikiran untuk itu."


"Buk, ibuk kenapa? mak Rum selalu baik dengan kita."


"Justru itu May, mak Rum sudah terlalu lama bekerja. Sudah waktunya ia beristirahat. Kamu keluar dulu ya May! ibuk mau berbicara berdua dengan mak Rum!"


"Ada apa sih buk?"


"Ini pembicaraan orang dewasa. Kamu juga beranjak dewasa, jangan membantah dan banyak bertanya!"


Mayang pun diam seraya berdiri lalu berjalan keluar kamar. Namun, ia tidak pergi melainkan menguping dari balik pintu kamar yang sengaja tidak ia tutup rapat saat keluar tadi.


"Mak Rum sini, duduk sini!" pinta bu Endah.


"Mak Rum sudah jelas kan dengan apa yang saya katakan?"


"Jelas nyonya tapi kenapa? apa saya melakukan kesalahan?"


"Tidak-tidak, mak Rum sangat setia dan saya sangat berterima kasih untuk itu. Hanya saja, mak Rum harus pergi!"


"Kenapa?"


"Mak Rum sudah mengikuti orang tua saya semenjak mereka baru menikah. Mak Rum tahu semuanya bukan?"


Dengan ragu, mak Rum menganggukkan kepala.


"Astaga! mak Rum benar-benar tahu semuanya," benak Mayang.


"Nah, apa yang orang tua saya pelihara, ikut juga ke saya, mak Rum tahu juga kan?"


"Iya."


"Tadi, ketika saya mengatakan "sebentar" ketika mak Rum menawarkan makanan, itu sedang berkomunikasi dengan salah satu suruhan dari bangsa mereka."


"Memang mereka bilang apa?"


bu Endah lantas tersenyum lalu sedikit mendekat untuk berbisik ke telinga mak Rum. Setelah itu, mak Rum menangis terisak-isak.


"Kok bisik-bisik sih? apa yang ibuk katakan?" benak Mayang.


"Mak, hanya itu yang bisa saya lakukan. Tolong mak Rum penuhi permintaan saya!" pinta bu Endah sembari menggenggam tangan asisten rumah tangganya.


"Nyonya, bagaimana dengan nyonya? bagaimana nyonya akan menyelesaikannya? kondisi nyonya sendiri sedang begini."


"Tidak perlu khawatir mak! sudah saya pikirkan, mak Rum cukup menuruti perkataan saya tadi saja!"


Mak Rum hanya menangis tanpa mengatakan apa-apa lagi. Mayang pun pergi dengan tanda tanya besar dalam benaknya.


...🌟🌟🌟...

__ADS_1


Seperti apa yang telah diperintahkan padanya, mak Rum mulai mengemasi pakaian dan juga barang-barang pribadinya. Mayang menghampirinya sembari mencari informasi tentang apa yang ibunya katakan. Sayangnya, tidak memberikan jawaban apa-apa selain air matanya yang menetes kian deras.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2