WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
DIJEMPUT PAKSA


__ADS_3

Kondisi pak Danu, kian parah di setiap harinya. Banyak pekerjaan yang tertunda. Mayang yang tidak paham cara mengelola bisnis orang tuanya pun hanya bisa menghentikan pekerjaan itu untuk sementara waktu. Ya, pikirnya ayahnya akan segera pulih. Sayangnya, kondisi ayahnya tak kunjung membaik. Mayang yang awalnya ragu, memutuskan untuk membawa ayahnya ke rumah sakit. Tentu saja hal ini sia-sia semata sebab, apa yang dialami ayahnya, bukan tentang penyakit medis. Pada akhirnya, pak Danu kembali dibawa pulang dan dirawat di rumah.


Mayang juga menyewa dua orang perawat untuk merawat ayahnya. Menjaga pola makannya dan segala hal keperluan sehari-harinya. Sementara itu, Mayang fokus pada penulisan skripsi hingga kemudian sidang. Dalam momen kelulusan yang seharusnya penuh dengan suka cita, lain halnya dengan Mayang. Semua terasa hambar, baginya tugas kuliah yang orang tuanya berikan telah tuntas ia laksanakan. Selebihnya, ia belum memiliki rencana apa-apa. Melihat kondisi ayahnya, Mayang bimbang hendak bagaimana?


Sesampainya di rumah, perawat Andi dan perawat Nita mengatakan kalau kondisi pak Danu sudah baikan. Makannya banyak dan mulai dapat mengenali sekitar. Termasuk juga dua perawat yang Mayang sewa untuk merawat ayahnya. Mendengar hal itu, muncul secercah bahagia yang menelusup dalam dadanya.


"Semoga ayah lekas sembuh!" ucap Mayang di dalam hati.


...🌟🌟🌟...


Malam harinya, Bayu datang dengan membawa banyak sekali makanan.


"Banyak banget yang kamu bawa."


"Iya May, ini untuk merayakan kelulusan kita."


"Memangnya kamu tidak merayakannya bersama dengan keluargamu?"


"Sudah, tadi siang sudah. Sekarang giliran sama kamu. Sini, duduk sini! eh, panggil juga mbak Yanti, buk Inah sama dua perawat yang merawat ayah kamu ya! kita makan sama-sama!"


"Oke."


Semua orang berkumpul di ruang tamu, kecuali pak Danu yang memang sudah terlelap di kamar. Bayu memandu doa dan mengucapkan beragam harapan untuk masa depan Mayang dan juga dirinya. Melihat Bayu yang selalu setia membuat Mayang terharu dan tak kuasa membendung air matanya. Bayu mengusap lembut bulir-bulir air mata di pipi merah Mayang yang tak ayal membuat keduanya mendapatkan ledekan. Semua orang merestui Bayu dan Mayang untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Namun, keduanya tampak masih malu-malu seraya lekas mengalihkan pembicaraan.


"Mari makan!" seru Bayu yang lekas mendapat sambutan hangat dari semua orang.


...🌟🌟🌟...


Sekitar pukul setengah sebelas malam, Bayu bersiap untuk pulang. Namun, rencananya pulangnya tertunda karena ayah Mayang tiba-tiba berteriak histeris di dalam kamar.


"Jangan-jangan! gak mau saya," itulah kata-kata yang berulang kali diucapkan oleh pak Danu.

__ADS_1


"Ada apa yah? ayah kenapa?" tanya Mayang yang kebingungan.


Di saat yang bersamaan, terdengar suara ketukan dan juga suara salam dari depan.


"Tok.. Tok.. Tok.. Assalamualaikum..!"


Mbak Yanti yang kemudian diminta Mayang untuk melihat tamu di depan. Ternyata, ada dua tamu yang datang. Seorang laki-laki dan seorang lagi perempuan. Tamu yang sama, yang dulu mencari bu Endah ketika bu Endah tengah di rawat di rumah sakit.


"Non, ada dua orang tamu yang sedang mencari tuan tapi karena kondisi tuan yang sedang seperti ini, saya belum mempersilakan mereka masuk," jelas mbak Yanti kepada Mayang.


"Coba tanyakan ada perlu apa dan akan disampaikan nanti karena ayah sedang tidak enak badan!"


"Baik non."


Mbak Yanti pun kembali ke depan untuk menanyakan keperluan dari kedua tamu sesuai dengan yang diperintahkan Mayang. Sayangnya, kedua tamu hanya diam dan dalam sepersekian detik kemudian, semua orang membeku. Sama persis seperti kejadian yang pernah Mayang alami dengan mak Rum saat itu. Kedua tamu itu pun masuk ke dalam kamar, melewati Mayang, Bayu dan juga kedua perawat. Sementara ayah Mayang terus berteriak kalau ia menolak. Sepertinya, pak Danu tahu kalau kedatangan kedua sosok itu adalah untuk menjemput paksa dirinya.


"Gak mau, saya gak mau, jangan!" tolak pak Danu sembari menyilangkan kedua tangan untuk menghalau kedua sosok tersebut.


"Tolong! Mayang, tolong ayah!"


"May, kamu gak apa-apa?"


Mayang lekas melesat melihat tubuh ayahnya tanpa menjawab pertanyaan dari Bayu.


"Ayah!!!"


Mayang berteriak seiring pecah tangisnya. Pak Danu telah meninggal dunia. Tangis histeris Mayang terdengar oleh para tetangga yang kemudian lekas berbondong-bondong mendatangi rumahnya. Kabar kematian pak Danu pun disiarkan. Malam itu, rumah Mayang dipenuhi para pelayat yang turut mengurus jenazah ayahnya. Untuk kedua kalinya, Mayang merasakan kehilangan yang teramat mendalam.


"Aku sendiri, ayah dan ibuk sudah pergi. Cepat atau lambat, aku pun akan mati. Sudah tak ada lagi harapan untukku di sini," gumam Mayang yang begitu menyayat hati Bayu.


Bayu menarik Mayang ke dalam dekapan seraya terus memberinya semangat. Bayu mengatakan kalau Mayang, tidak pernah sendirian. Akan selalu ada Bayu yang menemaninya.

__ADS_1


...🌟🌟🌟...


Selama tujuh hari tahlil, Bayu selalu datang. Kondisi rumah Mayang pun masih ramai karena beberapa sanak saudara yang menginap. Namun, lepas tujuh hari kematian, satu persatu saudara, pamit pulang. Tinggallah Mayang beserta mbak Yanti di rumah. Buk Inah yang seharusnya pulang, sesekali memilih menginap untuk menemani Mayang beserta dengan mbak Yanti.


"Sudah malam non, tidur yuk!" ajak mbak Yanti dengan sangat hati-hati.


Suasana hati Mayang sedang tidak baik sekarang. Hancur, mungkin itu istilah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi Mayang. Hampa dan hilang harapan. Tiada lagi tumpuan seiring buramnya masa depan.


"Non.. jangan melamun!" ucap mbak Yanti sekali lagi.


Mayang menoleh seraya mengangguk, isyarat mengerti.


"Masuk ya! sudah malam, dingin di luar."


"Iya."


Mbak Yanti mengekor di belakang Mayang hingga Mayang masuk ke dalam kamar. Buk Inah yang saat itu memilih untuk menginap, turut mengkhawatirkan kondisi majikannya.


"Kasihan sekali non Mayang. Gak tega lihatnya," desah buk Inah.


"Iya buk, kasihan. Sudah ditinggal nyonya, sekarang ditinggal tuan. Anak tunggal pula, bakal terjadi mala petaka nih setelah ini."


"Mala petaka apa maksud kamu Yanti?"


"Hemm.. buk Inah masak gak bisa nebak sih? non Mayang anak tunggal dan psikisnya sedang sangat terguncang. Sedangkan harta tuan dan nyonya, berlimpah ruah. Pastilah bakal diperebutkan oleh para saudara yang lain kan?"


"Hussstt! jangan bicara sembarangan kamu! jangan ikut campur juga!"


"Bukannya ikut campur buk Inah tapi saya ini, kasihan sama non Mayang."


"Emm, sudahlah biarkan saja!"

__ADS_1


Mbak Yanti memanyunkan bibirnya seraya melenggang masuk ke dalam kamarnya.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2