![WARIS [ END ]](https://asset.asean.biz.id/waris---end--.webp)
Hari demi hari pun berlalu hingga tibalah hari minggu dimana Mayang, Bayu dan ustad Fahri akan pergi menemui kyai sesuai yang telah disepakati. Meski tidak ikut, mbak Yanti mengiringi perjalanan mereka dengan doa. Doa yang tulus dari dalam hati. Sementara itu, ustad Fahri tengah menimbang untuk mendatangi gurunya terlebih dahulu atau mengembalikan keris ke tempat tinggal ki Ageng.
"Gimana enaknya ustad Fahri, kami menurut saja!" ucap Bayu.
Ustad Fahri kembali diam lalu mengatakan kalau mereka akan menemui kyai Ja'far yang merupakan guru ustad Fahri terlebih dahulu, sekaligus bisa meminta nasihat perihal keris itu juga. Mayang dan Bayu pun setuju.
...🌟🌟🌟...
Setelah berkendara kurang lebih empat jam lamanya, mereka pun sampai di rumah kyai Ja'far. Musabab telah membuat janji, mereka pun bisa bertemu saat itu. Sedikit banyak, ustad Fahri sudah menceritakan perihal masalah yang menimpa Mayang sehingga, ketika sampai di sana, tidak perlu lagi mengulang cerita yang sama. Kyai Ja'far sendiri terlihat sudah renta. Rambut dan jenggotnya, sudah memutih semua. Kerutan di kulitnya pun turut mempertegas usianya yang sudah, tak lagi muda.
"Kamu betul-betul yakin ingin memutus ini semua?" tanya kyai Ja'far sembari menatap Mayang.
"Serius pak kyai, saya ingin mengakhiri semuanya. Semua hal yang dimulai eyang dan akung saya lalu diteruskan kedua orang tua saya."
"Bagus kalau kamu sudah yakin tapi mereka (kaum jin) bergerak lebih cepat juga."
"Maksud pak kyai apa?" tanya Mayang yang merasa kebingungan.
Pun sama dengan Bayu dan juga ustad Fahri.
"Sudah ada yang mendatangi saudara kandung ibumu. Menghasutnya lalu membujuknya untuk mau bersekutu mereka. Celakanya, ia telah menyetujuinya."
...Deg......
"Maksud pak kyai, sudah ada yang mau melanjutkan perjanjian ghaib ini sekalipun saya menolaknya?"
"Benar," jawab kyai Ja'far sambil manggut-manggut.
"Siapa? budhe atau om saya?"
__ADS_1
Mengenai hal ini, kyai Ja'far enggan memberikan jawaban selain jawaban yang justru menimbulkan pertanyaan lebih banyak.
"Nanti juga kamu akan tahu."
Begitulah jawaban yang kyai Jafar berikan.
"Saya bisa membantu untuk melepaskan diri dari perjanjian tapi... kamu harus rela melepaskan juga."
"Melepaskan bagaimana maksudnya?"
"Maaf! harus saya katakan kalau semua harta yang orang tuamu miliki adalah berasal dari perjanjian itu juga sehingga.. lepaskan semuanya, relakan!"
Mayang terdiam untuk beberapa saat seiring semua pandangan mengarah padanya. Dalam benak Mayang sendiri, telah riuh dengan beragam dilema. Jika semua harta harus dilepaskan maka, tak ada lagi yang tersisa untuknya. Bagaimana ia bisa bertahan sementara selama ini, ia telah terbiasa hidup dengan nyaman. Pekerjaan pun belum ia dapatkan.
"Kamu pasti kebingungan," celetuk kyai Jafar.
Mayang lekas menganggukkan kepala tanpa berucap apa-apa.
Mayang kembali diam, sejujurnya ia masih merasa sangat keberatan untuk melepas sebanyak itu. Pikirnya, cukup dengan memutus perjanjian, semua akan menjadi baik dan normal. Tak pernah ia bayangkan kalau ia, harus melepas semuanya.
"A-pa yang harus saya lakukan dengan melepaskan harta orang tua saya? menjualnya atau bagaimana?"
"Hibahkan untuk didirikan masjid, musholla, rumah hafidz atau kamu juga juga tidak apa-apa tapi uangnya, gunakan untuk bersedekah. Membantu banyak orang yang membutuhkan. Bagi mereka si penerima, itu halal. Bagimu, itu untuk melenyapkan sisa-sisa dari perjanjian. Jangan mengambil secuil pun dari hasil penjualan. Semua itu harus lenyap agar kamu, bisa benar-benar terbebas."
Mayang menghela napas dalam-dalam.
"Apa benar-benar harus begitu? ini.. terlalu.. aku.. aku belum rela.." ucap Mayang di dalam hati.
Tampaknya, kyai Jafar dapat melihat dengan jelas kebimbangan Mayang sehingga ia meminta semua tamunya untuk beristirahat sejenak, melaksanakan solat dhuhur lalu makan siang. Jeda yang diberikan ini, diharapkan dapat Mayang gunakan untuk berpikir, mempertimbangkan dan kemudian mengambil keputusan.
__ADS_1
Pada kesempatan itu, benar-benar Mayang gunakan untuk berpikir. Ia turut berdiskusi dengan Bayu perihal masa depan juga. Dengan mantap Bayu katakan kalau ia bersungguh-sungguh akan menikahi Mayang dan bersedia berjuang bersama untuk mencapai rencana indah mereka. Bayu pun tak henti-hentinya meyakinkan kalau Alloh akan membantu keduanya. Meski pun Mayang mungkin, tidak sekaya dulu lagi tapi batinnya pasti lebih tentram dari sebelumnya. Ditambah, ia akan terbebas dari jerat iblis yang membelenggu selama ini.
Mayang lantas melaksanakan solat dhuhur lalu berdoa cukup lama. Sebenarnya, rasa berat tentu saja ada. Manusiawi jika Mayang merasa demikian. Namun, ia mantap mengatakan "iya". Dia bersedia melepaskan semua harta yang orang tuanya dapatkan semasa hidup mereka. Mendengar hal itu, kyai Ja'far tersenyum. Sesaat kemudian, kyai Ja'far mulai membaca doa-doa.
Baru sebentar tapi tubuh Mayang tiba-tiba menggigil lalu mulai mengerang. Menyeringai tajam menatap semua orang. Kyai Ja'far masih melanjutkan doanya ketika Mayang mulai melompat ke sana ke mari lalu bergulung-gulung di atas tikar.
"Pak Ustad, gimana ini?" tanya Bayu khawatir.
"Tidak apa-apa mas Bayu, kita awasi saja dulu! jangan sampai sosok yang merasuki tubuh mbak Mayang menyakiti mbak Mayang! untuk selebihnya, serahkan pada kyai Ja'far!" jawab ustad Fahri.
Mayang yang kini telah kerasukan menjadi murka. Beragam kata-kata ia lontarkan. Namun, dengan santai tapi tegas, kyai Ja'far meminta sosok itu mengakhiri perjanjian dengan Mayang yang saat ini, ingin lepas. Pada awalnya, sosok itu menolak. Mendengar penolakan terus menerus membuat kyai Jafar membaca doa-doa yang akhirnya melukai sosok tersebut. Barulah sosok itu sepakat untuk mengakhiri perjanjian turun temurun yang telah ia buat dengan eyang dan akung Mayang. Sosok itu juga meminta keris kecil miliknya untuk dikembalikan.
"Kerisnya ada di saya kyai. Memang hendak kami kembalikan," sahut ustad Fahri.
"Kamu dengar? kerismu akan dikembalikan. Jangan membuat keributan lagi dan lekas keluar!"
Sosok yang merasuki Mayang pun tertawa sebelum kemudian keluar dari tubuh Mayang yang langsung pingsan. Kyai Jafar memanggil istrinya dan juga putrinya untuk membantu mrngangkat tubuh Mayang ke kamar.
"Sudah selesai, alhamdulillah! untuk sementara waktu, biarkan Mayang beristirahat terlebih dahulu!" pinta kyai Ja'far.
"Sosok itu sudah tidak akan kembali mengganggu Mayang kan pak kyai?" tanya Bayu mempertegas.
"Insha Alloh tidak tapi keris kecil yang ia maksudkan, harus segera dikembalikan!"
"Iya pak kyai, sepulang dari sini akan kami kembalikan. Apa kyai ada saran yang lain?" sahut ustad Fahri.
"Tidak ada, begitu sudah yang paling baik."
"Terima kasih banyak pak Kyai!" ucap Bayu yang tak bisa membendung rasa senangnya.
__ADS_1
Calon istrinya, telah terbebas dari jerat iblis sekarang. Ia merasa sangat senang seiring rasa syukur yang tak henti-hentinya, ia ucapkan.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...