WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
TAMU TENGAH MALAM


__ADS_3

Mayang sangat ketakutan, sementara arwah eyang Ratmi hanya diam menatap ke arahnya. Mayang berlari keluar kamar membuat mbak Yanti dak mak Rum kebingungan.


"Ada apa non?" tanya keduanya dengan raut panik.


"Ada setan mbak di kamarku. Wajahnya mirip eyang Ratmi."


Mbak Yanti dan mak Rum saling berpandangan. Beberapa detik kemudian, ketiganya coba memeriksa kamar Mayang. Namun, sosok yang dimaksud telah menghilang.


"Sudah gak ada non," ucap mak Rum.


Mayang melongokkan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Memandang ke sekeliling, khawatir jika eyang Ratmi masih berada di sana dengan posisi letak yang berbeda.


"Iya, sudah tidak ada," benak Mayang.


"Tadi di sini," jelas Mayang sembari menunjukkan posisi eyang Ratmi.


Bukannya tidak percaya tapi coba menenangkan. Mak Rum dan mbak Yanti menenangkan Mayang agar ketakutannya mereda. Sebenarnya, ketiga orang tersebut, sama takutnya. Hanya saja, mereka harus melawan rasa takut jika tak ingin, malam ini kesulitan untuk tidur. Setelah tenang, Mayang mempersilakan mak Rum dan mbak Yanti kembali ke kamar masing-masing.


"Non Mayang panggil kami saja kalau ada apa-apa nanti!" pesan mbak Yanti.


"Iya mbak."


"Kami balik ke kamar ya mbak!"


"Iya, makasih mbak Yanti, makasih mak Rum!"


"Iya non."


Mak Rum dan mbak Yanti pun pergi. Kini, tinggallah Mayang seorang sendiri. Mayang merebahkan dirinya di ranjang sembari memegangi dadanya. Merasakan detak jantungnya yang mulai normal seperti sedia kala.


"Alhamdulillah," gumamnya seraya memejamkan mata.


...🌟🌟🌟...


"Tok.. Tok.. Tok.. Assalamualaikum!"


Terdengar suara ketukan pintu dan juga salam dari seseorang.


"Assalamualaikum!"


Mayang mengerjap sembari mengeliat.


"Tok..Tok..Tok.. Assalamualaikum!"


"Siapa yang bertamu malam-malam begini? suaranya laki-laki, apa datang mencari ayah ya?"


"Assalamualaikum!"


..."Jeglek..."...


Terdengar suara pintu yang dibuka. Mayang menduga kalau itu adalah mak Rum yang keluar kamar. Dalam heningnya malam, suara yang lirihpun akan terdengar.


"Assalamualaikum!"


Mayang beranjak dari kamar dan terlihatlah mak Rum yang sedang berjalan ke depan.


"Mak..!"


"Non Mayang belum tidur?"


"Siapa mak, kok datang semalam ini?"


"Mak Rum juga gak tahu. Ini mau mak Rum periksa."


"Tok.. Tok.. Tok.."


"Bentar deh mak, kita tanyain dulu!"

__ADS_1


"Iya non."


Tanpa membuka pintu, Mayang dan mak Rum menjawab salamnya.


"Waalaikumsalam! mohon maaf! siapa ya?" tanya Mayang sembari membuka sedikit tirai jendelanya.


Ternyata ada dua orang di luar. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan.


"Saya ada perlu dengan bu Endah," jawab tamu perempuan.


"Mohon maaf! ibuk siapa? ada perlu apa? maaf kalau saya tidak sopan."


Sayangnya, pertanyaan Mayang tetap tidak dijawab dan malah kembali menanyakan keberadaan ibunya.


"Bu Endahnya ada?"


"Ibu saya ada tapi sedang sakit."


Mendengar jawaban Mayang, kedua tamu itu pun mengulas senyum segaris. Sebuah senyum yang tidak bisa diartikan maksudnya.


"Betul ibumu ada di rumah?"


"Oh bukan, ibu saya sedang dirawat di rumah sakit. Ibuk siapa ya? jika ada pesan, akan saya sampaikan!"


"Tidak usah, jika demikian kami akan kembali lagi ketika ibu kamu sudah pulang."


"Oh baik."


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Kedua tamu itu pun berbalik arah. Entah kenapa, Mayang merasakan keanehan. Ia tetap berdiri, mengawasi dari balik jendela. Benar saja, kedua tamu itu pun tiba-tiba menghilang. Padahal, mereka baru melangkah tiga langkah dari teras rumahnya. Mayang membulat dalam diam membuat mak Rum dapat menebak, apa yang telah Mayang lihat.


"Sudah-sudah, kita kembali ke kamar!" ajak mak Rum sembari menarik pelan lengan Mayang.


"Mak.. itu tadi.."


"Kenapa mereka mencari ibuk, mak?"


"Mak Rum juga tidak tahu. Kalau kondisi nyonya sudah baikan, non Mayang bisa menanyakannya!"


Mayang menganggukkan kepala.


"Mak Rum jangan pergi ya! tidur di sini temani Mayang!" pinta Mayang sembari mengatupkan kedua telapak tangannya, isyarat melakukan permohonan.


"Iya non, saya tidur di sini!"


"Iya mak, sini mak!"


"Iya."


Mayang masih ketakutan meski pun kini, sudah ada mak Rum yang menemani. Pikirnya, eyang Ratmi saja bisa tiba-bisa nongol di hadapannya. Apalagi kedua sosok tamu tadi. Mayang hanya bisa berharap kalau kedua sosok tamu tadi, benar-benar telah pergi. Namun, di sisi lain muncul pertanyaan dalam benaknya perihal alasan kedua sosok itu, mencari ibunya.


"Ada apa ya? semoga ibuk baik-baik saja."


..."Deg.."...


Mayang kembali membulat kala menyadari sesuatu.


"Non Mayang ada apa? kenapa tegang begitu?" tanya mak Rum.


"Mak, gimana kalau kedua sosok tadi datengin ibuk di rumah sakit?"


Mak Rum ganti tercengang. Pikirnya, ada benarnya yang Mayang katakan.


"Coba telepon ayah non Mayang dulu, tanyakan keadaan nyonya!"

__ADS_1


"Gitu ya? iya-iya, aku telepon bentar!"


Mayang segera melakukan apa yang mak Rum sarankan.


"Yah, gimana keadaan ibuk?" tanya Mayang.


"Ibuk.. ibuk lagi tidur sekarang. Ada apa? suaramu terdengar aneh?" tanya balik ayahnya.


"Itu, sebenarnya ada tamu barusan. Dua orang, laki-laki dan perempuan. Datang nyari ibuk tapi gak mau bilang namanya siapa."


"Bukan warga kampung kita?"


"Dipastikan bukan yah karena.."


"Karena apa?"


"Dia bukan manusia, dia ngilang gitu aja."


"Terus apa? apa dia menitipkan pesan?"


"Mayang sudah tanya tapi mereka gak jawab. Emm.. itu, mereka bilang bakalan datang lagi ke sini setelah ibuk pulang dari rumah sakit."


"Oh.. begitu.."


"Mereka siapa yah? masak iya cuma iseng? apa ini ada hubungannya dengan ki Ageng?"


"Tidak ada apa-apa. Usil saja mereka, tahu kamu yang penakut. Terlebih tahu kalau ayah dan ibuk sedang tidak ada di rumah. Sudah, tenang saja! bukan apa-apa itu."


Meski demikian, Mayang tetap merasakan keganjilan.


"Ya sudah kalau begitu, Mayang tutup dulu teleponnya!"


"Iya."


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


..."Klitt.."...


"Non.."


"Mak Rum dengar kan tadi?"


"Iya."


"Aku sama sekali gak percaya sama yang ayah katakan mak. Pasti ada sesuatu nih."


"Apa yang seharusnya tidak diketahui, tidak perlu dicari tahu!"


Mayang lantas menatap lurus ke arah mak Rum.


"Apa mak Rum tahu sesuatu?"


"Apa maksud non Mayang? mak Rum tidak tahu apa pun. Ini sih aturan yang tidak tertulis tapi patut untuk dipatuhi. Kalau memang ada sesuatu hal yang tidak seharusnya kita ketahui, alangkah baiknya untuk tidak perlu mencari tahu."


"Iya juga sih mak tapi ini kan keluargaku."


"Kalau memang non Mayang penasaran, besok coba ditanyakan!"


"Ke ayah?"


"Iya, seperti yang telah non Mayang curigai. Sepertinya tuan tahu sesuatu juga. Termasuk tengang kedua tamu yang mencari nyonya."


"Mak Rum tahu sesuatu ya?"


"Mak Rum tahu apa? sudah malam non, yuk tidur!"

__ADS_1


Waktu memang telah menunjukkan pukul setengah satu malam. Ia pun memilih untuk tidak melanjutkan perbincangan. Meski batinnya menaruh lebih banyak kecurigaan.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2