WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
JANIN


__ADS_3

Hari yang melelahkan telah berakhir, serangkaian jadwal kuliah telah selesai dan Mayang pun kembali ke rumah. Di rumah, tanpa sengaja ia melihat ibunya membawa tespek (alat tes kehamilan). Seketika ia menduga kalau ibunya, sedang mengandung sekarang. Jika itu benar, Mayang sangatlah senang sebab, ia bosan untuk terus menjadi anak tunggal. Ia ingin memiliki adik yang bisa ia rawat dan juga, ia jaga. Rona bahagia merekah di wajahnya ketika ibunya mengiyakan perihal kehamilan yang telah Mayang harapkan. Bahkan, Mayang lekas mencari beberapa nama yang bagus untuk calon adiknya. Nama untuk bayi laki-laki dan juga untuk bayi perempuan.


Mayang sungguh berharap kalau kehamilan kali ini akan lancar hingga dilahirkan. Mayang pun menjadi lebih protektif pada ibunya. Bukan tanpa alasan, ini dikarenakan telah beberapa kali, ibunya mengalami keguguran. Lebih tepatnya, empat calon adik Mayang, tidak selamat hingga dilahirkan. Rata-rata gugur di usia kandungan tiga sampai empat bulan.


"Pokoknya ibuk harus makan makanan yang sehat dan jangan banyak beraktivitas!" ucap Mayang sembari mengupaskan buah jeruk untuk ibunya.


"Iya-iya, ibuk akan menurut," jawab ibunya.


Mayang merasa sangat senang. Sungguh tak bisa dijabarkan. Namun, untuk sesaat, ia menangkap ekspresi sedih dari wajah ibunya. Meski pun ekspresi sedih itu lekas diubah ketika Mayang bertanya tapi, Mayang terlanjur menilai janggal atas hal itu.


"Kok rasanya, ibuk tidak senang ya? apa ibuk merasa capek hamil di usia sekarang? atau ibuk khawatir kalau calon adikku tidak akan selamat seperti empat calon adikku sebelumnya? atau.. apa ada yang ibuk sembunyikan?" benak Mayang.


...🌟🌟🌟...


Hari demi hari berlalu. Mayang semakin bersemangat kala memikirkan kalau sebentar lagi, ia akan memiliki seorang adik. Meski pun Bayu, teman dekatnya malah meledek habis-habisan. Menurut Bayu, gadis seusia Mayang, sudah tidak pantas memiliki adik yang masih bayi. Usia mereka terpaut terlampau jauh. Bayu malah mengejek kalau Mayang lebih pantas disebut ibuk ketika menggendong adik bayinya nanti. Hal ini tentu menimbulkan protes dari Mayang yang tak ayal membuat keduanya beradu mulut untuk beberapa waktu.


"Yakin deh kalau kamu bakalan diledekin anak sekampus kalau kamu punya adik. Gak akan ada yang percaya. Pasti dikira kalau itu, anakmu."


"Bodoh amat!"


Usai puas meledek Mayang, Bayu menyarankan sesuatu kepada temannya itu.


"May, pengen tahu gak, adikmu nanti laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki atau pun perempuan, gak ada masalah. Pokoknya aku punya adik. Lagian, nanti juga bakalan kelihatan di hasil USG nya."


"Hei, kenapa harus nunggu nanti kalau bisa tahu dari sekarang?"


"Maksud kamu apa?"


"Maksudku, kamu bisa tanya ke jin yang ngikutin kamu."


"Jin?"


"Iya, jin yang bersemayam di keris di keningmu itu," jawab Bayu sembari menunjuk ke kening Mayang.


"Ngaco kamu!"

__ADS_1


"Loh, jangan salah! jin itu tahu, apa-apa yang manusia belum tahu."


"Udahlah, tambah sesat dengerin nasihatmu."


Bayu tertawa cekikikan.


...🌟🌟🌟...


Petang menjelang dan Mayang baru pulang dari kampus. Segera ia membersihkan diri, beristirahat sejenak lalu makan malam bersama dengan ayahnya. Ibunya mulai mual dan enggan makan di ruang makan. Pola makannya telah berubah. Tidak semua makanan bisa masuk ke mulut. Hanya makanan tertentu dan buah-buahan yang bisa dikonsumsi ibunya. Siklus kehamilan pada tri semester awal memang normalnya begitu.


Usai makan malam, Mayang menyempatkan diri untuk melihat keadaan ibunya sembari berbincang sebentar. Setelah itu, Mayang keluar untuk memberikan waktu bagi ibunya beristirahat. Di ruang tengah, mak Rum beserta mbak Yanti sedang menonton televisi. Sementara mas Galang, terlihat keluar mengendarai motornya. Entahlah, mau pergi ke mana ia.


"Non Mayang mau dibuatkan camilan?" tanya mak Rum ketika melihat Mayang turut duduk di ruang tengah.


"Tidak usah mak, mak Rum nonton televisi saja!"


"Baik."


"Ibuk sudah tidur non?" tanya mbak Mayang.


"Iya, bagus untuk ibuk kalau istirahatnya teratur."


"Iya mbak, aku seneng banget mau punya adik."


Mayang mengungkapkan kebahagiaannya dengan antusias. Sayangnya, respon dari mak Rum dan mbak Yanti sedikit datar. Mayang menilai seolah keduanya tidak merasa senang seperti yang ia rasakan. Pikir Mayang wajar sih karena setelah adiknya lahir nanti, beban pekerjaan mereka akan bertambah. Namun, Mayang sedikit meragukan pemikirannya juga. Bagaimana pun, itu baru dugaan. Masih belum bisa dipastikan kebenarannya.


...🌟🌟🌟...


Sekitar pukul sembilan malam, Mayang beranjak masuk ke dalam kamar. Memainkan ponselnya sebentar sebelum kemudian, kembali meletakkannya di nakas. Saat itu, ia kembali teringat akan ucapan Bayu tadi siang. Mayang mulai mengusap keningnya sembari bertanya perihal jenis kelamin adiknya kelak. Namun hening, tidak terjadi apa-apa. Mayang lantas tersenyum, seolah menertawakan aksi konyol yang ia lakukan.


"Bodoh sekali," gumam Mayang seraya menarik selimut dan kemudian merebahkan diri di ranjang.


Mayang yang akhirnya terlelap itu, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan seorang perempuan yang tak lain adalah sosok penghuni keris yang kini bersemayam dalam keningnya.


"Mayang.." sapa sosok tersebut.


"Kamu..."

__ADS_1


"Kita sudah pernah bertemu tapi belum berkenalan. Namaku kantil, sama dengan wujud bunga yang kamu terima sebelum berubah menjadi keris."


Mayang hanya diam dan sosok itu pun kembali berbicara.


"Tentang yang kamu tanyakan, aku akan menjawabnya."


"Apa yang aku tanyakan?"


"Kamu lupa? ini tentang calon adikmu."


Mayang baru mengingatnya.


"Tentang pertanyaanmu itu, aku sarankan agar kamu tidak terlalu berharap! Laki-laki atau perempuan, tidaklah penting tapi kamu akan terluka jika terlalu berharap."


"Memangnya kenapa?"


"Apa kamu tidak belajar dari keempat calon adikmu terdahulu?"


...Deg......


"Kamu sudah tahu kan jawabannya?"


"Jangan bicara sembarangan! kali ini, adikku akan selamat. Aku akan menjaga ibuku agar kandungannya tetap sehat."


Sosok Kantil tersenyum licik. Seolah mengejek dan meremehkan ucapan Mayang.


"Pergilah! jangan merusak kebahagiaanku!"


"Aku adalah pendampingmu, aku penjagamu. Tentu saja akan selalu bersamamu. Termasuk sekarang, aku menjagamu, menasihatimu dan juga memperingatimu agar ke depannya, kamu tidak terluka. Janin di dalam kandungan ibumu, tidak akan selamat. Sebaiknya, lekas tata hatimu agar dapat menerima kenyataan!"


"Berhenti bicara!" bentak Mayang yang akhirnya membuatnya bangun dari mimpi.


Kekesalan di dalam mimpinya turut terbawa ketika ia terbangun. Rasanya, sungguh tak terima. Dia pun melontarkan banyak makian kepada sosok jin bernama Kantil seraya memintanya untuk pergi dari tubuhnya. Namun, suasana tetaplah hening. Tak ada apa pun yang terjadi.


"Sialan!" umpat Mayang, sekali lagi.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...

__ADS_1


__ADS_2