![WARIS [ END ]](https://asset.asean.biz.id/waris---end--.webp)
Bayu dan Mayang kembali berkendara pulang dengan perasaan yang lega. Namun, sesampainya di rumah, keduanya dibuat panik kala melihat mbak Yanti dan buk Inah yang terlihat ketakutan. Berdiri cemas di teras sembari menunggu Mayang, pulang ke rumah.
"Ada apa buk Inah, mbak Yanti?" tanya Mayang, penasaran.
"Non.. ada setan," jawab mbak Yanti dengan raut ketakutan.
"Setan apa? di mana?"
"Di dalam mbak, barang-barang terbang ke mana-mana. Seperti ada yang melemparkannya."
..."Pyarr.. Grompyang... Braakk.."...
Belum selesai mbak Yanti bercerita, suara barang-barang yang jatuh terdengar dan memang, seperti sedang dilempar oleh seseorang.
"Bukan kucing ya?" tanya Mayang coba menenangkan keadaan, termasuk ketegangan yang ia rasakan.
"Bukanlah non, saya dan buk Inah melihat dengan mata kepala kami sendiri kalau barang-barang itu terbang tanpa ada yang melempar. Makanya kami langsung keluar, gak berani masuk lagi ke dalam."
"Iya non, ini sebenarnya saya mau nyamperin suami saya di rumah tapi keburu non Mayang datang," sahut buk Inah.
..."Pyarr... Pyarr.. Pyarr ..."...
Terdengar suara piring dan gelas yang dipecahkan.
"Astaghfirulloh!" pekik semua orang.
Mayang berusaha mengintip dari jendela, mengamati keadaan di dalam. Namun, ruang tamu terlihat aman. Suara-suara itu, berasal dari ruang tengah dan juga dapur.
"Gimana Bay?" tanya Mayang sembari menatap kekasihnya.
"Gimana kalau kita panggil tetangga sekitar untuk menemani masuk? satu atau dua orang saja."
Saran yang Bayu berikan, lekas disetujui oleh yang lainnya. Mbak Yanti memanggil tetangga di sisi kanan rumah. Sementara buk Inah, memanggil tetangga di sisi kiri rumah. Bayu dan Mayang menunggu di teras. Para tetangga yang dipanggil, sigap menanggapi dan lekas berdatangan. Setelah berdiskusi sesaat, diputuskan untuk bersama-sama memeriksa ke dalam rumah.
__ADS_1
"Bismillah!" seru semuanya ketika hendak membuka pintu depan.
..."Wwhusssshhhhh"...
Angin yang entah dari mana asalnya, menyambut mereka. Membuat bulu remang bergidik seiring menciutnya nyali yang memang sudah diliputi rasa takut sedari tadi. Semua orang saling berpandangan lalu mengangguk, isyarat untuk lanjut berjalan.
..."Grompyang.. braakkk... brakk..."...
Suara gaduh sama sekali tak berkurang. Seolah tiada takutnya dengan kedatangan kami. Mungkin, mereka memang tidak takut pada kami atau mungkin, jumlah mereka jauh lebih banyak dari pada kami yang hanya tujuh orang. Dengan jantung yang berdegup lebih kencang, mereka bersiap untuk memasuki ruang tengah. Salah satu ruang di mana sumber suara gaduh terdengar.
"Oke, siap ya? kita lihat sama-sama!"
Tatapan diam Mayang dan yang lainnya seolah menyiratkan kata-kata di atas. Langkah selanjutnya dilakukan dengan rasa takut yang mengglayut cepat.
...Deg......
Semua mata membulat, berusaha menahan diri agar tidak berlari. Sangat jelas terlihat, barang-barang yang melayang di udara. Melayang diam seolah si pembawanya tengah menatap sekumpulan orang yang baru datang. Tepat beberapa detik kemudian, barang-barang tersebut terbang ke arah Mayang dan yang lainnya. Tak ayal, semua kocar-kacir, berlari tunggang langgang, menghindar. Tak sedikit juga yang menjerit, membuat kehebohan hingga para tetangga yang lain, penasaran lalu mulai berdatangan.
"Ada apa?"
"Ada apa?"
"Ada apa ini? kalian kenapa?" tanya salah seorang tetangga.
"Setan, di dalam ada setan yang melempar-lempar barang," jelas buk Inah yang lekas membuat semua orang terperangah.
Para tetangga jelas percaya sebab, suara gaduh masih terdengar. Beberapa ibu-ibu, mengambil air putih lalu memberikannya kepada Mayang dan yang lain seraya meminta mereka untuk tenang. Beberapa bapak-bapak yang lain berusaha membuktikan. Tidak sampai lima menit, semua orang kembali keluar dengan pernyataan yang membenarkan kalau memang ada setan di dalam.
Semua orang lantas bermusyawarah untuk kemudian, memanggil ustad Fahri ke rumah. Dengan perantara ustad Fahri, kondisi rumah kembali tenang. Kegaduhan berhenti tapi, rumah tak ubahnya seperti kapal pecah. Para tetangga yang melihat hal itu, secara sukarela membantu untuk membersihkan. Meski tidak rapi sempurna, setidaknya sudah tidak ada beling yang berserakan.
"Apa sudah tidak apa-apa pak Ustad? jujur, saya takut untuk tinggal lagi di rumah ini. Terlebih, saya, mbak Yanti dan buk Inah, perempuan semua. Buk Inah juga akan pulang kalau malam. Tinggal saya dan mbak Yanti saja," jelas Mayang, menyampaikan keresahannya.
"Hemm.. iya-iya, bagaimana kalau mbak Mayang menginap dulu ke rumah saudara? ada yang dekat kan saudaranya?" tanya ustad Fahri, menawarkan alternatif solusi.
__ADS_1
Mayang terdiam sesaat lalu mengangguk seraya meraih ponselnya untuk menghubungi budhenya (ibu dari mas Galang). Setelah berbincang beberapa saat, Mayang menutup ponselnya lalu meminta mbak Yanti untuk segera mengemasi barang-barangnya karena mereka akan menginap selama beberapa dua atau tiga hari di rumah di sana.
"Baik non," jawab mbak Yanti seraya langsung berdiri menuju kamarnya.
"Kalau begitu, saya mengemasi barang-barang saya dulu ya pak ustad! pas ustad jangan pulang dulu!"
"Iya, saya tunggu di sini!"
Beberapa saat kemudian, Mayang dan mbak Yanti telah siap. Semua orang keluar berikut para tetangga juga yang kemudian dibubarkan. Tak lupa, Mayang mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan.
...🌟🌟🌟...
Sesampainya di rumah mas Galang, Mayang dan mbak Yanti tidak terlalu banyak ditanyai. Mereka lekas dipersilakan untuk beristirahat sebab malam, kian pekat. Barulah pada keesokan harinya, introgasi dilakukan. Budhenya merasa heran sebab, selama ini ia tidak pernah mendengar adiknya (ornag tua) mbak Mayang mengeluhkan perihal gangguan ghaib.
"Kenapa sekarang, setelah mereka meninggal, kamu mengalami gangguan sehebat itu ya?"
"Mayang juga tidak tahu budhe."
"Mungkin gak sih kalau itu adalah arwah orang tua kalian yang minta dikirimi doa lagi?"
"Em, apa begitu budhe?"
"Budhe juga tidak tahu tapi mungkin gak sih?"
Mayang terdiam, sebenarnya ia memiliki dugaannya sendiri. Dugaan yang bisa jadi benar. Mayang menduga kalau para sosok astral di rumahnya murka sebab Mayang berusaha melepaskan diri dari jeratan mereka. Dimulai dari menyingkirkan keris kecil dari keningnya. Tekadnya pun sangat bulat untuk terus mencari cara agar terbebas dari jerat perjanjian ghaib yang dulunya dimulai dari zaman eyang dan akungnya dulu. Ditambah wasiat yang telah eyang Ratmi berikan, ia semakin mantap untuk terus berusaha.
"Apa kita buat acara tahlil lagi saja ya May?"
"Em, tahlil? di sana? Mayang gak berani budhe."
"Iya-ya, kamu pasti masih trauma."
Budhenya tampak berpikir, mencari cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah keponakannya tersebut.
__ADS_1
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...