![WARIS [ END ]](https://asset.asean.biz.id/waris---end--.webp)
Ingin teriak tapi tak ada suara yang keluar. Ingin berlari, seluruh tubuh tak bisa digerakkan.
"Terjadi lagi, tubuhku..." benak Mayang.
Eyang Ratmi melayang mendekat hingga keduanya saling berhadapan tepat. Jika bisa, Mayang lebih memilih untuk pingsan. Sayangnya, tubuhnya tetap berdiri di tempatnya dan kesadarannya tak berkurang. Eyang Ratmi memandanginya selama beberapa detik kemudian menggelengkan kepala beberapa kali. Tanpa mengucapkan apa-apa, Eyang Ratmi kembali melayang dan pergi. Setelah sosoknya menghilang, barulah Mayang dapat menggerakkan tubuhnya. Seketika ia terhuyung jatuh. Sembari merangkak, ia beranjak masuk kembali ke dalam ruang inap ibunya.
"Astaghfirulloh! ya Alloh!"
"Dari mana May? kenapa kok tegang begitu muka kamu?" tanya ibunya.
"Ah, enggak kok buk. Mayang habis cari angin di luar. Ibuk kok kebangun, kenapa? mau ke kamar mandi kah? atau lapar?"
"Enggak, ibuk kebangun saja, gak pengen apa-apa. Kamu kelihatan capek banget May. Kamu pulang dulu gih! biar gantian mbak Yanti atau mak Rum yang jaga ibuk!"
"Mayang baik-baik saja kok buk."
"Yang nurut! dari pada kamu ikutan sakit seperti ibuk."
"Iya-iya, besok Mayang pulang."
"Ayahmu ke mana?"
"Ayah beli makanan, udah dari tadi kok. Harusnya sih sebentar lagi datang."
Ibunya manggut-manggut sembari mengusap rambutnya yang kusut.
"Mau dibantu menyisir rambutnya buk?"
"Iya boleh, pelan-pelan ya!"
"Iya."
Mayang mengambil sisir dari dalam tasnya lalu membantu menyisir rambut ibunya.
...🌟🌟🌟...
Keesokan paginya, Mayang pulang ke rumah usai menyuapi ibunya, sarapan. Ini adalah hari kelima, ibunya dirawat dengan kondisi yang tak jauh berbeda ketika awal datang. Tidak ada perkembangan yang siknifikan. Malah menurut Mayang, perlahan semakin parah. Seperti pagi tadi, ibunya sempat tidak mengenali Mayang untuk beberapa menit. Beruntung, ibunya telah kembali normal. Meski demikian, Mayang tetap khawatir. Takut jika itu adalah sebuah pertanda untuk penyakit yang jauh lebih berat lagi.
...🌟🌟🌟...
[ Ibumu belum sembuh May? ] - tanya Bayu dalam pesan singkatnya.
[ Belum. ]
[ Mau kutemani jaga di rumah sakit? ]
[ Gak usah, malam ini yang jaga mbak Yanti di rumah sakit. ]
[ Are you ok? ]
[ Gak oke. ]
[ Mau aku temenin? pengen makan apa, sekalian aku bawain? ]
[ Gak pengen makan apa-apa Bay. ]
[ Gimana kalau aku bawain martabak 75 favoritmu? ]
[ Terserah kamu. ]
[ Wah sulit kalau terserah. Ya udah, dilanjut nanti ya! ada kelas lagi nih. Nanti sore aku meluncur ke rumahmu! ]
[ Iya. ]
__ADS_1
Mayang meletakkan ponselnya lalu duduk di teras. Mak Rum yang tengah memotong dedaunan kering, menghampiri Mayang.
"Non, mau dibikinin camilan? non Mayang sudah makan?" tanya mak Rum.
"Enggak usah Mak, makasih!"
"Gimana kondisi ibuk non?"
"Ibuk.. gak tahu mak."
"Loh gimana toh non? mak Rum jadi khawatir."
"Sejauh ini, belum ada tanda-tanda membaik. Malah tadi pagi, sempat tidak mengenali Mayang. Cuma hitungan menit sih tapi kan.. Mayang takut mak," jelas Mayang seiring jatuhnya air mata.
Mak Rum hanya bisa menguatkan Mayang sembari membantu dengan doa agar majikannya lekas diberi kesembuhan.
...🌟🌟🌟...
Sekitar pukul empat sore, Bayu tiba. Sesuai janjinya, ia membawakan martabak favorit Mayang. Mayang menemuinya dengan wajah sembab yang lekas memicu rasa khawatir di benak Bayu.
"May.. kamu.."
Belum selesai Bayu bicara, Mayang telah menangis sesenggukan.
"May.. sabar ya!"
Mayang masih terus menangis.
"Gimana? coba ceritain pelan-pelan!" pinta Bayu sembari terus, coba menenangkan.
"Bay.. apa yang terjadi, jauh lebih buruk dari yang terlihat."
...Deg.....
"Oke, kamu boleh cerita kalau memang kamu bersedia. Jika berat, aku gak akan memaksa. Aku temenin kamu aja sampai kamu tenang. Kalau butuh bantuan, bilang ya!"
Tangis Mayang kian kencang. Setelah sepuluh menit berselang, barulah ia tenang.
"Sudah lebih baik May?"
Mayang menganggukkan kepala.
"Kamu mau jalan-jalan?"
"Ke mana?"
"Muter-muter aja biar gak sedih terus."
"Boleh, aku ambil jaket dulu ya!"
"Iya."
"Ini martabaknya gimana?"
"Kamu cicipi satu dulu deh terus taru di dapur, biar dimakan mak Rum dan ayah kamu!"
"Ayah pergi, ada keperluan mendadak."
"Oh, ya sudah biar dimakan mak Rum nanti!"
"Iya, bentar ya!"
Bayu mengangguk.
__ADS_1
...🌟🌟🌟...
Bayu membawa Mayang berkeliling kota mengendarai motornya. Disepanjang perjalanan, ia terus mengajak Mayang berbincang hingga ia fokusnya mulai teralihkan. Sedihnya perlahan sirna dan akhirnya, Mayang meminta berhenti di sebuah warung pinggir jalan. Mayang lapar, ingin makan di sana. Dengan senang hati, Bayu menurutinya. Ia merasa senang karena suasana hati sahabatnya, mulai membaik.
"Mau makan apa?" tanya Bayu sembari mengulurkan lembar menu.
"Emm... cumi saos telur asin satu sama es jeruk satu."
"Oke, kalau saya, ikan dorang asam manis sama es teh manis."
"Baik, mohon ditunggu!" ucap si pelayan warung.
"Terima kasih!" ucap Bayu dan Mayang, bersamaan.
Kondisi Mayang telah jauh lebih baik. Sembari makan, ia menceritakan perihal kondisi ibunya serta rasa khawatir yang melanda batinnya.
...🌟🌟🌟...
Usai makan, Bayu mengajak Mayang berkeliling lalu membeli beberapa camilan untuk sekalian diberikan kepada mbak Yanti dan ibunya Mayang di rumah sakit. Ketika sedang mengantri, ponsel Mayang berdering. Itu adalah panggilan telepon dari mbak Yanti.
"Hallo mbak, ada apa?" tanya Mayang to do point.
"Non Mayang bisa ke rumah sakit sekarang?"
...Deg.....
Pikiran Mayang kacau seketika. Ia takut jika kondisi ibunya memburuk atau kritis.
"Kenapa mbak? ada apa?"
"Saya takut lihat ibuk."
"Hah? memangnya ibuk kenapa?"
"Non Mayang ke sini ya!"
"Iya-iya mbak, tunggu ya!"
"Iya non. Saya tutup dulu teleponnya!"
"Iya mbak."
..."Klik.."...
"Ada apa May?" tanya Bayu.
"Kita harus cepet-cepat Bay! Suara mbak Mayang seperti orang yang ketakutan. Aku takut terjadi sesuatu dengan ibuku."
"Oh, iya nih pesenan kita juga sudah selesai. Kita berangkat ya!"
"Iya."
Setelah membayar, Bayu dan Mayang lekas bergegas.
"Cepetan Bay!"
"Iya May."
Sepanjang perjalanan, pikiran Mayang tak bisa ia kendalikan. Hanya kemungkinan terburuk yang muncul. Bersamaan dengan itu, rasa sedih mengglayut cepat. Ia merasa belum siap jika harus ditinggal oleh ibunya. Dalam benaknya, ia akan melihat ibunya hidup hingga tua, menimang cucu-cucunya. Namun, melihat kondisi ini, Mayang sama sekali tidak bisa berpikir positif.
"Sabar ya May, tenang! sebentar lagi kita sampai," ucap Mayang, menenangkan.
"Iya Bay," jawab Mayang.
__ADS_1
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...