![WARIS [ END ]](https://asset.asean.biz.id/waris---end--.webp)
Mayang menahan diri untuk tidak menceritakan perihal mimpinya kepada ibunya karena khawatir jika hal itu akan membebani pikiran ibunya. Mayang lebih memilih untuk menceritakannya kepada Bayu. Bayu mendengarkan dengan seksama tapi anehnya, ia tak lekas menanggapi cerita Mayang. Bayu seolah lebih berhati-hati untuk berucap.
"Kok diam sih Bay? gak kayak biasanya kamu."
"Masak sih? ini tandanya, aku serius mendengarkan."
"Hemm... biasanya juga nyerocos terus."
Bayu nyengir.
"Jadi gimana nih?"
"Gimana ya? emm, anggap sebagai bunga tidur saja!"
"Mana bisa? sudah terlanjur mengganggu pikiran. Apalagi yang ngomong tuh sosok Kantil yang bersemayam di keris ini (sambil menunjuk jidatnya)."
"Memangnya sekarang kamu sudah percaya sama sosok itu? kalian sudah berteman?"
"Husst! tentu saja tidak."
"Kalau begitu abaikan saja!"
"Tapi aku takut Bay. Aku benci mengakui kalau apa yang dia ucapkan berhasil mengganggu pikiranku tapi nyatanya, keempat calon adikku dulu juga gugur dalam kandungan. Aku takut kalau yang sekarang akan mengalami hal yang sama."
Bayu kembali diam dengan raut wajah serius. Seperti sedang berpikir dengan keras.
"Kamu kenapa sih Bay? aneh banget hari ini?" tegur Mayang.
"Berdoa May! ada perasaan yang gak enak juga di hatiku. Semoga semua baik-baik saja!"
"Maksudmu apa Bay? mimpiku itu benar?"
"Kita tidak akan tahu sebelum semua itu terjadi. Ada baiknya untuk melakukan pencegahan."
"Berdoa ya?"
"Betul."
"Kamu ini aneh Bay, kemarin ngotot banget bilang kalau jin Kantil itu akan membantuku. Sekarang nyuruh aku berdoa, gak sinkron ucapanmu."
"Iya May, aku juga bingung. Biarkan saja sosok Kantil itu! Toh dia tidak melukaimu. Sekarang, fokus sama calon adikmu saja!"
Mayang menghela napas dalam-dalam sembari memikirkan saran yang Bayu katakan. Mayang sendiri bukanlah seorang yang religius. Bahkan, dalam setahun terakhir, ia tidak pernah beribadah sama sekali. Jika Ramadhan tiba, ia akan tetap ikut berpuasa tapi tidak, untuk sembahyang. Mayang sangat malas melakukannya. Bukan hanya dirinya, seluruh keluarga besarnya pun juga sama.
...🌟🌟🌟...
Selama dua hari berikutnya, Mayang telah menimbang. Akhirnya, ia mengambil air wudhu untuk kemudian beribadah. Sayangnya, godaan setan jauh lebih hebat dari pada iman. Usai mengambil air wudhu, bukannya solat, Mayang malah ikut nimbrung di ruang tengah sembari menikmati camilan. Hal ini berulang terus hingga berbulan-bulan. Mayang sendiri telah mengabaikan kerisauan batinnya perihal calon adiknya hingga pada suatu siang, ibunya mengatakan kalau calon adik Mayang kembali gugur seperti calon-calon adik yang sebelumnya. Mayang terpukul dan tanpa sadar menitikan air mata. Mayang masih sulit menerima meski kedua orang tuanya berusaha menenangkannya. Memberikan pengertian kalau apa yang terjadi adalah kehendak sang pencipta.
"Mayang jangan bersedih lama-lama! kasihan adik yang sekarang ada di surga," ucap ibunya.
Mayang lantas menganggukkan kepala seraya beranjak masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
...🌟🌟🌟...
"Benar kan, apa yang aku bilang?"
...Deg......
Suara sosok Kantil terdengar berbisik di telinga membuat Mayang gelagapan, lekas mencari ke sekeliling ruangan. Tak lama kemudian, terdengar suara cekikikan.
"Siapa kamu?" tanya Mayang.
"Aku Kantil."
"Di mana kamu?"
"Di sini."
"Di sini di mana?"
Sepersekian detik kemudian, angin dingin yang entah dari mana masuknya, menerpa tengkuk Mayang hingga membuatnya merinding. Disusul dengan terdengarnya suara Kantil yang menjawab pertanyaan Mayang.
"Aku di sini, apa kamu sudah tahu sekarang?"
...Deg......
Hawa dingin kembali terasa usai Kantil berbicara. Seketika Mayang berjingkat lalu berpindah tempat.
"Kamu sudah menyadari keberadaanku ya?"
Meski Mayang masih belum bisa melihat wujud Kantil. Namun, hawa dingin yang ia rasakan, sudah menunjukkan di mana Kantil berada.
"Sebentar lagi, kamu akan terbiasa dengan keberadaanku."
"Aku tidak membutuhkanmu dan tidak ingin diikuti olehmu."
"Benarkah? lantas bagaimana kabar calon adikmu? apakah yang aku ucapkan dalam mimpi, sudah menjadi kenyataan?"
...Deg......
"Kamu membutuhkanku Mayang, kita bisa berteman. Sama seperti kedua orang tuamu dan juga nenek, kakekmu."
"Apa pun hubungan kalian (para makhluk jin) dengan nenek, kakek dan kedua orang tuaku, aku menghormatinya tapi aku, tidak mau diikuti."
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Ini adalah kesepakatan yang dibuat oleh ki Ageng dengan nenek dan kakekmu."
"Apa maksudmu? ki Ageng ini.. pak Ageng yang baru saja menikahkan putrinya?"
"Iya benar."
__ADS_1
"Kesepakatan apa yang mereka buat?"
"Mereka bersedia melepaskan ki Ageng dengan syarat kalau ki Ageng harus menuruti perintah mereka dan senantiasa membantu kakek dan nenekmu."
"Apa? untuk apa? manusia dan jin sudah berbeda."
"Kamu masih sangat muda untuk memahami keserakahan manusia. Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan! cukup berteman denganku dan semua urusanmu, kujamin lancar!"
"Apa... semua keturunan nenekku memiliki pendamping jin sepertimu?"
"Tidak semua, hanya yang terpilih saja."
"Apa maksudmu?"
"Mulai dari nenekmu, menurun ke ibumu lalu sekarang menurun padamu."
"Kenapa ibuku yang terpilih? bukankah nenekku memiliki tiga anak?"
"Karena ibumu mengetahui faktanya dan secara sukarela bersedia untuk menjadi penerusnya."
"Hah? tidak mungkin!"
"Tidak ada yang tidak mungkin. Faktanya orang tuamu datang bukan, di acara pernikahan putri ki Ageng?"
...Deg.....
"Apa mereka terlihat terpaksa saat datang?"
"Itu.. lantas kenapa sekarang menurun padaku, sedangkan aku tidak menerimanya?"
"Tentu saja karena kamu, anak tunggal."
"Tidak adil, aku tidak mau."
"Perjanjian yang telah dibuat, tidak bisa dibatalkan. Lagi pula, apa buruknya jika sekedar berteman? lihatlah, sudah dua kali aku membantumu. Pertama, memperingatkan tentang Reza. Kedua, menjawab kegelisahanmu tentang calon adikmu."
"Jadi kenapa kelima calon adikku gugur semua?"
"Benarkan, aku bisa diandalkan."
"Stop! tidak perlu kamu jawab! aku tidak mau berinteraksi denganmu lagi! pergilah dan jangan pernah, muncul lagi!"
"Aku akan tetap bersamamu."
"Pergi! pergi! pergi!"
Hening, kali ini tak ada lagi sahutan. Sepertinya, sosok Kantil sudah pergi. Namun, tidak pernah benar-benar pergi. Entahlah bagaimana menjabarkannya tapi Mayang dan sosok itu, kini telah terikat meski tanpa persetujuan Mayang.
"Apa ini? apa sebenarnya yang terjadi? nenek dan kakekku memiliki rahasia seperti ini. Ayah dan ibuku tahu tapi malah meneruskannya. Sekarang aku, menolak tapi tidak bisa membebaskan diriku. Gila!"
Untuk pertama kali, Mayang menyalahkan neneknya yang selama ini, amat ia sayangi. Dia tak menyangka kalau ada perjanjian panjang dibalik pertolongan yang nenek dan kakeknya berikan. Mayang mulai penasaran tentang apa saja isi perjanjian hingga membuatnya terjerumus ke dalam pusaran kegelapan. Pikir Mayang, neneknya sekedar hamba yang ingkar akan perintah beribadah, sama seperti dirinya. Namun nyatanya, neneknya telah bersekutu dengan jin yang kini, turut menyeret dirinya.
__ADS_1
"Eyang... kenapa eyang setega ini kepada Mayang? sebenarnya apa yang eyang minta? perjanjian seperti apa yang telah kalian buat?"
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...