WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
KEHANCURAN [ END ]


__ADS_3

Ucapan Mayang sangat mengganggu pikiran Galang. Bahkan, ia mulai menyelidiki ibunya dan juga omnya secara diam-diam. Penyelidikan selama beberapa hari itu pun lekas menimbulkan beberapa tanda tanya yang seolah membenarkan apa yang telah Mayang katakan. Dalam waktu singkat, kehidupan keluarganya berubah. Berubah menjadi sangat kaya tapi, tak ada pekerjaan yang benar-benar dilakukan oleh ayah dan ibunya. Jika Galang atau pun tetangga menanyai mereka, orang tua Galang akan menjawab dengan santai kalau mereka mendapatkan rejeki nomplok dari warisan yang diberikan oleh almarhumah ibu dan juga adiknya (ibunya Mayang). Alasan ini saja sudah cukup diterima oleh para tetangga sebab, kebanyakan dari mereka memang mengenal dan tahu betul jika semasa hidup dulu, mereka (almarhumah ibu dan adiknya) memang kaya. Namun, Galang mulai merasakan kengerian kala satu persatu pekerja yang sempat dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga di rumahnya mengalami sakit tiba-tiba yang tak lama kemudian, meninggal. Bahkan, dengan berani Galang mengintrogasi orang tuanya. Meski pada awalnya, keduanya mengelak tapi pada akhirnya, ibunya memberikan secuil jawaban yang seolah menjawab semuanya.


"Ibuk hanya melanjutkan apa yang harus ibuk lakukan yakni melanjutkan."


..."Deg.."...


Kaki Galang serasa lemas. Nyaris saja ia jatuh, tak mampu menahan bobot tubuhnya. Hari demi hari, keceriaan di rumah seolah menghilang. Banyak harta tapi hati merasakan gelisaan. Gelisah tanpa sebab dan selalu merasa kurang. Galang mengamati, setiap usai ada pekerja yang meninggal (ditumbalkan), suasana hati ibu dan ayahnya akan menjadi baik. Setelah itu, mereka akan membeli banyak barang atau pun menambah aset mereka hingga pada suatu masa ketika bangsa jin, meminta tumbal yang lain.


"Apa? ke-napa tumbalnya beru-bah?" tanya ibu Galang terbata.


Di sampingnya, suaminya hanya bisa termangu menantikan jawaban.


"Tidak ada yang berubah, sejak zaman orang tuamu, tumbalnya memang itu. Tidak ada yang sulit dengan permintaanku. Kalian tinggal menyiapkan janin kalian untuk aku ambil di usia kandungan empat bulan!" jawab jin kepada sepasang suami istri tersebut.


"Tapi nyai (panggilan untuk jin bernama Kantil), istri saya sudah tidak bisa hamil lagi. Kami telah memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi setelah melahirkan akan kedua kami dan ini sudah permanen karena kami sudah ke dokter untuk menghentikan kehamilan berikutnya," sahut ayah Galang.


"Aku tidak mau tahu."


"Bagaimana kalau janin orang lain? kami akan mencarikan ibu hamil sebagai target tumbal."


"Harus darah dagingmu sendiri sebagai pengikutku!"


..."Deg ..."...


Usai mengatakan hal itu, sosok Kantil menghilang. Sementara ibu galang, terduduk lemas.


...🌟🌟🌟...


Di tempat lain, kehidupan Mayang berangsur membaik. Meski hanya Bayu dan mbak Yanti saja yang selalu ada menemani. Bayu yang telah berjanji akan menikahi Mayang, berusaha maksimal untuk menepati ucapannya. Ditambah restu kedua orang tuanya, rencana itu pun akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Sebuah cincin, Bayu berikan dan dengan mantap Bayu katakan kalau dia sudah tidak sabar untuk memperistri Mayang dan dalam waktu dekat, akan segera merealisasikannya. Mayang benar-benar terharu seraya memeluk Bayu.


"Terima kasih Bay, kamu tetap berdiri teguh menemaniku dalam kondisi terburukku!"


"Sampai kapan pun, aku akan tetap begitu," jawab Bayu seraya mempererat pelukannya.


...🌟🌟🌟...


Di saat Mayang dan Bayu sibuk mempersiapkan pernikahan mereka, rumah tangga budhenya mulai kacau sebab, keduanya memiliki pendapat yang berbeda perihal tumbal janin yang diminta. Budhenya mempertimbangkan untuk mencarikan istri untuk Galang dan anak Galang yang akan ditumbalkan. Namun, suaminya memiliki pendapat yang lain.


"Nyai mengatakan kalau janin itu haruslah darah dagingku. Kalau anaknya Galang, tentu bukan darah dagingku secara langsung," ucar suaminya.


"Lantas bagaimana maksud kamu?"


Sang suami menatap istrinya lekat-lekat sebelum mengatakan sesuatu yang sangat melukai perasaannya.

__ADS_1


"Aku akan menikah lagi dan punya anak darinya tapi anak itu tidak akan dilahirkan, hanya untuk ditumbalkan."


..."Deg..."...


"Kamu gila! kamu mau menikah lagi?"


"Buk, ini untuk kita. Ayah melakukannya hanya untuk memenuhi tumbal yang Nyai minta," jelas suaminya.n


"Tega kamu yah! kamu mau tidur dengan wanita lain."


"Bukan begitu buk, ibuk harus tenang! ini semua agar ibuk tetap bisa hidup dengan bergelimang harta. Pikirkan pelan-pelan buk! tidak ada solusi lain bukan? siapa yang mau hamil anakku dan menjaga kandungannya sampai empat bulan kalau tidak istriku sendiri. Itulah kenapa, bapak harus menikah lagi."


"Tidak! ibuk tidak setuju!"


Perdebatan itu berlanjut di hari-hari berikutnya dan dengan cepat menjadi prahara dalam rumah tangga budhenya. Sementara itu, Mayang berada pada puncak bahagia. Pernikahan Bayu dan Mayang digelar hikmat di kediaman orang tua Bayu. Bayu dan Mayang sepakat untuk tidak mengundang keluarga Mayang ketika keduanya melakukan ijab kabul karena khawatir kalau keluarga Mayang akan mengacau dalam acara yang sakral itu. Mungkin, sekedar ketakutan mereka saja tapi, ada baiknya juga untuk tidak mengundang. Bayu tidak ingin suasana hati istrinya kacau di hari bahagia mereka. Barulah satu minggu kemudian, mereka mengirimkan undangan resepsi pernikahan kepada budhe dan juga omnya. Yang terpenting, mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. Pada acara resepsi itulah, Mayang merasakan gestur aneh dari budhenya.


"Selamat berbahagia ya Mayang, maafkan budhe yang banyak salah!" ucap budhenya ketika menyalami Mayang.


...🌟🌟🌟...


Usai acara, Mayang membahas perihal keanehan budhenya tersebut seraya mengungkapkan kekhawatirannya.


"Aku jadi takut yang..," ucap Mayang.


"Kenapa sikap budhe seaneh itu? apa.. apa kaum jin hendak mengambil jiwanya sebagai tumbal? apa nasibnya akan sama seperti ayah dan ibuku?"


"Hhussssttt! jangan berpikir macam-macam!" ucap Bayu seraya memeluk istrinya.


"Lihat! setelah melewati banyak hal, kita sudah bahagia sekarang. Jangan dirusak dengan hal-hal seperti yang kamu pikirkan! lepaskan semuanya dan abaikan! apa pun yang mereka lakukan dan apa yang akan terjadi pada mereka, biarkan saja. Perihal ujung dari perjanjian ghaib ini, tentu kita sudah tahu. Bukan hanya kita tapi budhe dan ommu juga sudah tahu. Telah menjadi urusan mereka karena mereka telah menyepakati perjanjian itu."


"Tetap saja muncul rasa iba dalam hatiku."


"Pikirkan ini saja! kita akan hidup bahagia dengan keluarga kecil kita. Aku, kamu dan anak-anak kita."


Mayang tertawa.


"Kenapa tertawa? sebentar lagi kan kita akan punya anak."


Mayang tersenyum, Bayu lantas mengusap pipi istrinya lalu mencium bibirnya.


...🌟🌟🌟...


Hari-hari berikutnya adalah hari yang sangat buruk bagi budhe Mayang sebab, suaminya tetap bersikukuh untuk menikahi wanita lain. Budhenya menjadi pendiam, seolah tak lagi memiliki semangat hidup. Puncaknya adalah ketika ia mengetahui kalau istri kedua suaminya, hamil. Ia menjadi depresi memikirkan suaminya telah tidur dengan wanita lain. Meski pun suaminya benar-benar membuktikan kalau kehamilan itu hanya dijadikan tumbal tapi budhe Mayang tetap tidak bisa menerimanya. Alhasil, keduanya memutuskan untuk bercerai. Mas Galang dan adiknya cukup terguncang dengan perceraian orang tuanya. Ditambah ibunya yang mulai mengalami gangguan mental akibat depresi yang tidak ditangani dengan benar.

__ADS_1


Harta benda habis perlahan untuk pengobatan. Rumah yang ditinggali pun sempat mengalami kebakaran yang mengharuskan mas Galang beserta ibu dan adiknya pindah. Ada saja jalan yang akhirnya membuat mereka menjual aset yang dimiliki hingga menyisakan satu rumah yang mereka tinggali. Sementara ayah mas Gilang, hidup bergelimang harta. Saat itulah, istrinya mulai menaruh curiga. Musabab setiap kehamilan yang ia alami akan selalu mengalami keguguran. Ketika rasa curiga itu dipertanyakan, suaminya hanya akan menjawab kalau itu semua adalah takdir tuhan hingga suatu ketika, ia mengetahui fakta yang sebenarnya. Istrinya menjadi murka serta memutuskan untuk bercerai saja. Namun, sang suami malah menawarkan banyak harta agar istrinya tetap mau menyediakan tumbal janin untuknya. Tak habis pikir dengan kepicikan suaminya, ia pun memilih untuk pergi dari rumah mereka.


...🌟🌟🌟...


Di tempat lain, Mayang tengah berbahagia sebab kini, ia sedang hamil tiga bulan. Calon buah hati pertama. Kondisi ekonominya dengan Bayu semakin baik. Sebuah rumah telah berhasil mereka miliki meski masih harus mengangsur. Mereka pun telah sepakat untuk kembali menarik mbak Yanti, untuk kembali bekerja sebagai pengasuh anak mereka setelah lahir. Tentu saja mbak Yanti merasa sangat senang dan lekas menerimanya.


"Alhamdulillah!" seru Mayang yang merasa sangat bersyukur atas hidup yang dimilikinya.


...🌟🌟🌟...


Ketika Mayang merasakan kebahagiaan yang bertubi-tubi, kehidupan budhenya hancur berantakan. Budhenya mengalami gangguan mental dan kini dirawat di rumah sebab, tak ada lagi biaya untuk perawatan di Rumah Sakit. Mas Galang menjadi tulang punggung keluarga sembari berjuang membiayai sekolah adiknya yang masih duduk di bangku SMA. Namun, itu tidaklah lama sebab, kondisi budhe Mayang kian memburuk sebelum kemudian, meninggal tiba-tiba.


Berita kematian ini sampai di telinga Mayang. Mayang sedikit terkejut meski sudah dapat menduganya. Ia raih ponselnya lalu menghubungi kakak sepupunya, mas Galang. Mas Galang lantas menangis dan meminta maaf kepada Mayang. Mayang pun ikut menangis juga. Mereka berbincang beberapa saat melalui sambungan telepon. Saling memaafkan dan menguatkan. Mayang juga mengajak mas Galang untuk menemui ustad Fahri dan kyai Jafar, mas Galang menyetujuinya.


...🌟🌟🌟...


Sama seperti yang Mayang lakukan, mas Galang berusaha mengubur masa-masa paling buruk dalam hidupnya. Berusaha berdiri tegak seraya berjalan maju ke depan. Masa lalu kelam, ia tutup rapat-rapat. Kini, fokusnya adalah untuk membiayai adiknya hingga lulus kuliah. Barulah setelah itu, ia pikirkan untuk membangun rumah tangga. Mas Galang juga selalu mendoakan almarhumah ibunya agar tenang di alam sana meski batinnya meneriakkan kalau jiwa ibunya tidak akan bisa lepas dari jeratan jin yang telah membuat perjanjian dengan ibunya. Sementara ayahnya, mas Galang sama sekali tidak mendapatkan kabar mengenai ayahnya. Dia berusaha mencari ibu tirinya tapi ibu tirinya malah melontarkan makian yang kejam padanya. Ia mengatakan kalau Galang beserta keluarganya adalah pemuja setan dan ia sama sekali tidak mau tahu lagi tentang kabar mantan suaminya itu. Ya, ayah dan ibu tirinya telah bercerai dan kini, mas Galang tidak tahu harus ke mana lagi mencari. Ia memilih untuk melanjutkan hidup sembari berharap agar ayahnya bertaubat sebelum ajal menjemput.


"Di mana pun ayah berada, tolong buka mata hatinya ya Alloh! izinkan ayah untuk bertaubat!"


Itulah sebait doa yang mas Galang panjatkan.


...🌟🌟🌟...


Sementara itu, di tempat lain, Bayu dan Mayang tengah berbahagia menyambut kelahiran putra pertama mereka. Air mata membasahi pipi Bayu ketika mengumandangkan adzan di telinga putranya. Rasa haru dan bahagia, bercampur jadi satu.


"Alhamdulillah ya Alloh!"


Tak henti-hentinya rasa syukur terucap dari bibir Mayang dan Bayu.


...🌟 TAMAT 🌟...


✨ Akhirnya kelar juga Novel ke. 11 saya.


✨ Terima Kasih untuk Kalian semua Yang telah Mendukung karya-karya saya selama ini.


✨ Selamat menunaikan ibadan puasa Ramadhan bagi yang menjalankan dan Nantikan judul novel saya yang selanjutnya ya.


✨ Love You All ✨


✨ Salam Hangat Dari Penulis ✨


✨ Siyuk Sie ✨

__ADS_1


...🤗...


__ADS_2