WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
PEREBUTAN


__ADS_3

Hari itu, Bayu, Mayang beserta ustad Fahri diminta untuk menginap. Barulah pada esok paginya, mereka pamit pulang. Tidak langsung pulang melainkan harus mengembalikan keris dulu ke tempat asalnya. Mayang berusaha keras mengingat, di titik mana ia beserta kedua orang tuanya dulu mulai masuk ke dimensi yang lain. Kelokan demi kelokan mereka lalui hingga akhirnya sampai pada titik yang Mayang maksudkan. Benar saja, meski saat itu begitu terik, cuaca tiba-tiba teduh layaknya sore hari. Tak lama kemudian kabut turun yang kian lama, kian tebal saja. Saat itulah ustad Fahri meminta Bayu untuk menghentikan laju mobil.


"Baik pak ustad," jawab Bayu seraya menginjak pedal rem.


"Tunggu di sini, saya akan turun sebentar!" pinta ustad Fahri sembari mengambil bungkusan berisi keris kecil yang tadinya tertanam di dalam kening Mayang.


Ustad Fahri lantas turun selama kurang lebih sepuluh menit lalu masuk kembali ke dalam mobil. Selama itu pula, jantung Bayu dan Mayang berdegup dengan sangat kencang. Terutama Mayang yang khawatir kalau tiba-tiba, ki Ageng akan datang menemuinya.


"Alhamdulillah sudah selesai, ayo kita kembali!" ucap ustad Fahri ketika itu.


"Baik pak Ustad."


Bayu memutar kemudinya lalu melaju ke arah yang berlawanan hingga melewati area berkabut dan kembali lagi ke dimensi manusia yang sedang panas terik. Barulah Bayu dan Mayang dapat merasa lega.


"Alhamdulillah," gumam Mayang pelan.


Perjalanan dilanjutkan hingga sampai ke rumah ustad Fahri. Di sana, Bayu dan Mayang diminta untuk beristirahat barang sejenak. Ustad Fahri juga meminta istrinya untuk menyajikan makanan untuk para tamu. Bayu dan Mayang pun menerima jamuan baik dari ustad Fahri sembari memperbincangkan lagi tentang semua hal yang hari itu dan kemarin, telah mereka alami. Sekitar pukul dua siang, Bayu dan Mayang pamit dan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas semua bantuan yang telah ustad Fahri berikan. Bayu dan Mayang lantas kembali ke kontrakan.

__ADS_1


Kedatangan keduanya disambut oleh mbak Yanti yang memang sedari kemarin menanti. Namun, melihat senyum di wajah Mayang, seketika membuat mbak Yanti turut tersenyum juga. Terlebih ketika Mayang menceritakan kalau semuanya telah berakhir. Hanya saja, ia harus membereskan semua harta milik orang tuanya yang didapat dari perjanjian ghaib. Mengenai hal itu juga, Mayang menyampaikan kalau cepat atau lambat, ia tidak bisa mempekerjakan mbak Yanti lagi. Tentu saja karena Mayang akan melepas semua hartanya. Dia akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Mbak Yanti sangat memahami keadaan Mayang. Namun, ia merasa cukup berat jika meninggalkan Mayang seorang diri. Terlebih, Mayang sama sekali belum pernah hidup sendiri. Semenjak kecil, semua hal terpenuhi. Hidup pun juga sangat nyaman. Dalam dilema, Bayu memberikan sebuah usulan.


"Bagaimana kalau mbak Yanti tetap tinggal di kontrakan bersama dengan Mayang tapi bukan sebagai asisten rumah tangga lagu melainkan teman yang berbagi kontrakan. Kalian bisa menabung bersama untuk membayar sewa kontrakan berikutnya. Mayang bekerja, mbak Yanti juga mencari pekerjaan baru di luar."


Mayang terlihat senang dengan saran dari kekasihnya. Namun, mbak Yanti merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa mbak Yanti. Lagi pula, saya juga harus belajar mandiri. Cepat atau lambat, saya akan menikah dan akan bertanggung jawab untuk segala urusan rumah serta mengelola keuangan. Saya akan bekerja dan mengelola gaji saya sembari belajar bebenah rumah dan memasak. Tidak perlu merasa tidak enak."


Mendengar ucapan Mayang membuat mbak Yanti menitikan air mata. Dia merasa tak tega melihat anak majikannya menderita. Dari hidup bergelimang harta hingga pas-pasan. Hidup dengan segala fasilitas yang nyaman kini harus terbiasa dengan ala kadarnya.


Mbak Yanti lantas mengusap air matanya lalu mengangguk. Ia bersedia untuk tetap tinggal sembari mendoakan agar rezeki Mayang dilancarkan dan kehidupannya dapat lebih baik lagi. Bayu dan Mayang mengamini doa mbak Yanti.


...🌟🌟🌟...


Beberapa hari kemudian, Mayang berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan. Begitu pun dengan mbak Yanti. Ia menjadi asisten rumah tangga di rumah salah seorang tetangga. Kehidupan mulai membaik ketika sebuah kabar tak mengenakkan diketahui Mayang. Suatu sore, tanpa sengaja Mayang melihat sebuah budhenya beserta omnya mengobrol dengan dua orang di halaman rumah orang tuanya. Rumah yang telah beberapa waktu, Mayang tinggalkan. Merasa penasaran, Mayang pun menghampiri mereka dan betapa terkejutnya Mayang ketika mengetahui kalau dua orang tadi adalah calon pembeli yang sengaja diundang oleh budhe dan juga omnya. Tanpa sepengetahuan dirinya dan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

__ADS_1


"Apa maksud kalian?" tanya Mayang dengan mata membulat.


"Sudah-sudah, jangan berisik! masih ada orang, tidak enak. Setelah mereka pergi, baru kita bicarakan!" bisik budhenya.


Mayang yang terlanjur naik pitam, harus menahan diri hingga dua orang tadi, pergi. Setelah itu, ia luapkan kekesalannya dengan mencerca dua saudara kandung ibunya.


"Begini ya, kamu kan bilang sendiri sama budhe kalau gak mau balik lagi ke rumah ini. Budhe sama om hanya membantu kamu saja," jelas budhenya.


"Tapi Mayang sama sekali tidak bilang mau jual. Kenapa budhe sama om gak ngomong apa-apa?"


"Mayang, orang tuamu itu gak kaya dengan sendirinya. Eyang dan akung selalu membantu dan kami ini, anak kandung eyang dan akung juga. Sudah sewajarnya kalau kami mendapatkan bagian. Kamu tenang saja, sekian persen dari penjualan, bisa disedekahkan ke masjid atas nama orang tuamu."


"Enggak, Mayang tidak setuju. Mayang sudah memiliki rencana lain untuk semua aset ayah dan ibuk."


"Memangnya apa rencanamu? mau cari penjual sendiri? atau kamu kelola sendiri? Mayang, kamu ini masih sangat muda. Belum mumpuni untuk mengelola aset sebanyak ini. Dari pada gak keurus, lebih baik dijual. Dibagi rata dan ada juga yang disedekahkan. Dengan begitu, uang yang terima, bisa kamu olah untuk apa pun yang kamu mau sesuai dengan minatmu. Katamu kan dulu sempat mau buka toko tuh, nah bisa kamu mulai setelah dapat hasil penjualan nanti!".


"Enggak! kalian lancang! Mayang yang paling berhak atas semua aset peninggalan ayah dan ibuk. Kalian sama sekali tidak berhak. Mayang tidak akan melepaskan hak Mayang ini!" bentak Mayang dengan napas yang mulai tidak teratur sebab sedang marah besar.

__ADS_1


Sementara itu, Budhe dan omnya hanya diam. Namun, tatapan diam mereka berdua seolah memberikan ancaman yang tegas meski tanpa berucap. Mayang menaiki motonya lalu melaju pergi, kembali ke rumah.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2