WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
BUJUKAN


__ADS_3

Mayang mulai merubah sikapnya. Kedua orang tuanya pun menyadarinya. Mayang yang dulu banyak bicara kini, lebih banyak diam. Ia akan berbicara hanya jika ditanya. Selebihnya ia habiskan waktu berada di kamar, mengerjakan tugas-tugas kuliah atau apa pun yang bisa ia kerjakan. Sepertinya, Mayang sedang mengekspresikan kekecewaan, kemarahan dan kesedihannya dengan bersikap dingin kepada kedua orang tuanya.


Hal ini berlangsung hingga lebih dari dua minggu hingga suatu ketika, sepulang dari kuliah, orang tuanya mengajak Mayang ke suatu tempat. Mayang sendiri hanya bertanya seperlunya. Ketika ibunya mengatakan kalau itu adalah kejutan, ia pun diam. Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka sampai ke sebuah bangunan yang berada di tepi jalan raya ramai.


"Bangunan ini kosong buk, kita mau menemui siapa?"


Ayah dan ibu Mayang tersenyum lalu- mengatakan kalau bangunan itu adalah milik Mayang.


"Ini toserba milikmu May. Kami sudah mempersiapkannya diam-diam. Semua telah selesai dibangun. Seluruh administrasi legalitas kepemilikan pun, sudah kami urus menjadi namamu. Kami juga sudah berdiskusi untuk mengizinkanmu mulai membuka bisnis meski belum meraih S1," jelas ibunya.


"Ini sungguhan?"


"Tentu saja sungguhan."


Mayang melompat kegirangan, tak dapat dipungkiri, ia merasa sangat senang. Ini adalah impiannya sejak lama. Sekarang, telah berdiri kokoh di depan matanya.


"Mulai hari ini, kamu sudah bisa kelola," sahut ayahnya.


Tak henti-hentinya senyum bahagia menghiasi wajah Mayang. Rasa senang yang sungguh tak bisa ia jabarkan.


"Ayo masuk, kita lihat-lihat dalamnya!"


"Iya buk."


Sesuai yang diimpikan Mayang. Bangunan itu terdiri dari tiga lantai. Lengkap dengan meja dan mesin kasir di setiap lantainya. Ada ruang istirahat untuk pegawai dan juga gudang tempat menyimpan stok dagangan.


"Seratus juta untuk modal awal belanja dagangan cukup gak?" celetuk ayahnya.


"Mana cukup yah, kasihlah tiga ratus juga. Biar Mayang yang kelola. Kalau pun lebih juga gak masalah," sahut ibunya.


"Oke deh, ayah transfer ke rekening Mayang sekarang ya?"


"Iya gih, seneng tuh si Mayang," ledek ibunya.


Mayang amat senang, dalam otaknya telah memikirkan hendak membuka lowongan pekerjaan sembari mulai membuat list barang dagangan yang akan ia jual.


"Untuk pembukaan awal, kasir cukup tiga untuk ditempatkan di masing-masing lantai. Kalau sudah semakin ramai, bisa ditambah," saran ayahnya.


"Iya yah."


"Untuk pelayan tokonya sih, berapa ya buk enaknya?"


"Emm, masing-masing satu orang dulu juga saja yah sambil lihat perkembangannya."


"Nah, boleh tuh saran ibuk."


Mayang menganggukkan kepala, oke deh yah, buk, Mayang akan mencari enam pegawai. Eh, perlu satpam juga kan ya?"


"Perlu tuh, untuk memeriksa pembeli saat mau keluar dari toko. Cocok gak barang yang dibawa dengan struk pembeliannya? takutnya yang dibawa lebih alias nyolong sebagian."


"Iya yah, jadi butuh tujuh tenaga kerja ya?"

__ADS_1


"Iya."


Mayang kembali tersenyum tanpa ia sadari jika ini adalah bujukan halus dari orang tuanya agar Mayang, tidak lagi menolak perjanjian dengan bangsa jin.


...🌟🌟🌟...


Beberapa hari setelahnya, Mayang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pembukaan toko miliknya. Untuk pemberian nama tokonya, ia mengalami sedikit kesulitan. Bimbang dalam memutuskan, napa apa yang sekiranya tepat dan dapat menarik minat.


"Hei, tumben sibuk, biasanya juga gak pernah mikir," ledek Bayu sembari duduk di samping Mayang.


"Bay, aku mau buka toko. Orang tuaku sudah nyiapin toko buat aku. Tinggal aku jalanin aja ini."


"Bukannya disuruh nunggu sampai dapat gelar S1 dulu?"


"Awalnya gitu tapi ternyata, mereka sudah nyiapin semuanya diam-diam. Toko sudah dibangun dan surat legalitasnya pun sudah jadi namaku."


"Hemm.. enak bener ya anak sultan."


"Jangan sirik!" ledek Mayang disusul tawa cekikikan.


"Tapi Bay, aku bingung bikin namanya sekarang. Enaknya dikasih nama apa ya?'


"Emm... Toko Bayu saja."


"Enak aja, kok jadi pakai namamu."


"Namaku membawa berkah tahu? lihat aku! jenius dan juga tampan."


Bayu tertawa terbahak-bahak.


"Apa ya nama yang pas?"


Mayang memutar-mutar penanya di pelipis mata.


"Bay, gak ada teman atau saudaramu yang lagi cari kerja?"


"Siapa ya?"


"Aku butuh tiga kasir, tiga pelayan toko sama satu satpam."


"Langsung sebanyak itu karyawan kamu?"


"Iya karena ada tiga lantai jadikan butuh satu kasir dan satu pelayang toko di masing-masing lantainya."


"Aku boleh gak kerja paruh waktu di sana?"


"Gak boleh! kamu sih fokus kuliah saja dulu!"


"Galak amat!"


"Biarin."

__ADS_1


"Duit orang tuamu gak ada habisnya ya? bikin toko tuh udah habis berapa duit coba? belum beli lahannya, belum modal untuk dagangannya...."


Mendengar ucapan Bayu, Mayang seolah tersadar akan sesuatu.


...Nyuttt.....


Dadanya berdenyut.


"Eh May, kok malah bengong sih?"


"Hah? lagi mikirin barang dagangan nih," kilah Mayang.


"Hemm... iya-iya yang bakalan jadi bos besar."


"Iya dong."


Keduanya pun tertawa bersama.


...🌟🌟🌟...


Tampaknya, Mayang memikirkan ucapan Bayu dengan serius. Terlihat dari kebimbangan raut wajah Mayang yang kini, hanya duduk diam di dalam bangunan yang rencananya akan dijadikan toko. Sesekali memalingkan pandangan ke setiap sudut ruangan lalu menghela napas nan panjang.


"Sungguh sayang sekali jika dilepaskan tapi ini, berasal dari uang yang tidak benar," desah Mayang.


Ya, kini ia sadar jika semua gemerlap yang ia terima adalah hasil dari kerjasama orang tuanya dengan jin. Hal yang sangat dilaknat oleh Alloh. Namun, sebagai manusia, Mayang pun merasa berat untuk melepaskannya.


"Antara impian dan kebenaran, kenapa aku harus berada di persimpangan?"


Mayang terduduk di lantai seraya memeluk lututnya. Saat itulah ia mendengar suara ketukan. Mayang melongokkan kepalanya, mencuri lihat siapakah yang datang? sebab, bangunan ini belum difungsikan, sedikit aneh jika sudah ada tamu yang datang. Suara ketukan kembali terdengar. Namun, karena dari posisinya tak dapat melihat ke luar dengan jelas, ia pun bangkit untuk berjalan ke depan. Saat itulah, ia melihat sosok yang sangat ia kenal.


"Eyang.." benak Mayang dengan tubuh membeku.


Mayang ingin berlari tapi tubuhnya kaku, sama sekali tidak dapat digerakkan. Sementara eyang Ratmi, berjalan perlahan menembus pintu kaca toko, mendekat ke arah Mayang.


"Ini beneran eyang? eyang kan sudah meninggal," benak Mayang.


Eyang Ratmi tak mengucapkan apa-apa kecuali menatap Mayang dengan raut wajah sedihnya membuat Mayang kebingungan.


"Eyang kenapa? ini beneran eyang atau bukan?"


Beragam pertanyaan bermunculan yang hanya bisa ia gaungkan di dalam hati.


"Ada apa ini? kenapa badanku tidak bisa digerakkan? eyang..."


Sekitar sepuluh menit kemudian, sosok eyang Ratmi berjalan kembali ke luar dan kemudian menghilang. Barulah kemudian, tubuh Mayang dapat digerakkan.


"Hah! bisa bergerak, apa yang terjadi barusan?"


Mayang meraba tubuhnya yang sudah bisa digerakkan meski pun masih terasa lemas.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...

__ADS_1


__ADS_2