WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
TAMU YANG SAMA


__ADS_3

"Mak Rum, maaf! mak Rum pulang kampung kapan?"


"Besok non."


Mayang hanya bisa diam sembari membantu apa yang ia bisa.


"Mak Rum, maafin Mayang ya kalau selama ini banyak bikin masalah, membuat mak Rum kesel dan marah!"


"Iya non tapi mak Rum sama sekali tidak pernah marah ke non Mayang."


"Mak Rum baik-baik ya di kampung! sering-sering kirim kabar!"


"Iya non. Maafkan mak Rum juga ya kalau mak Rum ada khilaf baik disengaja atau tidak!"


"Enggak ada mak Rum, mak Rum selalu baik."


"Mak Rum jadi pergi?" tanya mbak Yanti sembari berjalan masuk ke dalam kamar.


"Jadi Yan."


"Yanti sendirian dong mak di sini."


"Kamu gak sendirian Yan. Masih ada nyonya, tua dan non Mayang. Gantian kamu yang jagain mereka."


Suasana haru pun tercipta. Baik Mayang, mak Rum maupun mbak Yanti, menitikan air mata.


...🌟🌟🌟...


Jam demi jam berlalu dan kini, malam telah menyapa. Kedua orang tua Mayang telah terlelap. Begitu pun dengan Mayang, Mak Rum dan juga mbak Yanti. Namun, tidur Mayang terganggu oleh ketukan pintu dan juga salam dari seseorang.


"Tok.. Tok.. Tok..Assalamualaikum!"


"Emm.. ada tamu?"


Mayang bangun dari tidurnya seraya berjalan keluar. Hendak cepat-cepat menghampiri tamu sebab khawatir kalau menganggu istirahat ibunya.


"Assalamualaikum!"


Ternyata, mak Rum juga bangun. Namun, mak Rum melarang Mayang untuk membukakan pintu.


"Kenapa mak?"


"Jangan non, biarkan saja!"


"Kenapa? memangnya itu siapa? apa.. maling ya?"

__ADS_1


"Bukan maling non, mana ada maling yang ngetuk pintu dan ngucapin salam?"


"Lalu siapa?"


"Sudah biarkan! jangan dijawab dan jangan dipersilakan untuk masuk juga!"


..."Deg.."...


Ucapan mak Rum memunculkan tanda tanya serta rasa ngeri yang menyertainya.


"Tok..Tok.. Tok.. assalamualaikum!"


Mayang hanya bisa menelan ludah dan saling berpandangan dengan mak Rum yang juga sama tegangnya seperti dirinya.


"Tok..Tok..Tok.."


"Assalamualaikum!"


"Mak.."


"Biarin non!"


Mayang kembali diam ketika tiba-tiba, pintu rumah terbuka lebar.


..."Braakkk"...


Beberapa saat kemudian, kedua orang tersebut, berjalan kembali ke luar dengan tubuh ibunya yang melayang mengikuti keduanya. Mayang hanya bisa membulat melihat penampakan tersebut. Mak Rum pun juga sama. Keduanya tidak bisa berbuat apa-apa. Di luar, kedua orang itu kembali hilang dari pandangan. Barulah beberapa detik kemudian, tubuh Mayang dan mak Rum lemas dan jatuh ke lantai rumah. Rasanya, seluruh tenaga menghilang. Butuh lima hingga tujuh menit untuk tenaga dalam tubuh kembali. Setelah itu, Mayang lekas bergegas menuju kamar orang tuanya dengan tujuan memberi tahu ayahnya kalau ibunya telah dibawa pergi oleh dua sosok tamu yang ia ceritakan. Anehnya, ayah Mayang sama sekali tak terlihat terkejut. Ia hanya menoleh ke ranjang di mana istrinya masih tertidur di sana.


"Ibuk.. ibuk tidur, yang tadi siapa?"


Mayang berjalan masuk ke dalam kamar disusul ayahnya dan juga mak Rum. Mayang memeriksa kondisi ibunya dan lekas merasa lega kala melihat kalau ibunya, masih bernapas.


"Mayang takut yah! tadi tuh beneran mereka bawa ibuk. Mak Rum saksinya, badan Mayang dan badan mak Rum kaku, gak bisa digerakkan."


"Ibumu baik-baik saja!" jawab ayahnya.


"Ada apa sih pak? apa lagi yang kalian semua sedang sembunyikan?"


"Tidak ada yang kami sembunyikan."


"Jangan berbohong yah! itu tadi apa? dia juga datang kemarin. Ayah pasti tahu, ayah harus memberitahuku!"


"Ibumu sedang tidur, jangan membuat keributan! mak Rum, bawa Mayang kembali ke kamar!"


"Iya tuan."

__ADS_1


Mayang lekas berbalik arah lalu berjalan masuk ke dalam kamar.


"Non, mau mak Rum temani tidur?"


"Mak Rum jadi pulang kampung besok?"


"Jadi non, ini perintah nyonya."


"Sudah seperti ini pun, mak Rum tetap mau menutupinya?"


Mendengat pertanyaan Mayang, mak Rum lantas mengunci pintu kamar lalu duduk di samping Mayang.


"Non, mak Rum juga merasa sangat menyesal."


"Apa maksud mak Rum?"


"Seperti yang non Mayang tahu, saya telah mengikuti keluarga ini sejak lama. Bahkan, sejak eyang Ratmi masih muda."


"Iya."


"Suatu kali, mak Rum melihat eyang Ratmi dan suaminya berbincang serius dengan sosok yang tidak terlihat. Mak Rum diam saja sampai suatu ketika, mak Rum melihat sosok-sosok lain di rumah mereka. Ada banyak dan ada di mana-mana. Wujudnya seperti manusia pada umumnya tapi mak Rum, bisa membedakan mereka dengan sangat jelas. Tentu saja saat itu mak Rum merasa sangat ketakutan. Melihat hal itu, eyang Ratmi meminta mak Rum untuk tetap berada di kamar hingga adzan subuh berkumandang. Mak Rum lakukan karena di luar kamar, ada banyak sekali sosok yang seharusnya tidak ada."


Mayang memperbaiki posisi duduknya untuk kembali mendengarkan mak Rum bercerita.


"Keesokan paginya, eyang Ratmi mengatakan kalau apa yang mak Rum lihat semalam adalah teman-temannya. Eyang Ratmi juga meminta maaf karena telah membuat saya ketakutan. Eyang Ratmi pikir kalau saya tidak akan bisa melihat mereka yang ternyata malah sebaliknya. Eyang Ratmi mengatakan kalau semalam, ia sedang melakukan perjamuan. Perbincangan panjang lebar itu hanya untuk menjelaskan hal itu dan meminta saya untuk tidak perlu merasa takut lagi sebab, eyang Ratmi menjamin kalau mereka semua, tidak akan ada yang mengganggu saya. Saya menjadi lega meski pun dalam benak saya, sudah muncul sebuah dugaan. Dugaan yang kian diperkuat dengan kabar meninggalnya salah seorang tukang yang sedang mengerjakan rumah kontrakan milik eyang Ratmi."


"Maksud mak Rum, eyang menumbalkan tukang itu?"


Mak Rum sedikit terkejut lalu mengangguk.


"Dari respon yang non Mayang berikan, sepertinya non Mayang sudah tahu. Apakah non Mayang yang menjadi penerusnya?"


Sekarang, ganti Mayang yang terhenyak.


"Iya mak, saya penerusnya tapi sebenarnya, saya tidak mau."


"Hemmm... ini sulit. Meski pun menolak pun, tidak bisa lepas. Kesepakatan telah lama dibuat."


Mayang menatap nanar, meratapi nasibnya.


"Saya juga tahu, kalau nyonya (bu Endah) menumbalkan janin-janin di perutnya."


..."Deg.."...


"Astaga! jadi ibuk memang dengan sengaja mengorbankan adik-adikku."

__ADS_1


Mak Rum mengangguk sembari mengusap pelan lengan Mayang.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2