WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
SEDHO


__ADS_3

"Lalu kenapa ibu meminta mak Rum untuk pensiun?" tanya Mayang, tepat pada sasaran.


"Itu karena, mereka (kaum jin) meminta tumbal manusia untuk ditukar dengan kesembuhan nyonya."


"Apa? dasar makhluk laknat!"


Mayang terbelalak lalu lekas mengumpat.


"Mereka meminta saya untuk dijadikan tumbal."


"Hah? gila! apa kata ibuku selanjutnya?"


"Saya sangat berterima kasih karena nyonya menolak. Nyonya merasa kasihan kepada saya dan meminta saya untuk pulang. Saya dipensiunkan lalu diminta untuk pulang ke kampung halaman."


Tubuh Mayang seketika lemas.


"Kalau mak Rum diminta pulang lalu.. siapa yang akan menggantikan?"


Mendengar pertanyaan Mayang, mak Rum lantas menangis.


"Ibuk ya? ibuk menyerahkan dirinya sendiri?"


Mak Rum menangis kian kencang.


"Saya tidak tahu non tapi sejujurnya, saya lun berpikir demikian. Setelah apa yang kita lihat tadi, biarlah saya tetap di sini asalkan nyonya bisa sehat kembali."


Kini, Mayang yang menangis. Dia bingung, benar-benar bingung. Bagaimana pun, mak Rum sama sekali tidak bersalah. Namun, ia juga tak ingi kehilangan ibu. Malam itu, adalah malam yang cukup berat untuk semuanya. Mayang pun tetap terjaga hingga kurang lebih pukul tiga pagi. Ia baru bisa terlelap sekitar tiga puluh menit kemudian.


...🌟🌟🌟...


Sekitar pukul lima pagi, Mayang terbangun oleh suara tangisan yang tak lain adalah tangis dari mak Rum.


"Ada apa mak?"


"Nyonya non."


Mayang terjingkat seraya berlari menuju kamar ibunya. Benar saja, ibunya telah meninggal. Mayang menangis sejadi-jadinya. Menyesali banyak hal, menyesal karena tertidur dan tak tahu ketika ibunya meninggal.


...🌟🌟🌟...


Para tetangga beserta sanak saudara berdatangan. Mayang hanya terduduk di depan jasad ibunya. Tatapannya kosong dengan air mata yang terus berlinang. Usai disolati, jenazah bu Endah digotong ke area pemakaman. Saat itulah Bayu datang tapi segan untuk mendekat sebab, Mayang tengah dikerumuni keluarga dan sanak saudaranya. Bayu putuskan untuk menghampiri Mayang usai jenazah dimakamkan. Melihat Bayu berdiri di teras, Mayang lekas menghampirinya lalu memeluknya dan kemudian menangis sejadi-jadinya.


"Nangis aja May, gak apa-apa!" ucap Mayang sembari mendudukkannya.


"Bay.."


"Iya."


Mayang tidak mampu melanjutkan ucapannya dan hanya menangis yang ia lakukan.


"Oke, nangis aja sepuasnya!" ucap Bayu sembari menepuk pundak Mayang.


...🌟🌟🌟...

__ADS_1


Ketika Bayu hendak berpamitan, ayah Mayang memanggil Bayu dan menanyainya.


"Apa kamu pacarnya Mayang?"


"Bukan om, kami hanya berteman."


"Oh, terima kasih sudah menjadi teman yang baik untuk anak saya! dia, akan membutuhkan dorongan mental untuk beberapa waktu ke depan."


"Tenang saja om, saya akan dengan senang hati menemani Mayang!"


Ayah Mayang menganggukkan kepala.


"Terima kasih sudah datang!"


"Iya om sama-sama. Saya pamit dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


...🌟🌟🌟...


Hari-hari berikutnya, hanya ada kesedihan yang menyelimuti. Selama tujuh hari tahlil, Bayu selalu datang. Turut mendoakan almarhumah sekaligus menguatkan Mayang. Kedatangan Bayu sungguh sangat berarti. Meski Mayang tetap tidak bisa menceritakan yang sebenarnya. Namun, ia dapat membagi kesedihan dengan temannya itu. Sementara mak Rum, dilema hendak pulang kampung atau tetap berada di sana. Terlebih, saat ini masih berkabung.


"Mak Rum.."


"Iya non?"


"Kapan mak Rum akan pulang kampung?"


Mendengar pertanyaan Mayang, mak Rum menghentikan aktifitasnya lalu turut duduk di kursi yang ada di teras.


"Apa mak Rum ingin tetap tinggal?"


"Sejujurnya iya, mak Rum mengkhawatirkan semua orang. Terutama non Mayang yang masih terpukul dengan kepergian nyonya."


"Jangan! ini pesan mendiang ibuk. Ibuk ingin mak Rum pulang. Ini wasiat ibuk mak, sebaiknya mak Rum turuti!"


"Kalau mak Rum pulang, bagaimana dengan non Mayang?"


"Aku pasti bisa melewatinya mak. Berat memang tapi semua hal pasti akan berlalu. Lagi pula, masih ada ayah dan mbak Yanti di sini. Kata ayah, ayah akan merekrut juru masak baru setelah mak Rum pulang. Rumah ini akan ramai lagi meski pun ibuk.."


Mayang tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia kembali menangis kala mengingat ibunya yang telah tiada. Mak Rum lantas memeluk Mayang agar Mayang bisa tenang.


...🌟🌟🌟...


Beberapa hari berikutnya, mak Rum berpamitan. Mak Rum tidak tega tapi seperti yang Mayang katakan, itu adalah permintaan terakhir dari mendiang ibunya. Mak Rum pun memenuhi permintaan itu sebagai bakti terakhirnya kepada keluarga yang telah menghidupinya selama puluhan tahun. Isak tangis tak terelakan pada momen perpisahan tersebut. Mayang dan mbak Yanti mengantarkan mak Rum di stasiun. Menemaninya hingga kereta tiba dan mengantarkan mak Rum hingga kereta berangkat. Sungguh tak dapat dijelaskan rasa sedih yang Mayang dan mbak Yanti rasakan.


"Kamu sendiri May, dua orang telah pergi. Tidak, masih ada ayah dan mbak Yanti tapi di dalam hatiku, ada lubang menganga yang tidak bisa ditutup rapat lagi," ucap Mayang pada dirinya sendiri.


...🌟🌟🌟...


Hari-hari berikutnya, Bayu berusaha keras membangun kembali semangat Mayang. Setiap hari menjemputnya untuk berangkat kuliah bersama. Mengajaknya makan demi memastikan kalau Mayang, makan dengan teratur. Menghiburnya dan menemaninya belajar.


"Hidup terus berjalan May! masih ada banyak hal yang harus kamu raih, kamu harus kuat!"

__ADS_1


Mayang hanya mengangguk mendengar nasihat dari Bayu.


...🌟🌟🌟...


"Nah, sudah sampai kita. Mau aku temani dulu atau kamu, mau langsung istirahat?" tanya Bayu ketika keduanya telah sampai di rumah Mayang.


"Emm.. aku mau langsung istirahat saja!"


"Oke kalau begitu, aku balik ya!"


"Iya Bay."


"Senyum dulu dong!"


Mayang lantas tersenyum.


"Gitu dong, ceria lagi ya seperti Mayang yang dulu!"


Mayang mengangguk.


"Ya sudah, aku balik! assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


"Besok pagi, aku jemput jam setengah delapan."


"Iya Bay."


"Oke balik dulu ya!"


"Iya."


Usai Bayu melenggang dengan motornya, Mayang masuk ke dalam rumah.


...🌟🌟🌟...


Hari-hari Mayang terasa begitu sepi. Jika berada di rumah, Mayang lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Sementara ayahnya, memilih untuk mengusir sepi dengan bekerja. Ayahnya akan pulang di atas jam sepuluh malam. Keesokan harinya, akan berangkat bekerja pukul enam. Ini berlanjut di hari-hari berikutnya juga. Ayahnya pernah mengatakan kalau ia sedang membangun komplek perumahan dan akan berada di lokasi proyek seharian. Mayang hanya mengiyakan tanpa banyak bertanya.


Ayahnya memang benar berada di sana sebab, Mayang pernah mengajak Bayu untuk memeriksa. Mayang tahu kalau ayahnya pun merasakan kehilangan nan mendalam. Bekerja adalah cara untuk mengalihkan kesedihan. Mayang pun berusaha melakukan hal yang sama dengan semakin giat kuliah. Sayangnya, konsentrasinya seringkali buyar. Mungkin, laki-laki dan perempuan memang berbeda. Jika ayahnya bisa, dia tidak bisa. Beruntung ada Bayu yang selalu menemaninya. Mungkin, Mayang bisa mengalami gangguan mental jika tak ada Bayu di sisinya.


[ Sudah tidur May? ] - Bayu mengirimkan sebuah pesan singkat.


[ Belum Bay, ada apa? ] - balas Mayang.


[ Loh kok belum, katanya mau langsung istirahat? ]


[ Iya, ini mau tidur kok. ]


[ Tidur beneran loh ya! besok aku jemput jam delapan! ]


[ Iya. ]


Mayang meletakkan ponselnya di nakas lalu memejamkan mata.

__ADS_1


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2