![WARIS [ END ]](https://asset.asean.biz.id/waris---end--.webp)
Hari demi hari berganti bulan. Bulan demi bulan berganti tahun. Namun, suasana di rumah tak lagi ceria. Kepergian bu Endah, turut membawa kebahagiaan. Rumah hanyalah tempat singgah. Mayang lebih banyak menghabiskan waktunya di kampus atau di mana pun dan hanya akan pulang ketika sudah pukul sepuluh malam. Tak jauh berbeda dengan ayahnya. Rumah itu, lebih banyak ditinggali oleh asisten rumah tangga. Posisi mak Rum, telah diisi oleh orang lain. Buk Inah, itulah namanya. Dia masih tetangga dan tidak menginap di sana. Tugasnya dimulai pukul lima pagi hingga pukul enam malam. Selanjutnya, ia akan pulang ke rumah dan meninggalkan mbak Yanti, sendirian.
Mbak Yanti sendiri seolah telah terbiasa dengan apa yang terjadi. Beberapa gangguan pernah ia alami. Mulai dari suara orang cekikikan dan juga menangis. Hanya awal-awal saja, ia merasa ketakutan, selebihnya terkesan biasa. Mbak Yanti tetap betah bekerja di sana meski mendapat beberapa gangguan sebab, gaji yang diberikan jauh lebih besar dari gaji asisten rumah tangga pada umumnya.
Sosok Kantil pun mulai jarang menampakkan diri atau pun membisikkan sesuatu kepada Mayang. Terakhir kali, ia mengatakan kalau sampai kapan pun, Mayang tidak akan bisa lepas. Meski pun Mayang terus menolak tapi perjanjian tak dapat dihentikan hanya dengan penolakan. Setelah itu, sosok Kantil seolah menghilang. Mayang tahu kalau sosok itu tetap ada, hanya saja sudah tak pernah muncul di hadapannya. Semacam menunggu waktu hingga akhirnya, Mayang pun harus melakukan pengorbanan seperti yang orang tuanya lakukan. Belum, masih ada ayahnya. Mungkin, setelah ayahnya pergi, ia harus melakukan hal serupa. Mayang menggelengkan kepala guna menghilangkan segala pemikiran yang mengganggu konsentrasinya.
Mayang tengah disibukkan dengan agenda penulisan skripsi ketika mbak Yanti menyuguhkan sepiring pisang goreng untuk menemani begadangnya. Mayang mengucapkan terima kasih sembari mengajak mbak Yanti berbincang. Entah kapan terakhir kali mereka mengobrol ringan seperti ini?
"Mbak Yanti sudah makan malam?" tanya Mayang.
"Sudah non."
"Di sini dulu ya, temani saya!"
"Iya non."
"Makan saja camilannya kalau mau, saya juga gak bakalan habis sendiri!"
"Iya, ohya non.. tadi pagi saya dengar kabar dari pak Danang kalau salah satu tukang di perumahan tuan, meninggal."
"Hemm.. siapa?"
"Namanya lupa saya, pokoknya meninggalnya mendadak gitu, mungkin kena angin duduk."
"Ayah sudah takziah?"
"Sepertinya sudah non karena kata pak Dadang, tuang ngasih santunan juga ke keluarga yang ditinggalkan."
Mayang manggut-manggut tapi di dalam hatinya, ia pahami bahwa itu adalah salah satu korban yang ayahnya tumbalkan. Jika dulu, ayah dan ibunya menumbalkan janin dalam kandungan kini, harus mengambil nyawa orang lain. Jika memikirkan hal itu, Mayang murka tapi tak bisa berbuat apa-apa. Hubungannya dengan ayahnya pun kian renggang. Toko yang dulu diperuntukkan untuk Mayang, dia sewakan dan selalu laku meski dengan harga yang lebih tinggi dari bangunan yang lain. Uang tidak pernah kekurangan tapi kehangatan dalam keluarga, telah menghilang.
...🌟🌟🌟...
Beberapa hari kemudian, mbak Yanti menelpon Mayang yang masih berada di kampus. Mbak Yanti mengabarkan kalau ayahnya linglung di jalan dan kini, diantarkan tetangga pulang ke rumah. Mendengar hal itu, Mayang lekas bergegas untuk pulang. Di sepanjang perjalanan, banyak pertanyaan yang bermunculan. Bagaimana pun, ayahnya berada dalam kondisi yang prima. Tidak sakit sama sekali tapi kenapa, tiba-tiba linglung di jalan?
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Mayang memeriksa kondisi ayahnya. Saat itu, ayahnya hanya menatap Mayang dengan tatapan yang kosong. Beberapa kali diajak berbicara, tidak merespon. Butuh waktu yang lama hingga akhirnya, ayah Mayang dapat mengenali putrinya.
"Mayang.." ucap ayahnya.
"Iya yah, ayah ingat Mayang?"
Ayahnya menganggukkan kepala.
"Ada apa yah, kenapa ayah bisa tiba-tiba linglung di jalan?"
"Ayah linglung? kapan?"
Mayang terdiam dan mulai mengalihkan pembicaraan.
"Bukan apa-apa yah, yang terpenting ayah baik-baik saja sekarang. Ayah lapar? mau Mayang ambilin makan?"
"Boleh, pakai daging asap ya May!"
"Hah? daging asap?"
"Mayang gak bisa bikinnya yah dan itu kan butuh proses lama."
"Ya sudah disate saja!"
"Mayang belikan sate di penjual sate saja ya yah!"
"Iya-iya, boleh."
"Tunggu ya!"
"Iya."
Mayang keluar kamar, bersiap untuk membelikan sate untuk ayahnya. Namun, sebel berangkat, Mayang berpesan kepada mbak Yanti dan buk Inah untuk mengawasi dan menjaga ayahnya sebab, kondisi ayahnya terlihat aneh sekarang. Permintaan daging asap pun tidak pernah ia dengar di sepanjang usianya. Setahu Mayang, ayahnya tidak menyukai daging asap.
__ADS_1
...🌟🌟🌟...
Setelah mendapatkan pesanan ayahnya, Mayang bergegas pulang. Mengambil nasi di piring dan meletakkan sepuluh tusuk sate untuk ayahnya. Keanehan kembali terulang, ayahnya tak lagi mengenali dirinya. Meski demikian, Mayang tetap membujuk ayahnya untuk makan. Sesuap, dua suap hingga kemudian, piring direbut oleh ayahnya dan beliau pun makan sendiri. Langsung menggunakan tangan dan cara makannya sangat berantakan. Lebih berantakan dibandingkan anak kecil yang masih belajar untuk makan. Mbak Yanti, Mayang dan buk Inah hanya bisa diam melihat pak Danu (ayah Mayang) makan sembari sesekali meminta agar pak Danu, makan dengan perlahan.
"Non, tuan terlihat aneh," ucap mbak Yanti setengah berbisik.
"Iya saya tahu, tolong mbak Yanti dan buk Inah untuk tidak menyebarluaskan perihal kondisi ayah ke orang-orang ya!"
"Iya non tenang saja. Kita tidak akan bicara macam-macam, iya kan buk Inah?"
"Iya, tidak akan non," jawab buk Inah.
Mayang menganggukkan kepala.
...🌟🌟🌟...
Keesokan harinya, Bayu datang dikarenakan Mayang yang melewatkan jadwal bimbingan padahal, dosen pembimbing mereka, cukup sulit untuk ditemui. Ternyata, Mayang memikirkan kondisi ayahnya. Ia tidak bisa mengerjakan skripsi dengan tenang selagi kondisi ayahnya belum kembali seperti semula. Bayu yang baru mengetahui hal itu lantas memikirkan sesuatu yang sepertinya, juga dipikirkan oleh Mayang.
"Aku takut Bay, kuatir, campur aduklah pokoknya," ucap Mayang dengan raut khawatirnya.
"Takut kenapa May?"
"Aku takut kalau ayah, cepat atau lambat akan menyusul ibuk."
Ternyata benar, apa yang Bayu pikirkan, sama dengan yang Mayang pikirkan. Bayu tak dapat banyak berkata-kata selain menyemangatinya dan mendorongnya untuk terus kuat. Termasuk juga segera menyelesaikan skripsi dan sidangnya. Mayang paham betul maksud dari nasihat yang Bayu berikan. Apa pun yang akan terjadi di depan, pasti berat untuk dilaluinya. Karnanya, Mayang harus terus melangkah, mempersiapkan diri untuk segala hal buruk yang mungkin saja terjadi.
"Kamu pasti bisa May, jangan patah semangat!" ucap Bayu.
"Iya."
Bayu menggenggam erat tangan Mayang sembari mengulas senyum ke arahnya.
"Semangat ya!"
__ADS_1
Mayang menganggukkan kepalanya.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...