![WARIS [ END ]](https://asset.asean.biz.id/waris---end--.webp)
Kejadian aneh terjadi pada keesokan harinya. Tiba-tiba, Mayang merasa tidak enak badan. Perutnya terasa mual hingga berkali-kali, ia muntah. Mbak Yanti sigap dengan segera membuatkan wedhang jahe hangat lalu memijit tengkuk Mayang. Namun, hanya sebentar Mayang membaik lalu kembali muntah-muntah. Obat masuk angin sudah diminum tapi tidak membuahkan hasil.
"Mau kerokan non?" tanya mbak Yanti, menawari.
"Boleh mbk, rasanya sudah lemas sekali ini, muntah terus dari tadi."
"Iya."
Anehnya, dikerok pun tidak merah. Sementara Mayang semakin lemas.
"Kalau seperti ini, kita ke dokter saja ya non? saya pesenin taksi ya?"
"Iya," jawab Mayang, lirih.
...🌟🌟🌟...
Di sepanjang perjalanan, berulang kali Mayang muntah hingga membuat sopir taksi, turut merasa iba. Sopir taksi itu pun membantu mbak Yanti memapah Mayang masuk ke ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) sebelum kemudian, meninggalkan lokasi. Seorang dokter menanyai Mayang lalu meminta perawat untuk menyuntikkan obat anti mual. Barulah setelah itu, Mayang dapat sedikit membaik. Hanya sedikit membaik dan tidak benar-benar hilang mualnya. Mayang kembali muntah pada lima belas menit berikutnya hingga akhirnya, dokter menanyakan sesuatu yang cukup membuat Mayang terhenyak.
"Apa mbak ini sedang hamil? sudah pernah dites urine?"
"Hah?"
Mayang terkejut, pun sama dengan mbak Yanti.
"Saya gak hamil dok dan saya, belum menikah."
"Emm.. mohon maaf! mau dilakukan pemeriksaan lengkap atau berobat jalan saja dulu?"
"Kondisi saya mengharuskan saya opname atau tidak?"
__ADS_1
"Kondisi mbak, tidak mengharuskan mbak untuk opname. Harusnya dua atau tiga hari sudah membaik."
"Kalau begitu, saya berobat jalan saja dok!"
"Baik, akan saya tuliskan resepnya dulu ya!"
"Iya dok."
...🌟🌟🌟...
Malam harinya, Bayu lekas menghampiri kekasihnya usai mendengar kabar kalau Mayang jatuh sakit. Meski Mayang telah mengonsumsi obat dari Rumah Sakit, mual dan muntahnya masih belum berkurang. Bayu pun mengusulkan agar Mayang melakukan pemeriksaan lanjutan. Mayang yang awalnya enggan, akhirnya setuju dengan mengatakan kalau besok, dia dan mbak Yanti akan kembali ke Rumah Sakit. Mayang juga meminta Bayu untuk tidak mengantarkannya sebab bagaimana pun, Bayu baru saja bekerja. Tidak akan baik jadinya jika ia, sering membolos tidak masuk.
"Kalau begitu, kamu kabarin aku terus ya! besok malam, aku bakalan jengukin kamu lagi!" ucap Bayu.
"Iya," jawab Mayang.
Bayu lantas meraih mangkok berisi bubur buatan mbak Yanti lalu menyuapi Mayang dengan perlahan.
...🌟🌟🌟...
...🌟🌟🌟...
Malam harinya, Mayang menceritakan semuanya kepada Bayu. Termasuk juga dengan dugaan yang mbak Yanti katakan. Mendengar hal itu, Bayu seketika mengajak Mayang untuk menemui ustad Fahri. Mayang yang saat itu kian lemah, lekas setuju. Alhasil, keduanya mengendarai mobil orang tua Mayang untuk mendatangi rumah ustad Fahri.
Ustad Fahri cukup terkejut melihat kondisi Mayang yang sedemikian lemahnya. Mayang yang sudah tidak kuat untuk duduk, direbahkan di atas sofa. Setelah itu, ustad Fahri memejamkan matanya sebentar untuk memeriksa. Barulah kemudian ia tahu, apa penyebab di balik sakitnya Mayang.
"Mbak Mayang, mbak ini tidak sedang mengalami sakit yang biasa. Ini adalah penyakit kiriman, ini teluh namanya," jelas ustad Fahri.
"Hah? siapa yang mengirimkan teluh kepada saya ustad?" tanya Mayang yang seolah tak percaya kalau ada orang yang telah tega berbuat sedemikian buruk padanya.
__ADS_1
Belum sempat ustad Fahri menjawab, Mayang kembali muntah dan yang ia muntahkan adalah cairan berwarna hitam. Muntah kali ini, diikuti perut yang sedikit membesar.
"Pak ustad, gimana ini? tolong Mayang!"
Bayu panik.
"Insha Alloh, saya bisa menolong tapi penyebab dari dikirimkannya teluh ini sedikit rumit. Saya khawatir kalau si pengirim tidak mau berhenti sebelum mbak Mayang... mengembuskan napas terakhir?"
"Apa? sekejam itu dia?"
Nada bicara Bayu sedikit meninggi. Merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan si pengirim teluh.
"Memangnya sa-lah saya a-pa pak ustad?" tanya Mayang dengan suara nan pelan.
"Mbak Mayang gak salah, mereka saja yang serakah."
Ucapan pak ustad seolah memberikan clue kepada Mayang untuk dapat menebaknya dan tebakan Mayang pun, benar. Budhe dan omnya yang telah mengirimkan teluh padanya. Mereka menginginkan harta benda peninggalan dari orang tua Mayang. Tega menghabisi nyawa keponakan demi mendapatkan hak waris dan bisa menguasai harta benda milik ayah dan ibu Mayang. Mayang menangis seketika, merasa sangat terluka karena dikhianati oleh saudara sendiri. Cukup lama Mayang menangis sembari meluapkan luka hati. Ustad Fahri membiarkannya sebab, dengan begitu, Mayang akan menjadi lebih tenang. Tekanan hidupnya akan sedikit berkurang. Setelah kondisi Mayang mulai tenang, barulah ustad Fahri memberikan saran.
"Mbak Mayang ingat pesan kyai Jafar bukan? kyai Jafar meminta mbak Mayang untuk melepaskan semua harta benda peninggalan orang tua mbak Mayang. Dengan kondisi yang terjadi saat ini, apa tidak lebih baik kalau mbak Mayang melepaskan semuanya? mbak Mayang fokus saja pada kehidupan mbak Mayang sendiri. Percaya pada sang pencipta alam semesta. Semua akan menjadi lebih baik setelah mbak Mayang melepaskannya."
"Maksud pak ustad, saya harus menyerahkan semua aset orang tua saya kepada mereka (budhe dan om Mayang)?"
"Begini, saya akan terlebih dahulu menyembuhkan mbak Mayang lalu, mbak Mayang bisa coba mengajak mereka untuk berbicara. Sampaikan perihal apa yang terjadi dan katakan kalau harta-harta itu akan mbak Mayang lenyapkan dengan cara menghibahkannya untuk masjid atau menjualnya untuk disedekahkan. Terlepas dari mereka bisa mengerti atau tidak, tugas mbak Mayang adalah menyampaikan. Jika saya tidak salah menebak, mereka adalah yang dikatakan sosok jin ketika mbak Mayang kerasukan. Mereka adalah pengikut baru yang meneruskan kedua orang tua mbak Mayang. Dengan mbak Mayang mengatakan semuanya kepada mereka, mbak Mayang telah memberikan peringatan baik sebagai saudara. Jika mereka tetap menolak dan tetap bersikukuh meminta harta kedua orang tua mbak Mayang maka.. saran saya, berikan! keselamatan mbak Mayang jauh lebih berharga! lagi pula, harta itu tidak diperoleh dari cara yang halal. Jika mereka tetap menginginkan harta semacam demikian maka biarkan! setelah itu, mbak Mayang tinggal fokus dengan lembaran baru kehidupan mbak Mayang. Pertebal iman mbak Mayang! Insha Alloh, Alloh akan meridhoi setiap langkah yang mbak Mayang lalui."
Mayang menarik napas dalam-dalam lalu menganggukkan kepalanya.
"Baik, kalau begitu saya akan mulai untuk menyembuhkan mbak Mayang terlebih dahulu!"
"Iya pak Ustad," jawab Mayang seraya kembali menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...