WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
PELEPASAN


__ADS_3

Pagi harinya, Mayang termenung di teras sembari memandang tanaman hijau yang dulu selalu dirawat oleh ibunya. Buk Inah menghampirinya seraya mengajaknya berbincang.


"Mas Bayu gak ke sini non?"


"Dia kerja buk Inah. Saya juga ingin kerja."


"Emm, bagus sih non tapi kan non Mayang bisa buka usaha saja. Jadi bosnya kan enak nok dari pada jadi pegawai orang lain."


"Usaha? dengan uang ayah dan ibuk?"


"Bukan maksud buk Inah nyuruh non Mayang menghamburkan uang tapi semua kan juga milik non Mayang sekarang. Tugas non Mayang mengelolanya. Banyak orang yang ingin buka usaha tapi terkendala modal. Mbak Mayang sudah ada modalnya tinggal bertindak saja."


Tak ada yang salah dari yang buk Inah ucapkan. Hanya saja, buk Inah tidak tahu tentang praktik kelam yang telah keluarga besar Mayang lakukan.


"Saya sudah malas buka usaha. Ingin mencoba suasana baru, kerja ikut orang."


"Em, gitu juga bagus non. Ketemu banyak orang, kian tambah pengalaman. Apa sudah ada pandangan ingin melamar ke mana?"


"Belum, nanti saya cari. Ohya buk, buk Inah ada kenalan orang pintar gak? semacam ustad atau kyai begitu?"


"Kok tumben tanya orang pintar, non Mayang mau bikin acara kirim doa atau bagaimana?"


"Bukan, pengen nenangin diri buk," kilah Mayang.


"Oh, cari guru spiritual."


"Iya."


"Emmm.. ada sih non, ada. Saya kenal satu orang."


"Siapa buk? rumahnya di mana?"


"Di desa sebelah non, ustad Fahri namanya. Rumahnya di sisi kiri pos ronda."


Mayang manggut-manggut seraya meraih ponselnya untuk mengabarkan informasi tersebut kepada Bayu.


"Mau saya anterin ke sana non?"


"Gak usah buk, saya ke sana sendiri nanti."


"Sendirian?"


"Sama Bayu maksudnya."


"Ciye.."


Mayang lantas tertawa kecil mendengar ledekan dari buk Inah.


...🌟🌟🌟...


Sekitar pukul tujuh malam, Mayang kembali mengirimi Bayu pesan singkat yang langsung dibalas dengan panggilan telepon dari kekasihnya.


"Hallo!"


"Iya hallo maaf ya! slow respon, maklum hari pertama aku kerja!"


"Iya aku ngerti kok."


"Ohya, tentang ustad yang kamu ceritain tadi, kapan mau ke sana?"

__ADS_1


"Besok malam gimana?"


"Boleh, besok kita ke sana sama-sama!"


"Iya."


"Udah solat maghrib apa belum?"


"Em, belum. Kamu juga tahu kalau aku gak pernah solat."


"Hemm.. coba dimulai deh!"


"Percuma, gak bisa khusuk juga."


"Gak masalah, semua ada prosesnya."


"Nanti deh atau besok."


"Iya gak apa-apa yang penting, sudah ada niat."


Mayang memanyunkan bibirnya, dalam hatinya masih terasa sangat malas untuk beribadah. Jangankan lima kali sehari, satu kali sehari saja, terasa berat.


...🌟🌟🌟...


Keesokan harinya, Bayu dan Mayang mencari rumah ustad Fahri. Berbekal informasi yang diterima dari buk Inah, mereka berhasil menemukannya. Beruntungnya lagi, ustad Fahri sedang ada di rumah. Seolah sudah tahu akan kedatangan tamu, ustad Fahri duduk di teras seperti sedang menunggu.


"Waalaikumsalam," ucap ustad Fahri, menjawab salam dari Bayu dan Mayang.


Keduanya pun dipersilakan untuk duduk di ruang tamu, tak lama setelahnya, istri ustad Fahri menyuguhkan minuman.


"Mbak ini, putrinya pak Danu ya?" tanya ustad Fahri yang lekas tahu sebelum diperkenalkan terlebih dahulu.


"Capek ya mbak? mbak Mayang diikutin terus sama sosok perempuan."


...Deg......


"Maksud pak ustad, sosok penunggu dari keris kecil di kening saya ya?" tanya Mayang to do point.


"Iya, harus dibuang!"


"Iya pak Ustad, tujuan kami kemari, salah satunya adalah itu."


"Untuk membuang sosok itu, mudah. Namun, untuk memutus perjanjian ghaib yang dilakukan oleh keluarga mbak Mayang, tidaklah mudah."


Mayang dan Bayu saling berpandangan.


"Pak Ustad tahu semua?" tanya Mayang, penuh penekanan.


"Kebetulan saya tahu, sudah lama saat saya jalan melewati rumah mbak Mayang. Ramai sekali hingga terasa sesak. Macam-macam makhluk, ada di sana. Hanya saja, tidak terlihat oleh mata telanjang manusia."


"Sejujurnya, baru-baru ini saya tahu kalau keluarga saya melakukan perjanjian ghaib tersebut. Bukan karena saya yang tidak peka tapi karena semuanya terlihat normal. Keluarga saya tidak pernah menyalakan menyan, menyiapkan sesajen atau pun ritual semacamnya. Jadi, saya sama sekali tidak pernah berpikir macam-macam."


"Em, iya tapi mainnya pakai tumbal ya?"


"Nah, itu yang membuat saya tidak habis pikir."


"Oke, yang terpenting adalah mbak Mayang tidak mau melanjutkan. Untuk selanjutnya, bisa dicari solusinya."


"Ustad Fahri bisa membantu saya?"

__ADS_1


"Kalau untuk melepaskan keris dan menyingkirkan sosok di dalam sana, insha alloh saya bisa tapi untuk memutuskan perjanjian ghaib keluarga mbak Mayang, kemampuan saya, masih kurang."


"Tidak apa-apa pak Ustad. Saya terbebas dulu dari sosok Kantil, sudah membuat saya lega. Selebihnya, saya akan terus berusaha menjari jalan keluar!"


"Saya punya guru sewaktu di pesantren dulu. Insha alloh bisa membantu memutus perjanjian ghaib tersebut."


"Baik pak ustad, mohon bantuannya ya pak!"


"Iya, sekarang kita keluarkan dulu keris dari kening mbak Mayang!"


"Iya pak ustad, saya harus bagaimana?"


"Duduk diam saja sambil berdoa di dalam hati ya!"


"Iya pak."


Ustad Fahri mulai merapalkan doa-doa sembari sesekali menekankan dua jarinya di kening Mayang. Terasa dingin yang perlahn berganti hangat. Kian hangat hingga kemudian, ustad Fahri menarik jarinya seraya menengadahkan telapak tangannya. Beberapa detik kemudian, keris kecil yang tadinya bersemayam di kening Mayang, muncul dalam telapak tangan ustad Fahri. Mayang menatap tak percaya tapi itu, nyata adanya. Ia lantas mengusap keningnya yang kini, sudah tidak hangat lagi.


"Keris ini, harus dikembalikan lagi," celetuk ustad Fahri.


"Bagaimana mengembalikannya?"


"Mbak Mayang tahu kan siapa yang memberikan?"


"Tahu pak ustad tapi, saya tidak tahu jalan ke sana. Ingatan saya terputus pada suatu titik karena muncul kabut yang sangat tebal, saat itu."


"Memang sengaja dibuat begitu. Itu adalah titik peralihan dari dimensi manusia ke dimensi jin."


"Emm..."


"Sebelum tertutup kabut, mbak Mayang masih ingat kan jalannya?"


"Ma-sih, saya kira masih."


"Bagus, nanti kita harus mengembalikannya ke sana!"


"Bertemu ki Ageng dan anaknya?"


"Tidak perlu ketemu, nanti saya yang atur prosesinya!"


"Baik pak Ustad, selanjutnya bagaimana?"


"Selanjutnya, mbak Mayang kapan bisa ikut menemui guru saya?"


"Saya.."


Mayang menatap ke arah Bayu yang lekas paham lalu menawarkan keberangkatan di hari minggu.


"Hari minggu ya? baik, nanti saya kabari lagi. Saya buatkan jadwal bertemu dulu dengan guru saya! untuk keris ini, biar saya yang simpan sampai tiba waktunya untuk dikembalikan!"


"Baik pak ustad, saya sangat berterima kasih!"


"Iya, saya senang bisa membantu kalian. Sejujurnya, saya ingin membantu ayah dan ibu mbak Mayang tapi bingung karena tidak ada celah dan keduanya pun, belum ada niat untuk mengakhiri semuanya."


"Iya pak ustad."


"Yang sabar ya mbak Mayang! pelan-pelan, semua akan terlewati, mbak Mayang pasti akan terbebas dari jerat ini."


"Iya pak Ustadz terima kasih."

__ADS_1


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2