![WARIS [ END ]](https://asset.asean.biz.id/waris---end--.webp)
"Mas Galang lihat ibuk?" tanya Mayang.
"Kayaknya tadi keluar deh, naik mobil kok disopiri pak Dadang."
"Oh, manggil pak Dadang. Ke mana ya kira-kira? belanja mungkin ya?"
"Biasanya gitu, ohya May, bilangin om ya kalau mas Galang mau mendaki gunung! Berangkat hari ini, balik besok."
"Aku ikut mas!"
"Jangan May! mendaki gunung itu capek, kamu gak akan kuat, aku saja!" tolak mas Galang disusul tawa cekikikan.
"Hadeh mas Galang nih, aku tuh pengen ikut mas. Biar ada pengalaman naik gunung meski pun cuma sekali."
"Gak usah May, ngrepotin pasti!"
"Ya ampun mas, pelit amat."
"Lagian gak bakalan dibolehin sama ayahmu."
"Janji hayo? kalau misal dibolehin, aku ikut ya?"
"Kalau kamu ikut, aku harus cari temen cewek lagi buat nemenin kamu di tenda."
"Aku ajak temanku sendiri saja mas!"
"Haduh, semakin banyak cewek, semakin banyak juga bebannya."
"Aku udah gede, gak bakalan ngrepotin mas Galang."
"Kamu belum tahu aja medannya," desah mas Galang.
"Sepakat ya mas? kalau dibolehin ayah, aku ikut."
Galang menghela napas panjang seraya menganggukkan kepala. Di luar dugaan, ayah dan ibu Mayang mengizinkan. Hal ini membuat Mayang bersorak senang seraya lekas menghubungi beberapa teman perempuannya, mencari salah satu yang bersedia untuk menemaninya. Sekali lagi mas Galang mendesah seraya bergumam:
"Apes.."
...🌟🌟🌟...
Satu jam kemudian, Mayang tengah bersiap. Nike, salah satu teman sekelas Mayang pun telah tiba di rumahnya. Tak lama kemudian, ibu Mayang pulang dengan membawa banyak belanjaan.
"Mayang jadi mendaki gunung dengan mas Galang?" tanya ibunya.
"Jadi buk, ini ngajak Nike juga."
Nike, mengulas senyum seraya salim ke ibu Mayang.
"Nike sudah izin ke orang tua kan?"
"Sudah tante."
"Gimana kata ayah May?" ibunya kembali bertanya kepada putrinya.
"Boleh kok buk."
"Bahan makanan kalian cukup kan untuk dua hari?"
"Cukup tante," jawab mas Galang.
"Galang hati-hati ya, bawa Mayang sama Nike juga."
__ADS_1
"Iya tante."
"Berangkat sama siapa saja Lang?"
"Selain kita bertiga, ada Dodit dan Wahyu juga te."
"Oh, teman sekelahmu semua itu ya?"
"Iya tante."
"Hati-hati loh Lang, sabtu depan kamu sudah wisuda."
"Iya tante, pasti hati-hati Galang."
"Ya sudah, kalian lanjutkan!"
"Iya," jawab ketiganya serentak.
Melihat ibunya berjalan masuk ke dapur, Mayang menghampirinya.
"Buk..!"
"Iya May, ada apa?"
"Ibuk kok pergi belanja sendiri sih? kan habis keguguran tempo hari. Apa kondisi ibuk sudah pulih?"
Ibunya tersenyum.
"Sudah, ibuk baik-baik saja sekarang."
"Kenapa sih buk, Tuhan ambil calon adik Mayang lagi?"
"Husst, jangan bicara begitu! tidak boleh berburuk sangka seperti itu. Semua pasti ada hikmahnya. Semua hal terlah digariskan, kita sebagai manusia, harus ikhlas menjalani."
"Mana ada ibu yang tidak terluka tapi luka itu, harus dimanage dengan baik agar tidak melukai diri lebih parah lagi."
Mayang bungkam mendengar jawaban bijak dari ibunya.
"Kok diam, ditungguin Nike dan mas Galang tuh."
"Buk.. ada yang ingin Mayang tanyakan."
"Apa? tanya saja!"
"Apa kematian kelima calon adikku, ada kaitannya dengan pak Ageng?"
...Deg.....
Ibunya terlihat sedikit terkejut tapi lekas ia normalkan kembali gestur tubuhnya.
"Maksud kamu apa Mayang?"
"Ada perjanjian di antara eyang dan akung ketika menyelamatkan pak Ageng. Perjanjian apa itu buk? apa perjanjian itu juga yang akhirnya merenggut nyawa kelima calon adikku?"
"Huusttt, ngawur kamu! tidak ada hal semacam itu. Semua murni takdir, bukan perbuatan siapa-siapa, apalagi pak Ageng. Memang benar, dia jin tapi dia, tidak membunuh adikmu."
"Apa yang sebenarnya ibuk sembunyikan?"
"Mayang..."
Ibunya menahan ucapannya seraya mengusap rambut putrinya sembari berpesan agar Mayang berhati-hati saat pendakian nanti.
__ADS_1
"Buk..."
"Ibuk mau beristirahat," potong ibunya sembari melangkah masuk ke dalam kamar.
...🌟🌟🌟...
Sekitar pukul dua siang, Mayang, mas Galang, Nike beserta dua teman mas Galang telah berangkat ke lokasi tujuan. Sebuah gunung yang cukup populer di Jawa Timur. Sesampainya di sana, mereka tak langsung mendaftar. Melainkan mengisi perut terlebih dahulu.
"Belum juga mulai, sudah makan mas," ejek Mayang.
"Ini namanya, memajukan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) Lokal May," kilah mas Galang disusul cekikan.
"Bisa aja," timpal Mayang sembari memanyunkan bibir.
Mas Galang, Mayang, Nike, Dodit dan Wahyu memilih salah satu warung untuk mengisi perut. Lima piring nasi pecel lengkap dengan lima telur dadar, telah dipesan. Tak lupa, teh hangat agar tidak tersedak. Sore yang telah menyapa, turut membawa hawa dingin menerpa indra peraba. Mayang menggosok telapak tangannya sembari sesekali meniupnya.
"Tuh kan, mas Galang sudah bilang, kamu jangan ikut!" ujar Galang.
"Apaan sih? aku bisa kok."
Mas Galang memanyunkan bibir seraya menggeser gelas teh hangat dari si penjual.
"Diminum gih biar ilang dinginnya!" pinta mas Galang.
"Iya," jawab Mayang seraya menyruput teh hangat miliknya.
"Gila! belum juga naik, udah sedingin ini," umpat Mayang di dalam hati.
"Dingin ya May," bisik Nike.
"Iya Nik," jawab Mayang sembari menganggukkan kepala.
...🌟🌟🌟...
Selesai makan, kelima orang tersebut berdiskusi. Terutama mas Galang beserta dua teman laki-lakinya. Mereka menimbang hendak naik sekarang atau besok pagi saja. Sementara Mayang dan Nike, menanti hasil dari keputusan mereka.
"Lebih baik besok pagi saja Lang, Mayang dan Nike belum ada pengalaman sama sekali. Mendaki saat terang saja sulit, apalagi malam," usul Wahyu.
Tampaknya, semua orang sepakat dengan usulan dari Wahyu. Kelima orang itu pun bermalam terlebih dahulu di basecamp sembari menunggu sang fajar menyingsing.
...🌟🌟🌟...
Di gunung, langit terlihat lebih indah. Bintang pun terlihat lebih jelas. Daya tarik tersendiri yang kini sedang, Mayang nikmati. Selain dingin yang menusuk tulang. Pemandangan malam ini begitu menenangkan. Ditambah suara jangkrik dan tonggeret yang saling bersahutan. Nyanyian alami dari alam. Setelah puas menikmati suasana syahdu malam itu, Mayang pun beranjak untuk tidur.
...🌟🌟🌟...
Tengah malam tepat, Mayang yang tadinya tertidur lelap, tiba-tiba kejang. Mengejutkan semua orang yang ada di basecamp, terutama mas Galang. Beragam usaha telah dilakukan untuk membangunkan Mayang. Badan Mayang yang sedingin es membuat orang-orang mengira kalau ia terkena hipotermia. Namun, dugaan itu segera terbantahkan ketika Mayang membuka matanya lebar-lebar seraya tertawa cekikikan. Tawa khas dari sosok yang sering disebut sebagai kuntilanak. Tampaknya, sosok kuntilanak telah merasuki tubuh Mayang. Sosok itu meminta agar Mayang dibawa pergi dari sana atau nyawanya akan menjadi taruhan.
"Bawa pergi gadis ini sebelum semua penghuni murka kepadanya!" ucap sosok yang diduga kuntilanak.
"Siapa kamu berani mengusir gadis ini, lawan aku dulu!"
Suara lain muncul dari mulut Mayang. Semua orang menjadi kebingungan. Seolah ada dua sosok yang saling beradu di dalam tubuh Mayang. Satu sosok membencinya dan satu sosok lain membelanya.
"Sombong! kamu yang sendiri, tidak akan mampu melawan kami."
"Coba saja kalau berani!"
Dua suara itu masih terus berdebat hingga kemudian, tubuh Mayang melayang di udara. Seperti tergantung tanpa ada tali yang menahan. Mas Galang terlihat sangat khawatir. Merasa takut jika sepupunya tiba-tiba terempas jatuh dengan keras. Suara tawa menggelegar dan sesaat kemudian, tubuh Mayang benar-benar jatuh. Sekuat tenaga mas Galang menangkapnya. Beruntung, kepala Mayang tidak sampai terbentur. Namun, tidak untuk tubuh Mayang. Gadis itu pasti akan sangat kesakitan ketika tersadar.
"May.. bangun May!" pinta mas Galang dalam kepanikan.
__ADS_1
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...