![WARIS [ END ]](https://asset.asean.biz.id/waris---end--.webp)
Mayang mencari waktu yang tepat untuk mengajak ibunya berbincang. Topik yang akan ia bahas tentu saja tentang calon adiknya yang telah lima kali meninggal sewaktu masih di dalam kandungan. Ketika melihat ibunya mengamati bunga-bunga di taman, Mayang lekas menghampirinya. Meraih gunting untuk membantu memotong daun-daun yang menguning.
"Sudah enakan kamu May?"
"Sudah buk."
"Pohon mangga itu sudah besar, gimana kalau kita belanja bunga anggrek lalu ditempel di sana?"
Mayang mengarahkan padangannya ke pohon mangga yang dimaksud ibunya seraya menganggukkan kepala.
"Apa ya? enaknya anggrek bulan semua atau dimix dengan anggrek dendrodium?"
"Kalau seragam sejenis kayaknya lebih bagus."
"Iya benar. Nanti kita pilih-pilih dulu di sana!"
"Iya buk. Buk, ada yang ingin Mayang tanyakan."
"Apa itu?" tanya ibunya sembari terus sibuk menyiram tanaman menggunakan semprotan spray kecil di tangan.
"Jujur ya buk! ibuk, ayah, eyang dan akung telah bersekutu dengan jin ya? itu kan yang menyebabkan kelima calon adil Mayang meninggal dalam kandungan? ibuk dan ayah menumbalkan mereka."
Ibu Mayang menghentikan aktifitasnya seraya memalingkan pandangan ke wajah putri semata wayangnya.
"Siapa yang mengatakan itu padamu?"
"Poinnya, ini benar atau tidak buk?"
"Begini, ada sesuatu yang jika telah terjadi, tidak bisa dirubah."
Ibunya terlihat begitu hati-hati dalam memberikan jawaban.
"Maksud ibu adalah, memang benar jika ibuk dan ayah pernah terlena. Pernah memiliki kesepakatan dengan mereka tapi bukannya tidak ada penyesalan. Kami menyesal, hanya saja semua sudah terlaksana. Kesepakatan pun tidak dapat dibatalkan."
"Gila! tega sekali kalian."
"Mayang, meski demikian, ayah dan ibuk telah memikirkannya sehingga tumbal yang kami berikan masih berupa janin berusia tiga bulan yang belum ditiupkan ruh di dalamnya. Belum bernyawa nak jadi, tidak sepenuhnya mengorbankan seperti yang kamu bayangkan."
"Sama saja buk, bagaimana pun ibuk berdalih, itu hanya pembenaran semata."
__ADS_1
"Setiap hal pasti memiliki pilihan dan jika kita menginginkan sesuatu, sewajarnya harus juga mengorbankan sesuatu."
"Apa? demi kekayaan ini? kita bisa bekerja keras untuk menjadi kaya."
"Mayang, jangan naif kamu! kamu pikir, setelah eyang dan akung meninggal, apa kita bisa tetap kaya jika tidak ada yang melanjutkan? lihatlah hidup paman dan bibimu! mereka hidup tidak kekurangan karena siapa? kesepakatan eyang dan akung yang membuat kita semua hidup dalam kenyamanan tapi karena keluarga adalah penerus maka, hanya keluarga kita yang kaya raya. Berkecukupan bahkan berlebih-lebihan. Semua yang kita dapatkan selalu disertai pengorbanan."
"Mayang tidak habis pikir. Benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi."
"Yang perlu kamu pahami adalah ayah dan ibuk sudah sangat meminimalisir resikonya dengan mengorbankan janin yang belum ditiupkan ruhnya. Kami, boleh bersedih tapi jangan berlarut lama! kamu adalah penerus setelah ayah dan ibuk. Kamu harus kuat dan semua yang kami lakukan adalah untuk kamu."
Antara sedih dan marah. Semua berkecamuk menjadi satu. Mayang memilih untuk pergi dari pada mendebat ucapan ibunya. Ibunya sendiri memilih diam, membiarkan putrinya menenangkan diri dan berpikir. Sebuah fakta yang baru saja tervalidasi cukup mengguncang psikis Mayang, saat ini.
...🌟🌟🌟...
"Hei sorry telat! macet tadi," ucap Bayu ketika ia baru datang.
"Ada apa? tumben nraktir makan tiba-tiba," imbuh Bayu.
Alih-alih memberi jawaban, Mayang malah menangis sesenggukan. Bayu semakin bingung, ditambah beberapa pasang mata pengunjung cafe yang kini menatap ke arahnya. Seolah menuduh kalau ia adalah penyebab Mayang menangis sesenggukan.
"May, kamu kenapa? jangan nangis begini! dilihatin orang-orang nih."
"Ya ampun May! gimana kalau kita pindah cafe saja?"
Mayang menggelengkan kepala.
"Kalau gitu diam ya! cerita pelan-pelan! ada apa?"
Pada akhirnya, Mayang diam sembari menghapus air matanya.
"Oke tenang! cerita deh, ada apa? putus cinta? atau diputusin sebelum jadian?"
"Hah?"
Mayang lantas tertawa kala mendengar pertanyaan Bayu yang sedang mencoba menghiburnya.
"Ada apa sih, kok sampai kayak gitu?"
"Ibuku keguguran, sama seperti empat calon adikku yang dulu."
__ADS_1
"Eemmm.."
"Yang membuatku sedih bukan hanya karena kehilangan tapi juga..."
Tiba-tiba Mayang menghentikan ucapannya karena Kantil memperingatinya.
"Jangan sampai salah dalam meletakkan kepercayaan! Jika kamu menceritakan kepada Bayu, apa jaminannya kalau dia akan menjaga rahasiamu. Bisa-bisa malah menjadi bumerang bagimu. Jika semakin membesar, aku akan turun tangan untuk menyelesaikan," ucap Kantil.
"Menyelesaikan yang seperti apa?" tanya Mayang di dalam hati.
"Tentu saja melenyapkan Bayu untuk dijadikan tumbal."
...Deg ......
Mayang membulat seraya berusaha mengalihkan topik pembicaraannya.
"Kok berhenti May? kamu sedih karena apa selain kehilangan adikmu?" tanya Bayu.
"Itu.. aku sedih melihat ibuku terpukul."
"Emmm iya, tentu saja ibumu akan bersedih juga. Gimana ya? namanya takdir, tidak ada yang bisa menghindar. Lagi pula, menjadi anak tunggal, gak melulu buruk kok. Kesepian sih iya tapi, selain itu ada banyak positifnya juga kan? jangan terus-terusan bersedih ya!"
Mayang menghela napas dalam-dalam seraya menganggukkan kepala.
"Maaf Bay! bahkan sekarang, aku sudah tak memiliki tempat untuk mencurahkan isi hati," benak Mayang.
...🌟🌟🌟...
Butuh berhari-hari bagi Mayang untuk menenangkan diri. Dia yang tidak bisa merubah apa-apa akhirnya memilih untuk menutup mata. Menasihati orang tuanya pun percuma. Membenci mereka, juga bukan pilihan. Sampai kapan pun, mereka tetaplah orang tuanya. Untuk saat ini, Mayang membiarkannya sembari mencari waktu-waktu yang pas untuk mencoba membujuk ayah dan ibunya agar bersedia untuk meninggalkan jalan yang sesat. Meski pun, Mayang menyadari imannya yang setipis tisu tapi ia, masih belum berani jika harus bersekutu dengan jin.
"Bagaimana caranya agar ayah dan ibuk bisa sadar ya?"
"Bagaimana juga caranya agar mereka mau mengakhiri ini semua?"
Mayang meniup poni rambutnya yang kini mulai menutupi matanya.
"Entahlah," gumam Mayang seraya menarik poni rambutnya ke belakang lalu menjepitnya dengan jepitan.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...
__ADS_1