WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
PERINGATAN


__ADS_3

Keesokan harinya, Mayang mengirimkan pesan singkat kepada budhe dan omnya untuk mengajak keduanya bertemu di rumah orang tua Mayang. Bayu menguatkan Mayang, begitu pun dengan mbak Yanti. Budhe dan omnya setuju dan bertemulah mereka semua di rumah orang tua Mayang. Bayu dan mbak Yanti turut datang, menemani sekaligus menjadi penjaga Mayang.


"Terima kasih sudah berkenan menghadiri undangan dari Mayang. Satu hal yang ingin sekali Mayang katakan," ucap Mayang memulai perbincangan.


"Tega sekali kalian hendak membunuh keponakan."


Budhe dan omnya sama sekali tidak merespon. Wajah keduanya pun tetap terlihat tenang. Tidak menyangkal dan juga, tidak membenarkan.


"Sudahlah, jika kalian menginginkan harta tidak halal milik ayah dan ibu, Mayang akan memberikannya tapi sebelum itu, izinkan Mayang untuk mengatakan sesuatu terlebih dahulu!"


Budhe beserta Omnya lantas menatap lekat-lekat keponakannya tersebut. Mayang menceritakan semua yang telah eyang, akung beserta kedua orang tuanya lakukan hingga akhirnya semua orang itu meninggal. Namun, jiwa mereka berada dalam cengkeraman jin yang saat ini, turut dipelihara oleh budhe dan juga omnya. Mayang berusaha membujuk saudara kandung ibunya itu agar kembali bertaubat sebelum terlambat. Namun, keduanya tak bergeming sedikit pun. Keduanya malah marah-marah ketika Mayang mengatakan kalau hendak menghibahkan harta milik orang tuanya untuk dijadikan masjid serta disedekahkan. Keduanya merasa tidak terima dan balik mengatakan kalau Mayang sangatlah bodoh.


"Kami pun tidak akan setega itu padamu kalau kamu tidak bodoh seperti ini. Kami akan memberikan bagianmu ketika aset orang tuamu laku terjual. Kami tidak akan membiarkanmu hidup terlantar. Eh malah mau dihibahkan, mau hidup di kolong jembatan kamu? bodoh!" umpat budhenya.


Omnya pun tak mau kalah untuk mengatai keponakannya itu. Bayu yang merasa geram, ingin sekali membalas semua ucapan mereka. Namun, Mayang menahannya agar tetap diam. Melihat reaksi kedua saudara kandung ibunya, Mayang teringat pesan ustad Fahri. Mayang menghela napas dalam lalu berdiri.


"Ayo ikut saya!" pinta Mayang kemudian.


Semua orang pun berdiri lalu mengikuti langkah Mayang, masuk ke dalam sebuah ruangan di rumah kedua orang tuanya. Di sana, ada sebuah lemari tempat orang tua Mayang menyimpan semua surat-surat penting. Mayang memilahnya lalu menyerahkan semua surat-surat aset tanah dan rumah kepada budhe dan juga omnya. Tentu saja hal ini membuat budhe dan juga omnya merasa sangat senang. Keduanya memberikan pujian lalu mengatakan kalau Mayang akan tetap diberikan bagian ketika semua aset itu laku terjual. Dengan tegas Mayang menolak. Mayang tidak mau menerima sepeser pun dari hasil penjualan dan meminta budhe serta omnya untuk tidak mengusik hidupnya. Kedua manusia serakah itu pun menyetujuinya.

__ADS_1


"Banyak hal yang masih tetap membutuhkan tanda tanganmu nantinya. Kamu harus kooperatif untuk hal itu!" ucap omnya.


"Siapkan saja semua dokumen balik nama atas nama kalian, akan aku tanda tangani semua dan setelah itu, saya ingin hidup dengan tenang!"


"Baik, akan kami siapkan," jawab om Mayang dengan senyum yang tak henti-hentinya ia sunggingkan.


Merasa semua hal telah disampaikan, Mayang menyerahkan kunci rumah lalu pergi dari sana. Tanpa salim atau pun memberikan salam. Budhe dan omnya sama sekali tidak mempermasalahkan. Bagi mereka, harta yang paling utama.


...🌟🌟🌟...


Di sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah, tak henti-hentinya Mayang menitikan air mata. Hatinya merasa sangat terluka. Merasa sendiri tanpa memiliki satu pun saudara.


"Iya non, jangan sedih terus ya!"


Lain Mayang, lain lagi kedua saudara ibunya. Mereka merasa gembira sebab telah mendapatkan lampu hijau dari Mayang. Seluruh Administrasi legalitas, lekas diurus oleh mereka. Sementara Mayang, melanjutkan hidupnya dengan menjual mobil milik orang tuanya serta menyedekahkannya ke banyak kaum duafa yang membutuhkan. Termasuk menyantuni anak yatim juga. Seiring dengan hal itu, Mayang turut meletakkan banyak lamaran kerja. Meski tidak mulus dan beberapa kali mengalami kegagalan. Namun, pada akhirnya ia diterima bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Mayang merasa sangat senang.


Beberapa hari kemudian, budhenya datang ke kontrakan untuk meminta tanda tangan Mayang. Banyak dokumen yang harus ia tandatangani. Hati Mayang telah mati rasa. Dia hanya membubuhkan tanda tangan yang dibutuhkan tanpa mengajak berbincang budhenya atau sekedar menawarkan minuman. Setelah semua dokumen lengkap, budhenya lantas mengucapkan terima kasih lalu pamit untuk pergi. Mayang hanya bisa menghela napas panjang sembari berdoa agar sang pencipta selalu menguatkan dirinya.


...🌟🌟🌟...

__ADS_1


Waktu pun berlalu dan tanpa sengaja Mayang bertemu dengan mas Galang di sebuah mini market, dekat tempat Mayang bekerja. Mas Galang menghentikan Mayang lalu mengajaknya berbincang. Dari pembicaraan itu, diketahui kalau ternyata mas Galang tidak tahu jika selama ini, ibunya beserta om mereka merebut semua harta milik orang tua Mayang. Yang mas Galang ketahui adalah Mayang sendiri yang menginginkan untuk menjual semua aset tersebut dan meminta bantuan ibunya. Mayang memasak wajah sinis seolah memuji kelicikan budhe serta omnya.


Pada kesempatan itu juga, Mayang menceritakan semua sisi gelap keluarga besar mereka. Antara percaya dan tidak, mas Galang diam dalam posisinya. Mayang sendiri sudah tidak peduli jika mas Galang tidak percaya sebab baginya, ia telah merasa sangat damai sekarang. Meski tak hidup bergelimang hati tapi batinnya, merasa sangat tentram.


"Aku akan mencari tahu tentang kebenarannya!"


"Tidak perlu mas! budhe sudah berbohong, mana mungkin dia mau berkata jujur. Itu tidak perlu dan tidak penting bagiku. Hanya saja, sebagai seseorang yang masih menaruh peduli pada mas Galang, aku katakan kalau semua itu tidaklah gratis. Mereka akan meminta tumbal. Jika orang tuaku menumbalkan adik-adikku, lantas budhe akan menumbalkan siapa? jangan meremehkan orang yang sudah gelap mata!"


...Deg......


Mas Galang membulat.


"Mereka berdua juga tega mengirimiku teluh untuk membunuhku sebab sebelumnya, aku menentang keinginan mereka untuk menjual harta ayah dan ibuk. Apakah dulu, budhe sejahat itu? apakah menurut mas Galang, budhe tidak berani melakukan hal nekat yang lain?"


...Deg......


Mas Galang kembali membulat.


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...

__ADS_1


__ADS_2