WARIS [ END ]

WARIS [ END ]
SAKIT YANG ANEH 2


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, mereka bergegas menuju ruang inap ibu Mayang. Mayang mengkhawatirkan kondisi ibunya seiring terus bermunculan pikiran-pikiran negatif dalam otaknya.


..."Krriiiett.."...


"Non Mayang.." panggil mbak Yanti ketika melihat Mayang dan Bayu datang.


"Mbak, gimana ibuk?" tanya Mayang sembari mengalihkan pandangan ke arah ibunya yang sedang terlelap.


"Nyonya... nyonya barusan tidur," jawab mbak Yanti.


"Ada apa mbak? kenapa mbak Yanti terdengar seperti orang ketakutan di telepon tadi?"


"Itu mbak, nyonya.. aneh."


"Aneh gimana?"


Mayang dan Bayu menatap mbak Yanti lekat-lekat.


"Duduk dulu mbak, ceritakan pelan-pelan!"


Mbak Yanti mengangguk seraya duduk di kursi dalam kamar.


"Gimana mbak? apa yang ibuk lakukan hingga membuat mbak Yanti ketakutan?"


"Tadi, nyonya tiba-tiba diam. Saya ajak ngobrol sembari saya tawari makanan, nyonya tidak memberikan respon apa-apa. Saya pikir, itu dikarenakan kondisi nyonya yang belum sehat tapi lama kelamaan, nyonya terlihat menyeramkan. Nyonya sempat memandangi saya untuk waktu yang lama. Sesekali, nyonya tersenyum sinis ke arah saya. Saya berusaha untuk tidak memikirkannya tapi kemudian, nyonya berdiri lalu berjalan perlahan ke sudut ruangan (sambil menunjuk sudut ruangan yang dimaksud) lalu tertawa sendiri. Ketawanya tuh seperti kalau sedang bergurau dengan seseorang. Saya jadi merinding non, ketika saya tegur, nyonya langsung diam lalu menatap saya dengan tatapan yang tajam. Setelah itu, nyonya mulai bicara dan tertawa sendiri. Tatapan nyonya memiliki efek menyeramkan yang tidak bisa saya jelaskan."


Mayang menatap nanar ke arah ibunya.


"Ibuk kenapa sih?" tanya Mayang di dalam hati.


Mayang, Bayu dan mbak Yanti kembali fokus dengan obrolan mereka hingga tanpa sadar ibu Mayang terlah berada di samping Mayang dan mengagetkan semuanya sebab, ibu Mayang diam dalam posisi merangkak di lantai sembari menatap Mayang, Bayu dan mbak Yanti secara bergantian.


"Astaghfirulloh nyonya! kenapa merangkak di bawah?" pekik mbak Mayang.


"Buk.."


Mayang bermaksud untuk membantu ibunya berdiri tapi ditolak. Ibunya tetap pada posisi merangkak sembari menatap dalam diam. Tidak ada satu kata pun yang terucap tapi benar yang dikatakan mbak Yanti, tatapan ibu Mayang cukup menyeramkan. Tak lama kemudian, ayahnya datang seraya lekas menyentuh lengan istrinya dan seketika itu juga, tubuh istrinya melemas. Ayah Mayang pun memapah istrinya untuk direbahkan kembali di ranjang. Dalam benak Mayang bertanya-tanya.


"Apa yang ayah lakukan tadi? kok ibuk langsung lemas begitu?"


Semua orang diam, bingung juga hendak bagaimana. Sementara ibu Mayang, hanya bengong dan sama sekali tidak memberikan respon ketika ditanya atau disentuh anggota tubuhnya.


"Ibuk kenapa sih yah?"


"Tidak kenapa-kenapa, namanya juga lagi sakit. Wajar jadi seperti ini."


"Gak wajar ini yah. Tatapan ibuk kosong, diajak ngobrol pun gak merespon."


"Jangan khawatir! ibu kamu baik-baik saja. Dia juga tidak gila."

__ADS_1


"Apa ibuk bisa sembuh?"


"Tentu saja bisa!" jawab ayahnya dengan nada yang sedikit meninggi membuat semua orang menjadi diam.


"Kalian semua pulang saja, kamu juga May! ayah yang akan menjaga ibuk di sini!"


"Em... ayah sendirian tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, kamu pulang saja, istirahat! fokus saja sama kuliahmu dan pembukaan tokomu!"


"Ayah.. ayah sudah makan belum? mau Mayang belikan makanan?"


Ayahnya berpaling menatap wajah putri semata wayangnya. Raut wajah yang tadi tegas, kini telah melunak.


"Tidak usah, ayah tidak lapar. Itu, kamu juga bawa makanan kan? itu saja yang ditinggal di sini! nanti bisa ayah makan."


Mayang pun mengangguk lalu berpamitan.


"Mbak Yanti naik taksi kah pulangnya?"


"Saya ojek saja mbak."


"Gitu ya? soalnya saya tadi juga motoran sama Bayu, gak pakai mobil."


"Iya non gak apa-apa. Saya pesan by aplikasi sekarang!"


"Iya mbk."


"Udah ya sedihnya!" bujuk Bayu.


"Bay, rasanya kok berat banget ya?"


"Namanya juga ujian May. Sabar! semua ada waktunya, cepat atau lambat pasti berlalu."


"Bay.."


"Iya?"


"Aku sedih banget, bingung, takut..."


"Masih ada aku May, kalau butuh bantuan dan teman untuk curhat, aku siap."


Mayang menundukkan kepalanya lalu menitikan air mata. Bayu menepuk pelan punggung Mayang lalu menarik kepalanya perlahan dan disandarkan pada pundaknya.


"Nangis aja sampai puas, biar lega!"


"Ya ampun Bay, rasanya pengen banget cerita semuanya ke kamu tapi... aku takut kalau itu akan berakibat buruk untuk kamu," ucap Mayang di dalam hati.


"Mau ice cream May?"

__ADS_1


"Hem..?"


"Ice cream coklat mau? katanya kan, coklat bisa memperbaiki suasana hati yang buruk."


"Emangnya aku anak kecil? dihiburnya pakai ice cream."


"Lah kamu mau gak?"


"Mau."


"Ya elah, mau gitu.. bentar ya!"


"Iya."


Setelah berbincang cukup lama dan mencurahkan seluruh keluh kesahnya, batin Mayang terasa lebih lega. Seulas senyum pun mulai nampak di wajahnya. Mayang merasa beruntung karena memiliki Bayu sebagai sahabat. Meski demikian, dia tetap belum berani untuk mengungkapkan fakta kelam keluarganya. Demi keselamatan Bayu sendiri.


...🌟🌟🌟...


Bayu mengantarkan Mayang pulang sebelum kemudian, ia pun berpamitan. Bayu berpesan agar Mayang jangan terpuruk terus sebab masih ada banyak hal yang harus Mayang lakukan. Saat ini memanglah kondisi yang sulit tapi semuanya pasti bisa terlewati, Mayang menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, aku pulang ya! assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Ketika Bayu memutar arah motornya, Mayang melihat arwah eyang Ratmi berdiri di tengah halaman. Mayang menatapnya lekat-lekat hingga yakin jika itu benar adalah eyangnya. Bayu melambaikan tangan seraya menggeber motornya melewati atau lebih tepatnya menembus tubuh dari arwah eyang Ratmi tersebut. Sekilas, tubuh Mayang menunjukkan ekspresi terkejut sebelum kemudian, ia bergegas masuk ke dalam rumah.


Mayang berdiri diam di balik pintu rumah seiring penasaran yang kian menguat. Dengan segala keberanian yang tersisa, Mayang mengintip dari balik tirai jendela. Sosok eyang Ratmi masih berdiri di sana yang seolah tahu kalau Mayang sedang mengintip sekarang. Segera ia tutup kembali tirainya sembari mengatur deru napasnya.


"Seriusan itu eyang? ada apa? kenapa datang? apa eyang mengkhawatirkan anaknya yang sedang terbaring di rumah sakit? kalau pun iya, kenapa ke sini datangnya? harusnya kan ke rumah sakit?"


Benak Mayang dipenuhi tanda tanya. Ia pun memutuskan untuk kembali mengintip. Namun, ia lekas terkejut sebab arwah eyang Ratmi telah berada di balik teras tepat. Sontak Mayang berteriak seiring tubuhnya yang terhuyung jatuh, mundur ke belakang dan kemudian, berlari ke dalam kamar.


"Kenapa arwah eyang masih penasaran? itu beneran eyang apa bukan sih? apa benar arwah eyang tidak tenang karena terikat dengan perjanjian ghaib?"


"Mayang..."


Terdengar suara eyang Ratmi memanggil. Mayang membulat, tubuhnya membeku tak berani membuka pintu.


"Mayang..."


Mayang menelan ludahnya seiring jantung yang berdetak tak beraturan.


"Mayang..."


..."Deg..."...


Mayang duduk meringkuk di samping ranjang sembari menutup kedua matanya. Seolah senang, sosok yang entah benar eyang Ratmi atau bukan, terus memanggil nama Mayang. Meski takut, Mayang juga penasaran. Perlahan ia buka sedikit matanya dan lekas terkejut sebab, sosok eyang Ratmi telah duduk jongkok di depannya tepat.


"Aaaaaaaa!!!!!"

__ADS_1


...🌟 BERSAMBUNG 🌟...


__ADS_2