When We Were In Love ( A Secret Love)

When We Were In Love ( A Secret Love)
Episode 10


__ADS_3

"Apakah kau makan dengan benar selama disana??" suara Do Hwan terdengar di seberang.


"Iya,aku makan dengan baik," jawab Tiffany yang sedang mengeringkan rambutnya. Dia baru selesai mandi ketika Do Hwan meneleponnya.


"Kak Do Hwan dimana?"


"Aku sedang di rumah."


"Besok jadwalmu apa?"


"Aku besok libur Kak."


"Mau makan siang bersama??"


Tiffany tersenyum mendengarnya, dia selalu menantikan saat-saat bertemu Do Hwan.


"Boleh, di mana Kak?"


"Di rumahku, aku akan memasak pasta untukmu."


"Benarkah? baiklah kalau begitu," Tiffany sangat senang mendengarnya.


"Oke, sekarang sebaiknya kau tidur, jangan sampai mata pandamu terlihat menyeramkan besok," ucap Do Hwan.


"Iyaaaa." Tiffany mematikan ponselnya dan kemudian berbaring di kasurnya.


Do Hwan tersenyum begitu teleponnya di tutup. Akhirnya setelah menahan rindu pada gadisnya, dia bisa mendengar celotehan Tiffany, dan besok mereka akan bertemu lagi.


 


 ********


Paginya.


"Hemm aku naik apa ya?? bawa mobil atau naik taksi??" Tiffany sibuk menimbang cara dia ke rumah Do Hwan. Karena dia memang tidak terlalu mahir menyetir. Mobilnya sangat jarang di gunakan. Dia hanya menggunakan untuk jarak dekat. Karena biasanya dia di jemput Hans.


"Ting!!"


Ada pesan masuk.


"Aku sudah di basement, turunlah kemari. Jangan lupa pakai topi dan masker."


Tiffany terkejut membaca pesan itu. Dia tidak menyangka Do Hwan akan menjemputnya karena semalam Do Hwan tidak menyebut soal akan menjemputnya.


Dia bergegas turun. Tiffany memakai masker dan topinya saat tiba di basement. Dia mengecek keadaan jika aman. Bergegas dia menuju ke arah mobil Do Hwan yang di parkir agak jauh dari pintu keluar. Tiffany melepaskan maskernya begitu berada dalam mobil Do Hwan. Sejak mereka jadian, mereka selalu berusaha keluar dengan aman tanpa di curigai ataupun di buntuti paparazi.

__ADS_1


"Sudah siap??" tanya Do Hwan yang hari itu tampak ganteng maksimal walaupun hanya memakai kaos dan celana belel.


"Iya Kak."


Mobil Do Hwan pun keluar dari wilayah apartemen Tiffany.


"Kau sudah sarapan??" Do Hwan bertanya sambil menatap ke depan


"Sudah, Kak Do Hwan kok jemput sih?"


"Loh, kan biasanya juga di jemput."


"Iya, tapi hari ini kan mau ke rumah kak Do Hwan, kenapa di jemput segala, kan aku bisa kesana sendiri jadi Kak Do Hwan gak perlu bolak balik"


" Yah gak apa-apa, aku memang ingin jemput,lagi pula apa salahnya sih jemput pacar sendiri buat di ajak ke rumah?!"


Wajah Tiffany langsung memerah mendengar kata Do hwan.


"Kita mampir ke supermarket dulu ya, mau beli bahan pasta," lanjut Do Hwan.


Tiffany hanya diam saja, dia masih terhipnotis dengan kata "pacar" yang di ucapkan Do Hwan.


"Ayo turun," kata Do Hwan begitu dia selesai memakirkan mobilnya.


"Loh tapi kak??! kan di dalam banyak orang, nanti kalau ketahuan gimana?? " Tiffany terkejut dengan ajakan Do Hwan.


Do Hwan sendiri sudah memakai maskernya dan menggunakan topi. Mereka pun keluar dari mobil. Tiffany sengaja memberikan jarak antara dirinya dan Do Hwan. Jantungnya berdegup kencang. Terbayang bagaimana murkanya Hans jika berita dia berkencan tersebar.


" Bersikap biasa dan tenang," bisik Do Hwan yang melambatkan langkahnya menunggu Tiffany yang tampak gugup dan berjalan pelan di belakangnya.


Do Hwan langsung menuju ke tempat penjualan bahan-bahan yang dia butuhkan untuk membeli pasta. Sementara Tiffany mengekornya dengan tetap menjaga jarak. Tiffany kemudian tertarik dengan buah Strawberry yang nampak segar dan ranum. Dia pun menuju ke tempat Strawberry.


"Bug!!!" tiba- tiba ada yang menepuk pundak Tiffany, dia pun membalikan badannya dan keringat dingin langsung keluar saat yang berdiri di depannya bukanlah Do Hwan, tapi seorang Pria dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya dan kacamata hitam. Tiffany berdoa dalam hati, berharap itu hanya salah orang dan orang tersebut akan segera pergi.


Tapi ternyata lelaki tersebut hanya diam di depan Tiffany. Tiffany hampir ingin kabur jika saja Lelaki itu tidak menurunkan maskernya, dan mengedipkan mata padanya.


"Kak Jonathan..!!" Ucap Tiffany hampir berteriak, tidak di sangkanya lelaki itu ada Jonathan.


"Sstttt, jangan kencang-kencang bicaranya. Nanti ketahuan loh," kata Jonathan setengah berbisik. Dia menahan rasa tertawanya saat melihat ekspressi Tiffany tadi.


"Kok Kak Jonathan bisa tahu aku sih? aku kan sudah pake masker dan topi??" Tiffany ikut berbisik


Jonathan berpindah posisi ke sebelah Tiffany sambil berpura-pura memilih Strawberry


"Aku sudah memperhatikanmu sejak kamu celingak- celinguk di dekat tomat tadi, dan topi yang kamu topi sekarang sama dengan topi yang kamu pakai saat ke pulau kan?"

__ADS_1


"Oohhh," Tiffany mengangguk. "Wait!! kalau Kak Jonathan melihatku dari tadi jangan bilang dia melihat aku bersama kak Do Hwan..???" batin Tiffany panik.


"Kamu suka juga dengan strawberry??tadi kamu terlihat bersemangat sekali saat menuju kesini."


"Eh..iya Kak," Tiffany merasa gugup.


Sementara itu Do Hwan yang sudah selesai memilih bahan-bahan untuk pasta, menyadari kalau Tiffany sudah tidak ada di dekatnya. Dia pun menengok kesana kemari mencari pacarnya itu. Dan dia melihat tampak Tiffany sedak berada di tempat strawberry, dia pun tersenyum hendak mendekatinya ,tapi di lihatnya Tiffany sedang mengobrol dengan Pria di sampingnya karena sesekali Tiffany menonggak menatap wajah pria yang juga bermasker.


"Siapa pria itu??" guman Do Hwan. Ingin sekali dia kesana dan segera mengajak Tiffany pergi, tapi dia juga tidak ingin ada yang curiga dengan mereka.


"Kamu hanya datang buat belanja strawberry?" Jonathan masih bertanya


"Iya kak."


"Pantas kamu gak bawa troli, kamu sendirian ato bersama teman??"


"Sendiri kak...," jawab Tiffany sambil menggigit bibirnya. "Duh, kak Do Hwan mana ya??" batinnya, dan sudut matanya melihat Do Hwan yang sedang berdiri seperti sedang memandanginya. Merasa bahwa Tiffany melihatnya Do Hwan memberikan kode bahwa dia akan menunggu Tiffany di mobil. Tiffany menganggukan kepalanya.


"Mmm, Kak Jonathan, aku duluan yaah," pamit Tiffany.


"Oh ok,sampai jumpa yaaa!!"


Tiffany pun pergi sambil melambaikan tangannya pada Jonathan.


"Katanya dia datang mau beli Strawberry, tapi dia pergi tanpa membawa apapun." Jonathan berguman sambil melihat kepergian Tiffany.


*******


Tiffany bergegas masuk ke mobil dan menarik nafas lega saat dia sudah berada di samping Do Hwan.


"Siapa tadi?"


"Ah,Kak Jonathan," jawab Tiffany sambil mengatur nafasnya.


"Jonathan Kim??"


"Iya."


"Kalian cukup akrab ya?? sampai-sampai dia bisa mengenalimu?"


"Yah, aku juga gak tahu."


Do Hwan menatap gadis di sampingnya yang sedang menyeka keringatnya dengan Tissue. Dia pun mencondongkan tubuhnya ke arah Tiffany, meraih seat belt dan memasangkannya. Tiffany hanya diam saja, dan "cup" sebuah ciuman ringan mendarat di bibir Tiffany yang langsung mematung karena kaget.


Do Hwan segera kembali ke posisinya dan kemudian menjalankan mobilnya menuju apartemen miliknya.

__ADS_1


Mereka berdiam diri sepanjang perjalanan. Tiffany masih kaget dengan ciuman tadi, sementara Do Hwan masih sedikit kesal saat melihat Tiffany bersama Jonathan.


__ADS_2