When We Were In Love ( A Secret Love)

When We Were In Love ( A Secret Love)
Episode 20


__ADS_3

Jonathan menatap wajah Tiffany yang terlelap. Wajahnya tampak kuyu dan pucat. Matanya bengkak setelah menangis cukup lama. Hatinya ikut sakit melihat keadaan Tiffany seperti sekarang.


" Aku janji, aku tidak akan pernah membiarkanmu sendiri Tiffany dan menanggung semua dukamu sendiri." Dia mengecup dahi Tiffany pelan.


*****


Do Hwan duduk di lantai rumahnya, penampilannya begitu kacau. Dia melihat liontin yang ada di genggaman tangannya. Gadis yang begitu di cintainya telah pergi meninggalkannya, dan itu semua karena dia adalah pengecut. Terbayang wajah Tiffany yang begitu pucat saat menemuinya. Do Hwan ingin sekali memeluknya, bersandar di bahunya.


"Tingtong!!"


Seseorang membunyikan bel rumah. Do Hwan tidak menanggapinya. Pikirannya benar -benar kacau saat ini, dia tidak berniat bicara ataupun menerima tamu. Yang dia butuhkan hanya waktu untuk sendiri.


"Tingtong!!"


Belnya kembali berbunyi dan Do Hwan tetap tidak bergerak sama sekali. Ponselnya pun berbunyi, Dia melihat nama pemanggil " Edward" .


"Ada apa??"


"Yaa Kang Do Hwan!!! buka pintumu. Aku sudah hampir keram berdiri di muka pintumu dan kau tidak mau membukanya??!" cerocos Edward.


Do Hwan menutup teleponnya dan membukakan pintu untuk Edward.


Begitu mendengar pintu di buka Edward segera menyelonong masuk.


"Cuma sendiri??"


"Kau pikir aku tega memperlihatkan sisi jelekmu pada yang lainnya." Edward memperhatikan penampilan Do Hwan yang hancur.


"Kenapa kamu seperti ini Kang Do Hwan? aku pikir jadian dengan Irene tidak sehoror itu."


Do Hwan tidak menanggapi komentar Edward, dia kembali ke posisinya semula.


"Apa kau tidak mau cerita padaku?" Edward sudah bersahabat dengan Do Hwan lama, bahkan semenjak mereka belum debut karena dulu mereka adalah tetangga.


"Gak."


"Yaaa!!! Kang Do Hwan, ada apa sebenarnya?? cerita padaku, siapa tahu aku bisa bantu."


Do Hwan masih tetap membisu. Edward mencari cara agar bisa memancing Do Hwan bicara. Dia kemudian menatap benda yang ada di genggaman Do Hwan.


"Sepertinya aku pernah lihat kalung itu, tapi dimana ya?" Edward memutar otaknya mencoba mengingat.


"Itu bukannya kalung Tiffany??apa jangan-jangan..."


" Heiii Kang Do Hwan, apa kamu pacaran dengan Tiffany?" Edward langsung ikut duduk di lantai menghadap kepada Do Hwan.


"Sampai tadi pagi dia masih pacarku, tapi sore ini dia melepaskanku." kata Do Hwan sendu. Sementara Edward mulutnya menganga saat mendengar pengakuan Do Hwan. Bagaimana bisa dia tidak mengetahuinya.


Akhirnya Edward mengerti alur cerita mengapa Do Hwan seperti sekarang. Edward juga sudah mendengar cerita dari Tae Oh dan Jerry tentang foto - foto yang beredar, yang mana foto-foto itu di ambil saat Irene mabuk waktu mereka makan malam bersama.


"Mengapa kamu mengizinkan agensi mengiyakan hubunganmu dengan Irene , jika memang kamu pacaran dengan Tiffany??"

__ADS_1


Do Hwan kembali bungkam, dia tidak ingin ada yang tahu soal ancaman Irene.


"Apa kau sudah menceritakan yang sebenarnya pada Tiff?"


"Sudah, tapi dia tidak mau mendengarkanku." Do Hwan terdengar putus asa


"Aku mengerti perasaan Tiffany, nanti akan ku bantu untuk menjelaskannya."


"Benarkah??" Do Hwan menatap Edward penuh harap, dia tahu Edward dekat dengan Tiffany.


"Iya,bagaimana kalau kita kerumahnya sekarang??"


"Apakah tidak apa-apa??"


"Gak apa-apa. Sudah rapikan dirimu sekarang, jangan sampai Tiffany illfeel melihat penampilanmu yang acak-acakan seperti pemabuk."


Do Hwan segera mengganti bajunya, merapikan rambutnya dan bergegas kerumah Tiffany. Tidak lupa di bawanya liontin Tiffany.


"Liontin ini harus kembali kepada pemiliknya!!"


****


Do Hwan dan Edward terpana saat melihat Jonathan yang keluar membukakan pintu untuk mereka di rumah Tiffany.


"Mana Tiffany?? mengapa kamu yang keluar??" Tanya Do Hwan penuh selidik.


"Apa urusanmu??!"


"Aku pikir, urusan kalian sudah selesai, jadi lebih baik kalian pergi saja."


"Hey Kau!!!!" Do Hwan maju hendak menantang Jonathan tapi di cegat Edward .


" Tahan dirimu Kang Do Hwan, jangan bikin onar."


" Begini Jonathan, sepertinya masih ada yang perlu di luruskan oleh Do Hwan pada Tiffany, jadi tolong biarkan Do Hwan bertemu dengannya."


Jonathan menatap Edward.


"Maaf Edward, tapi Tiffany sedang tidur , dia demam sejak kemarin."


"Apa ??!! Tiffany sakit??? izinkan aku masuk, aku harus melihat keadaanya." Marah Do Hwan kini berganti jadi khawatir.


"Gak bisa, dia sedang tidur, nanti kau akan membangunkannya."


"Apa kau pengawalnya?? mengapa kau melarang aku bertemu dengannya??"


"Aku peduli dengan Tiffany."


"Ngggg Jonathan, bisakah kita bicara di dalam, karena tidak enak diluar seperti ini, nanti di lihat orang." Edward berbisik pada Jonathan yang melihat sekitarnya.


Jonathan kemudian membuka pintu lebar sehingga Do Hwan dan Edward bisa masuk.

__ADS_1


"Mana Tiffany??" tanya Do Hwan.


" Dikamarnya."


"Tolong Izinkan aku melihatnya, aku janji tidak akan membangunkannya."


Jonathan tampak berpikir, " tapi janji, jangan bangunkan dia."


Do Hwan tersenyum berterima kasih, dia perlahan membuka pintu kamar Tiffany.


Hatinya terasa perih melihat kondisi Tiffany. Wajahnya benar-benar pucat. Dia melihat ada obat-obatan di meja samping ranjang Tiffany.


"Jadi kamu sakit sayang, kenapa tidak memberitahu aku??" Do Hwan tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuh Tiffany. Rasa rindu yang teramat sangat menyerang dirinya. Ingin di peluknya gadis yang tengah terlelap itu. Di pandangi wajah itu sepuas-puasnya.


"Sudah cukup, ayo keluar" Jonathan menyentuh bahu Do Hwan. Dengan berat hati Do Hwan keluar.


"Bagaimana keadaan Tiffany?" Edward yang menunggu di ruang tamu ikut khawatir.


"Dia sedang tidur."


"Sebaiknya kalian pulang saja."


"Tidak, aku akan tinggal disini sampai Tiffany bangun."


Jonathan mendelik mendengar perkataan Do Hwan.


"Tidak bisa, kau harus pergi."


"Apa hakmu melarangku haa??!!!!"


" Yaa Kang Do Hwan, pelankan suaramu." Edward menarik baju Do Hwan.


"Kamu sendiri apa hakmu untuk tetap tinggal disini, bukankah kamu sudah menyakiti Tiffany?? apa kamu belum puas melihat dia seperti ini??" Jonathan menatap tajam kearah Do Hwan.


"Aku pacarnya, jadi aku punya hak untuk disini menemani Tiffany."


Jonathan tersenyum sinis mendengarnya. "Apa ?? pacar?? ooh pacar yang berselingkuh dengan mantan juniornya di Agensi?? pacar yang membuat gadis seperti Tiffany menangis?? pacar yang menyembunyikan hubungan dengan Tiffany tapi malah mengakui hubungan dengan selingkuhannya di depan umum??? apa itu yang kamu maksud dengan pacar??"


Do Hwan terdiam mendengarnya, dia mengatupkan rahangnya.


"Jika kau tidak bisa membuatnya bahagia, lebih baik lepaskan dia dari genggamanmu untuk pria yang lebih baik darimu, jika kau berkeras genggamanmu hanya akan terus menyakitinya."


"Maaf Jonathan, tapi sepertinya kau sudah keterlaluan. Ini hanya salah paham antara Do Hwan dan Tiffany." Edward yang sejak tadi hanya menonton adegan tatap-tatapan antara Do Hwan dan Jonathan buka suara.


"Tidak, aku tidak keterlaluan. Dia yang keterlaluan. Dan kamu bilang salah paham??? salah paham seperti apa yang di konfirmasi langsung oleh agensinya? jangan siksa Tiffany lagi dengan cerita cinta palsu, dia terlalu baik untuk di perlakukan seperti ini."


Do Hwan tertunduk lesu. " Ayo Edward, kita pergi." Do Hwan melangkah keluar.


"Tapi,kan Do Hwan....." Edward akhirnya mengikuti Do Hwan keluar dari rumah Tiffany.


"Kenapa kau pergi begitu saja ??"

__ADS_1


"Dia benar Edward, aku memang tidak cukup baik untuk berada disamping Tiffany. "


__ADS_2